Dalam rangka pengembangan produk hilir hortikultura yang berdaya saing, berinovasi teknologi, serta berorientasi pasar dan berbasis sumberdaya lokal, maka pengembangan penanganan pascapanen haruslah dipandang sebagai satu bagian dari suatu sistem secara keseluruhan, dimana setiap mata rantai memiliki peran yang saling terkait. Jamur setelah dipanen masih melakukan aktivitas metabolisme, sehingga jika tidak ditangani dengan segera akan mengakibatkan kerusakan secara biologi, fisik dan kimiawi. Sifat mudah rusak (perishable) dari produk mengakibatkan tingginya susut pascapanen serta terbatasnya masa simpan setelah pemanenan. Dalam upaya mempertahankan mutu dan daya simpan jamur segar, meningkatkan penampilan dan menekan kehilangan/kerusakan jamur yang diiringi dengan peningkatan konsumsinya perlu dilakukan upaya penanganan pascapanen jamur yang mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) baik dan benar sesuai dengan pedoman penanganan pascapanen jamur yang ditetapkan dalam Good Handling Practices (GHP). SOP Penanganan Pascapanen Jamur Tiram Segar. Penyiapan bahan baku segar adalah kegiatan menyiapkan bahan baku jamur tiram segar untuk selanjutnya dilakukan ke proses penanganan. Tujuan penyiapan bahan baku segar adalah untuk mempersiapkan bahan baku segar untuk ditangani lebih lanjut agar tetap segar sampai ke tangan konsumen. Jamur yang disiapkan merupakan jamur tiram yang cukup umur panen, segar dan tidak rusak/busuk, pilih jamur segar yang telah cukup umur yaitu 30 hari sejak inokulasi atau seminggu setelah baglog dibuka atau 2-3 hari setelah munculnya primordia (pinhead/ gerombolan bakal jamur). Letakkan pada tempat yang berlubang agar tidak mudah mengalami perubahan fisik/kimia. SOP Sortasi adalah melakukan pemilahan hasil panen yang baik dari yang rusak atau cacat, yang sehat dari yang sakit dan dari benda asing lainnya, lakukan secara hati-hati agar hasil panen tidak rusak. Sortasi dapat menggunakan alat dan/atau mesin sesuai sifat dan karakteristik jamur.. Tujuan Sortasi awal bertujuan untuk memisahkan jamur-jamur yang cacat dengan yang sehat ke dalam wadah yang terpisah agar tetap mendapatkan aerasi yang baik dan mengurangi kelembaban yang dapat menyebabkan kerusakan jamur. Alat dan bahan yang perlu disiapkan antara lain : pisau, keranjang plastik; wadah plastik;, alat/mesin sortasi wadah sortasi yang digunakan diusahakan jangan terlalu dalam, untuk menghindari penumpukan jamur karena dapat mempercepat proses pembusukan. Prosedur kerja :1. Pisahkan jamur dari kotoran-kotoran lainnya yang terbawa pada saat panen, seperti tanah, pasir, kerikil, daun dan lain-lain; 2. Sortasi awal dapat dilakukan bersamaan dengan pemanenan, agar jamur tiram tetap segar; 3. Pisahkan jamur-jamur yang cacat dengan yang sehat ke dalam wadah yang terpisah agar mendapatkan aerasi yang baik dan mengurangi kelembaban yang dapat menyebabkan kerusakan pada jamur. SOP Pembersihan adalah kegiatan menghilangkan kotoran fisik, kimiawi dan biologis dengan menggunakan alat dan atau mesin sesuai sifat dan karakteristik hasil, yang didalamnya juga mencakup pencucian, perendaman dan pengelapan. Tujuan pembersihan adalah menghilangkan jamur dari kotoran-kotoran lainnya yang menempel pada bagian akar dan buah jamur sehingga daya simpan jamur lebih lama. Alat dan bahan yang disiapkan Antara lain : bak pencucian/ember besar, pisau, kain lap. Informasi pokok pembersihan tidak boleh menggunakan air. Prosedur Kerja :1. Jamur dibersihkan dari kotoran yang menempel pada bagian akar dan buah jamur; 2. Pembersihan dilakukan dengan memotong akar dan pangkal tangkai jamur dengan pisau tajam dan bersih, lalu kotoran, spora dan air media yang menempel pada permukaan tubuh buah dibersihkan. SOP Grading, adalah proses memisahkan jamur berdasarkan ukurannya. Tujuan grading untuk mendapatkan jamur berdasarkan kelasnya. Alat dan bahan siapkan keranjang plastic, grading hanya dilakukan pada jamur yang segar yang langsung dikonsumsi tanpa dilakukan penanganan lanjutan. Prosedur kerja : 1. Jamur yang telah dibersihkan dipisahkan berdasarkan kualitas hasil panen; 2. Pemisahan dilakukan dengan menggunakan parameter antara lain diameter, warna dan kandungan air hingga didapatkan jamur tiram segar Grade A, Grade B, dan Grade C. Tabel 1. Parameter Grade Jamur Tiram No Parameter Grade A Grade B Grade C Diameter Warna 3. Kandungan Air cm Putih bersih Abalon < 20% 5 10 cm Putih bersih Abalon 21 25% < 5 cm Putih bersih Abalon 30%. SOP Pengemasan dan Pelabelan. Pengemasan adalah kegiatan mewadahi dan/atau membungkus produk dengan memakai media/ bahan tertentu untuk melindungi produk dari gangguan faktor luar yang dapat mempengaruhi daya simpan. Pelabelan adalah kegiatan memberikan label pada kemasan yang berisi nama produk, nama produsen, alamat produsen, tanggal pengemasan, tanggal kadaluarsa serta berat bersih. Tujuan utama pengemasan adalah mengemas produk sedemikian rupa sehingga terhindar dari pencemaran atau kotoran lainnya, melindungi produk selama dalam perjalanan dan saat pemasaran, dan mempermudah pengangkutan. Pelabelan bertujuan untuk memberi identitas pada produk yang telah dikemas. Alat dan bahan yang diperluakn : 1. Styroform; 2. Plastik film (wrap plastic), (Polypropylene/PP); 3. Plastik kemas; 4. Spidol; 5. Label; 6. Lakban . Bahan kemasan yang digunakan harus memenuhi kriteria sebagai berikut : a. Mampu melindungi produk dari kerusakan mekanis; b. Tidak mengandung bahan kimia yang menyebabkan perubahan bahan isi, warna, rasa, bau, tidak bersifat racun (toksin) dan kadar air produk; c. Sesuai dengan keinginan konsumen, tidak terlalu berat, praktis, ukuran maupun bentuk kemasan menarik; d. Mampu mencegah penyerapan air atau menghindari kelembaban karena dapat menyebabkan peningkatan kadar air produk; e. Mampu menahan pengaruh cahaya; f. Memiliki daya lindung yang dapat diandalkan; g. Harga terjangkau/ekonomis. Pengemasan dilakukan dengan hati-hati agar jamur tidak hancur; 3. Pelabelan pada kemasan dengan memberikan label jelas pada tiap kemasan yang bertuliskan nama produk, bagian dari tanaman produk yang digunakan, pengemasan, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, metode penyimpanan. Prosedur Kerja Pengemasan dan pelabelan jamur dilakukan sesuai dengan tujuan pasarnya, sebagai berikut : 1. Jamur dimasukkan dalam kemasan styroform, kemudian dibungkus dengan plastik wrap; 2. Setelah dilakukan pengemasan, dilakukan pelabelan produk dengan memberikan stiker/ kertas/plastik untuk memberi identitas produk. SOP Penyimpanan, adalah untuk mempertahankan daya simpan produk jamur sehingga awet dan tahan lama. Tujuan penyimpanan adalah untuk memperpanjang masa penggunaan suatu produk dan mempertahankan daya guna suatu produk. Alat dan bahan yang diperlukan : 1. Wadah tertutup 2. Ruang dengan fasilitas pendingin. Daya simpan jamur sangat dipengaruhi oleh interaksi jenis kemasan, suhu dan waktu penyimpanan. Untuk ekspor dilakukan dengan meletakkan jamur pada wadah penyimpanan yang dilengkapi dengan fasilitas pendingin. Prosedur kerja : 1. Jamur disimpan dalam wadah tertutup pada suhu kamar C, cara ini hanya bertahan selama beberapa jam saja. 2. Penyimpanan jamur segar yang sudah dikemas dalam plastik biasa pada suhu C dapat mempertahankan mutu jamur hingga 3 hari. 3. Penyimpanan jamur yang dikemas dalam styroform yang dibungkus plastik dengan jarak lubang perforasi 4 cm x 4 cm berdiameter 1 mm pada suhu 10 0 C dapat mempertahankan kesegaran jamur hingga 10 hari. 4. Jamur yang dikemas dalam plastik polypropylene 0,33 mm dan disimpan pada suhu pendingin 5 0 C dapat memperpanjang kesegaran jamur selama hari dan jika SOP Penanganan Pascapanen Jamur Tiram disimpan pada suhu 10 0 C hanya bertahan 8 10 hari. Dengan memberikan penyuluhan kepada pelaku usaha komoditas jamur tiram khususnya dalam hal penanganan pasca panennya yang tepat sesuai SOP akan memberikan hasil produksi yang bukan saja tinggi tapi juga memberikan jenis jamur tiram segar yan berkualitas baik sehinga dapat diterima pasar baik pasar dalam negeri maupun luar negeri sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.( Lilik Winarti, Penyuluh Ahli Muda, Pusluhtan) Sumber : Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Hortikultura Direktorat Budidaya Dan Pascapanen Sayuran Dan Tanaman Obat. SOP Penanganan Pasca Panen Jamur Tiram