Loading...

Sorgum Beras Alternatif Tinggi Protein

Sorgum Beras Alternatif Tinggi Protein
Belum banyak yang tahu kalau Indonesia punya sorgum, bijian tinggi protein yang bisa jadi pengganti beras. Beras sorgum bisa dimasak layaknya nasi hingga jadi sajian menggugah selera. Sorgum menempati urutan ke 5 sebagai sumber pangan di dunia setelah beras, jagung, barley dan lainnya (Edible Collaboration Kaum Sorghum) Sorgum berasal dari Afrika, kemudian dibawa ke India, hingga juga dibudidayakan di Indonesia. Beberapa daerah penghasil sorgum di sini adalah Nusa Tenggara Timur dan Demak. Beberapa penelitian mengenai sorgum menyebutkan bahwa nilai gizi sorgum dibanding bahan pangan populer lain di Indonesia yaitu beras, per 100 gram sorgum mengandung 332 kkal, sementara beras 360 kkal. Selain itu dalam 100 gram sorgum juga unggul dalam kandungan protein yaitu 11 gram, kalsium 28 mg, zat besi 44 mg, dan posfor 287 mg. Sementara dari sisi karbohidrat mengandung 73 gram, sedangkan beras 78,9 gram. Sedangkan kandungan gulanya lebih banyak berupa fruktosa dibandingkan glukosa, jadi lebih baik karena menyerupai gula buah sehingga baik dikonsumsi oleh yang ingin menurunkan berat badan maupun bagi penderita diabetes (Prof. Supriyanto/IPB). Tepung biji sorgum juga tak kalah kandungan karbohidratnya jika dibandingkan dengan tepung serealia lainnya. Biji sorgum memiliki tiga kandungan karbohidrat yaitu pati, serat dan gula terlarut yang terdiri dari glukosa, sukrosa, maltosa, dan fruktosa. Sorgum juga memiliki keunggulan mineral seperti Ca, P, Fe dan B1 jika dibandinkan dengan beras. Kandungan pati dan protein pada sorgum hampir setara dengan kandungan pati dan protein pada jagung. Perbedaan yang membuat tepung sorgum kurang diminati adalah tidak adanya kandungan gluten layaknya pada tepung terigu, dimana gluten ini memberikan efek elastisitas pada adonan mie maupun roti. Meskipun sudah diketahui kandungan nutrisi sorgum yang tinggi namun saat ini sorgum belum dapat dimanfaatkan secara optimal dikarenakan sorgum sendiri belum mencapai taraf pengembangan yang memuaskan karena nilai jualnya yang belum potensial sebagaimana layaknya jagung, gandum, dan beras. Potensi dari bagian sorgum lainnya seperti daun, akar, dan tangkai hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak maupun kompos padahal nira dari sorgum memiliki keunggulan jika dibandingkan nira tebu. Nira merupakan cairan manis yang diperoleh dari batang suatu tanaman. Nira pada sorgum dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan gula dan bioetanol, jadi hampir semua bagian dari tanaman sorgum dapat dimanfaatkan. Budidaya Tanaman sorgum termasuk tanaman semusim yang mudah dibudidayakan dan mempunyai kemampuan adaptasi yang luas. Tanaman ini dapat berproduksi tinggi walaupun diusahakan di lahan yang marginal (lahan yang kekurangan air, lahan masam, maupun lahan yang memiliki kandungan garam tinggi) kurang subur, ketersediaan air terbatas, dan masukan (input) yang rendah. Penelitian juga membuktikan sorgum yang ditanam di area pantai bisa tetap tumbuh meski terus menerus tersiram air laut. Ikilm Daerah yang mempunyai curah hujan dan kelembaban udara rendah sesuai untuk tanaman sorgum. Curah hujan 50-100 mm per bulan pada 2,0-2,5 bulan sejak tanam, diikuti dengan periode kering, merupakan curah hujan yang ideal untuk keberhasilan produksi sorgum. Walaupun demikian, tanaman sorgum dapat tumbuh dan menghasilkan dengan baik pada daerah yang curah hujannya tinggi selama fase pertumbuhan hingga panen. Pengolahan Tanah Teknik budidaya sorgum sendiri dimulai dari pengolahan tanah dengan cara dibajak terlebih dahulu kemudian digaru dan diratakan. Lahan harus bersih dari gulma karena pada saat fase pertumbuhan awal sorgum kurang mapu bersaing dengan gulma. Varietas Varietas sorgum sangat beragam, baik dari segi daya hasil, umur panen, dan warna biji) maupun rasa dan kualitas bijinya. Umur panen sorgum berkisar dari genjah (kurang dari 80 hari), sedang (80 – 100 hari), dan dalam (lebih 100 hari). Tinggi batang sorgum tergantung varietas berkisar dari pendek (< 100 cm), sedang (100 – 150 cm), dan tinggi (>150 cm). Tinggi tanaman varietas lokal mencapai 300 cm. Varietas unggul sorgum yang sudah dirilis adalah Sangkur, Mandau, Numbu dan Kawali (Balitsereal (2009). Penanaman, Pemeliharaan dan Perwatan Setelah itu dilanjutkan dengan penanaman, dengan cara ditugal dengan diberi jarak tanam sekitar 75×25 cm atau 75×20 cm dan masing-masing lubang diberi 3 hingga 4 benih tanaman kemudian ditutup dengan tanah ringan. Perawatan perlu dilakukan untuk tanaman sorgum diantaranya pemupukan yang tepat, baik tepat dosis, tepat cara, maupun tepat waktu. Pengairan sangat diperlukan apa bila tanaman mengalami kekeringan. Adapun penyiangan juga diperlukan mengingat pada fase awal pertumbuhan tanaman sorgum kurang mampu bersaing dengan gulma yang ada. Perawatan dari hama penyakitnya juga harus dilakukan, penyakit yang menyerang sorgum salah satunya adalah bercak pada daun dengan hama utamanya adalah ulat daun. Panen dan Pascapanen Panen dapat dilakukan setelah berumur 3-4 bulan setelah tanam tergantung varietas yang ditanam atau berdasrkan ciri visual biji atau setelah lewat masak fisiologis. Cara panen, yaitu hanya perlu memangkas bagian tangkai sekitar 15 cm di bawah bagian biji, setelah itu biji sorgum dikeringkan. Setelah dikira cukup kering, biji sorgum dirontokkan dan disimpan di tempat yang memiliki tingkat kelembaban yang rendah dengan keadaan biji yang kering, besih dan utuh atau tidak pecah. Setelah itu biji sorgum dapat diolah salah satunya adalah dijadian tepung sorgum yang kandungannya tak kalah dengan makanan pokok lainnya. Ruslia Atamaja Sumber : Balitserealia dan Sumber lainnya