Loading...

Sistim Pemeliharaan Ayam KUB

Sistim Pemeliharaan Ayam KUB
Sistem pemeliharaan ayam KUB di kandang BPTP NTT dipelihara dengan sistem semi intensif berupa kandang postal. Sistem semi intensif yaitu ternak ayam selain dikandangkan di dalam kandang dengan alas litter berupa tanah, ternak tersebut diumbar di halaman pada pagi hari. Litter merupakan sistem kandang pemeliharaan unggas dengan lantai kandang ditutup oleh bahan penutup lantai seperti, tanah, sekam padi, serutan gergaji, dan jerami padi. Keuntungan sistem ini adalah biaya relatif rendah, menghilangkan bau kotoran, jika litter kering maka pembuangan kotoran lebih mudah dan dapat menahan panas di dalam kandang. Kekurangannya adalah penyebaran penyakit lebih mudah, pengawasan kesehatan lewat kotoran sulit diamati. Keunggulan kandang full litter, antara lain: dapat memelihara semua jenis ayam, mengurangi problem kaki lecet bagi ayam, mengurangi kanibalisme dan biaya investasi awal relatif lebih murah. Kelemahannya: rawan terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan kualitas litter termasuk penyakit coccidiosis, cacing dan lain-lain, rawan terhadap heat stress dan kepadatan kandang per m2 rendah. Selain memperhatikan konstruksi, kandang juga perlu dilengkapi dengan peralatan yang mempermudah pemeliharaan. Bahan-bahan yang digunakan untuk perlengkapan kandang dapat digunakan dengan pertimbangan ekonomis dan aman. Kandang ayam di BPTP NTT menggunakan tempat pakan dan air minum menggunakan dari bahan plastik, kayu, dan bambu. Ayam kampung memiliki kebiasaan alami yaitu bertengger dan mematuk ayam lainnya (kanibal), untuk mengatasi sifat kanibal maka ayam setiap pagi hari diumbar di halaman rumput-rumputan. Selain itu, di dalam kandang juga disiapkan tempat bertengger yang dapat dibuat dengan bahan kayu dan bambu. Ayam fase layer (bertelur) membutuhkan sarang yang digunakan untuk mengeram. Bahan sarang dibuat dari kayu, bambu dan kotak bekas. Sistem pemeliharaan semi intensif memudahkan peternak dalam melakukan manajemen pemeliharaan seperti pengaturan pemberian pakan, waktu produksi dan mempermudah pemanenan telur. Penyusun : Sad Hutomo Pribadi Sumber : Artikel Yanuar Achadri, Dkk. BPTP NTT Sumber gambar :BPTP NTT