Loading...

SISTEM TANAM PADI TANPA OLAH TANAH (TOT) DAPAT ATASI KRISIS AIR

SISTEM TANAM PADI TANPA OLAH TANAH (TOT)  DAPAT ATASI KRISIS AIR
Berbagai upaya yang dilakukan patani dalam mengoptimalkan usaha tanaman padi, sehingga dapat meningkatkan produktivitas usaha tani, dengan mensiasati kondisi lingkungan yang sering tidak menentu, sehingga usaha tani dapat berjalan secara berkelanjutan. Salah satu faktor produksi yang sering menjadi masalah dalam budidaya tanaman padi adalah tersedianya air irigasi. Tersedianya air ini sangat tergantung dengan musim, namun musim saat ini sangat sulit diramalkan, sehingga ketersediaan air sering menjadi masalah dalam usaha tani tanaman padi. Salah satu teknologi yang direkomendasikan dalam budidaya tanaman padi terutama pada daerah yang terbatas persediaan air irigasinya, adalah budidaya tanaman padi tanpa melakukan pengolahan tanah (TOT). Saat ini teknologi TOT telah dikembangkan secara terpadu, seperti penggunaan herbisida dalam mengendalikan perkembangan gulma. Teknologi ini memiliki beberapa keunggulan antara lain : (1). Menekan biaya, karena tidak dilakukan pengolahan tanah sama sekali. (2). Menghemat kebutuhan air, karena tidak ada pengolahan lahan yang biasanya membutuhkan air yang banyak. (3). Menghemat tenaga kerja, (4). Meningkatkan IP, dan (5). Hasil panen minimal sama dengan sistim olah tanah sempurna. Hal inilah yang menyebabkan beberapa petani di wilayah Subak Babakan Anyar Tempek Betenan, Desa Mambang Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, menerapkan teknologi TOT. Karena Wilayah Subak tersebut memiliki keterbatasan air saat musim tanam April /September, dimana curah hujan sudah mulai menurun. Adapun langkah-langkah dalam budidaya tanaman padi secara TOT adalah sebagai berikut : Setelah panen padi, dengan air yang tersedia petani segera membuat pesemaian sebagaimana layaknya pesemaian biasa, sedangkan lahan sawah segera dikeringkan. Seminggu kemudian dilakukan pengendalian gulma pada lahan sawah dengan menggunakan herbisida kontak, seperti Gramoksone, Polaris dan sejenisnya. Setelah 3-4 hari kemudian lakukan pembabatan sisa jerami, atau dengan cara merebahkannya agar rata dengan permukaan tanah. Setelah rata, masukkan air dengan ketinggian 2-5 cm, dan bila tanahnya lembek pembenaman sisa jerami dilakukan, tapi bila tanahnya keras hal ini tidak perlu dilakukan. Biarkan lahan tetap terendam air agar tanah menjadi lembek, dan proses pembusukan sisa jerami menjadi lebih cepat. Penanaman dilakukan setelah benih berumur 12 – 15 hari dipesemaian, dengan jarak tanam 25 X 25 cm bila menggunakan sistim tegel, atau dapat juga menggunakan sistim tanam jajar legowo 2 : 1 dengan jarak tanam 25 X 12,5 X 40 cm, dengan 3-5 batang per rumpun. Pemupukan berimbang dilakukan dengan dosis 200 kg Urea, 300 kg NPK dan 500 kg Pupuk Organik/ha lahan sawah, sedang waktu pemupukan sebagai berikut : Aplikasi pupuk organik dilakukan sehari sebelum tanam sebagai pupuk dasar. Pemupukan I dilakukan 1-7 hst, dengan dosis 150 kg NPK, dan 50 kg Urea. Pupuk Susulan II dilakukan umur 21 hst, dengan dosis 150 kg NPK, dan 100 kg urea. Dan pemupukan susulan ke III dilakukan umur 40 hst dengan dosis 50 kg Urea. Perawatan selanjutnya dilakukan sebagaimana layaknya padi pengolahan lahan sempurna. Sistim tanam Padi tanpa olah tanah (TOT) kini sudah mulai merambah ke subak-subak lain di Kecamatan Selemadeg Timur, terutama subak yang memiliki kondisi lahan kritis air di musim tanam April/September. Seperti Subak Penarukan, Subak Aseman III, Subak Begawan Kaja, dll. Namun luasannya belum signifikan dan masih dilakukan secara individu. Kedepan Sistim tanpa olah tanah (TOT) ini perlu terus dikembangkan, terutama pada lahan krisis air, dengan mengunakan varitas padi yang tahan kekeringan dan berumur pendek, sehinga peningkatan IP guna mendukung kegiatan UPSUS dapat terwujud. ( I Ketut Sarjawa, SP. BPP Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan Bali).