Loading...

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMILIHAN DAN PENYIAPAN BENIH BUDIDAYA KAPULAGA

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMILIHAN DAN PENYIAPAN BENIH  BUDIDAYA KAPULAGA
Peningkatan daya saing produk Tanaman Obat mendesak terus dilakukan seiring dengan meningkatnya permintaan produk Tanaman Obat baik dalam bentuk segar maupun sebagai bahan baku industri farmasi dan jamu. Faktor-faktor lain yang menyebabkan pentingnya peningkatan daya saing produk Tanaman Obat tersebut yaitu kepedulian konsumen terhadap keamanan pangan dan aspek lingkungan serta adanya persaingan yang semakin ketat antar negara produsen. Salah satu upaya yang dilakukan adalah perbaikan teknologi budidaya melalui penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya yang berdasar atas norma budidaya yang baik (Good Agriculture Practices/GAP). Tanaman kapulaga (Amomum cardamomum) merupakan salah satu tanaman rempah yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan berprospek cerah. Kapulaga juga sebagai bahan “obat alam” yang diyakini banyak manfaat dan kegunaannya. Di Indonesia dikenal dua jenis kapulaga yaitu kapulaga lokal dari genus Amomum dan kapulaga sabrang dari genus Eletaria. Petani di Indonesia pada umumnya membudidayakan kapulaga lokal, sedangkan kapulaga sabrang belum banyak dibudidayakan. Terdapat 3 jenis kapulaga lokal, yaitu jenis buah putih, buah merah besar dan buah merah kecil (Heyne, 1927 dalam Murnito dan Sunarto, 1970). Kapulaga lokal mengandung minyak atsiri sekitar 2,4% (berupa senyawa aktif sineol, borneol, limonen, dan alfa trepinilasetat), sedangkan kapulaga sabrang memiliki senyawa aktif sineol, borneol, dan limonen antara 3,5 – 7,0 % (Pursebglove et al, 1981). Kegunaan dari kedua genus ini juga tidak berbeda, buah kering kapulaga dimanfaatkan sebagai bahan jamu, maupun diambil minyak atsirinya sebagai bahan penyedap atau pengharum makanan, minuman dan sebagai bahan baku/campuran di dalam industri parfum. Dikutip oleh Hariana, 2005 menyatakan bahwa efek farmakologis yang dimiliki oleh kapulaga diantaranya untuk obat batuk, perut kembung, penurun panas, antitusif, peluruh dahak, dan anti muntah. Dalam usahatani kapulaga kegiatan yang perlu dilakukan adalah yang meliputi : Pemilihan Lokasi, Pemilihan Benih, Penyiapan Benih, Penyiapan Lahan, Penanaman, Pemupukan, Pemeliharaan, Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), Panen, dan Pascapanen. Kegiatan yang penting dilakukan dalam budidaya kapulaga adalah Pemilihan benih dan penyiapan benih. Pemilihan benih adalah kegiatan penentuan dan penyeleksian benih tanaman untuk mendapatkan benih yang sehat dan bermutu. Tujuan pemilihan benih adalah menjamin benih yang terpilih, merupakan benih bermutu, jelas asal usulnya serta jenisnya, sehingga benih dapat tumbuh optimal. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah : 1) Perbanyakan tanaman kapulaga dilakukan dengan cara generatif dan/atau vegetatif; 2) Petani umumnya melakukan perbanyakan tanaman kapulaga dengan cara vegetatif, yaitu dengan stek anakan atau sobekan rumpun tanaman; 3) Perbanyakan dengan menggunakan stek anakan bertunas dicirikan dengan : memiliki daun 4 – 10 helai, terdapat rhizome/rimpang, berakar serta membentuk tunas; 4) Cara memilih stek anakan yang berkualitas, dengan kriteria sebagai berikut : berasal dari jenis unggul (buah besar, berwarna merah), yang teridentifikasi dengan jelas asal-usulnya, merupakan jenis murni yang tidak tercampur, Berasal dari tanaman induk yang sehat, berumur 10-12 bulan dan merupakan anakan sehat berasal dari rhizome berakar yang telah mempunyai daun antara 4-10 helai, Rimpang/rhizome mempunyai 2 - 3 mata tunas, tidak ada gejala penyakit layu bakteri, busuk akar, busuk rimpang, karat daun, bercak daun, nematoda akar, dan hama penggerek rimpang, benih dari tunas induk atau tunas anakan yang sehat , benih tidak cacat fisik (luka, memar, layu, dan lain-lain), dan kulit rimpang tidak keriput/kencang dan tidak mudah terkelupas. Alat dan bahan yang diperlukan dalam pemilihan benih antara lain : Pohon induk kapulaga yang sehat, jenis merah besar dan produksinya tinggi, Pisau bersih dan tajam, Garpu atau skop pencungkil tanah dan akar, Keranjang yang kuat dan bersih, Tali, spidol, bahan label (kertas, plastik dan lain-lain); dan Desinfektan, abu dapur, abu pembakaran tanaman, pasta yang terbuat dari kapur, tali, Prosedur Kerja yan harus dijalankan adalah sebagai berikut : 1) Mencatat asal-usul benih induk, memastikan benih jenis unggul; 2) Memilih tanaman induk yang sehat dan telah berumur 10-12 bulan; 3) Memilih anakan sehat yang berasal dari rhizome berakar dan mempunyai daun antara 4 - 10 helai, serta mempunyai 2 - 3 mata tunas; 4) Memisahkan benih dari induknya dengan garpu atau skop dan memotong rimpang dengan pisau; 5) Menyisakan tanaman induk agar bertunas dan berkembang kembali sehingga bisa menjadi sumber benih baru atau untuk cadangan penyulaman; 6) Menutup luka pada bekas potongan dengan abu dapur, abu pembakaran tanaman, atau pasta yang terbuat dari kapur. Sedangkan untuk benih anakan dapat merendam seluruh rimpang dengan menggunakan desinfektan; 7) Mencatat seluruh aktivitas pemilihan benih . Setelah pemilihan benih dilakukan selanjutnya adalah penyiapan benih. Penyiapan benih adalah kegiatan penyediaan bahan tanaman/ benih yang berkualitas siap untuk ditanam sesuai dengan agroklimat lokasi pengembangan.Tujuan penyiapan benih adalah untuk mendapatkan benih yang sehat dan bermutu tinggi untuk menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah setelah semua persyaratan benih bermutu terpenuhi, benih siap tanam berasal dari tanaman induk sehat, berumur 10-12 bulan yang telah berbuah setiap saat banyak, merupakan anakan yang mempunyai ciri-ciri : anakan yang sehat berasal dari rhizome yang berada dalam tanah, mempunyai daun antara 4-10 helai, tunas berumur ± 3 bulan, tingginya 80 – 100 cm, tunas berhizome yang memiliki akar dan 2 – 3 mata tunas. Alat dan Bahan yan digunakan dalam penyiapan benih antara lain : tunas dari rhizome atau tunas baru, pisau bersih dan tajam, keranjang yang kuat dan bersih, tali, alat tulis dan label. Prosedur Kerja dalam penyiapan benih antara lain : 1) Memilih tunas bermutu yang telah berumur ± 3 bulan dari pohon induk yang telah dipilih, mempunyai 4-10 helai daun dan 2-3 tunas pada rhizomenya; 2) Jika benih dibeli dari pedagang/penangkar, sebaiknya benih kapulaga yang dapat langsung ditanam, hal ini untuk menghindari layu. Benih yang belum ditanam, usahakan disimpan ditempat yang teduh tidak terkena sinar matahari langsung dan aman dari gangguan lainnya; 3) Benih yang tidak bisa segera ditanam dalam jangka waktu cukup lama, sebaiknya disemai di tempat pembenihan khusus atau ditanam dalam polybag yang terlindung dari sinar matahari langsung dan aman dari gangguan lainnya; dan 4) Mencatat semua aktivitas penyiapan benih . Prosedur Kerja yang harus dilakukan meliputi : 1) Mencari informasi riwayat lahan: jenis tanaman dan pola tanam pada sistem budidaya sebelumnya, sumber air bersih/irigasi, pembatas antar lahan (jalan, saluran air, parit, pohon- pohonan, barisan kosong); 2) Mencari data kesesuaian lahan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kapulaga; 3) Mencatat semua aktivitas pemilihan lokasi sesuai dengan. Dengan memberikan penyuluhan kepada pelaku usaha komoditas Kapulaga khususnya dalam hal pemilihan benih dan penyiapan benih kapulaga yang tepat yang sesuai SOP akan memberikan hasil produksi yang bukan saja tinggi tapi juga memberikan jenis kapulaga yang berkualitas baik sehinga dapat diterima pasar baik pasar dalam negeri maupun luar negeri sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Sumber : Kementerian Pertanian Direktorat JeiIderal Hortikultura Direktorat Savuran Dan Tanaman Obat 2019