Loading...

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMILIHAN LOKASI DAN PENYIAPAN LAHAN BUDIDAYA JAHE

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMILIHAN LOKASI DAN PENYIAPAN LAHAN BUDIDAYA JAHE
Peningkatan daya saing produk Tanaman Obat mendesak terus dilakukan seiring dengan meningkatnya permintaan produk Tanaman Obat baik dalam bentuk segar maupun sebagai bahan baku industri farmasi dan jamu. Faktor-faktor lain yang menyebabkan pentingnya peningkatan daya saing produk Tanaman Obat tersebut yaitu kepedulian konsumen terhadap keamanan pangan dan aspek lingkungan serta adanya persaingan yang semakin ketat antar negara produsen. Salah satu upaya yang dilakukan adalah perbaikan teknologi budidaya melalui penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya yang berdasar atas norma budidaya yang baik (Good Agriculture Practices/GAP) dan spesifik lokasi untuk tanaman jahe yang mencakup pemilihan/penetapan lokasi, pemilihan benih, penyemaian benih, penyiapan lahan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan, pengendalian OPT, pemanenan, dan pascapanen dan pengemasan. Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya yang berdasar atas norma budidaya yang baik (Good Agriculture Practices/GAP) salah satu hal yang sangat penting adalah pemilihan lokasi dan penyiapan lahan. Penetapan lokasi merupakan penetapan lokasi usaha tani yang sesuai dengan karakteristik komoditi untuk menghasilkan produksi dan mutu yang optimal. Tujuan pemilihan lokasi untuk mendapatkan lokasi yang cocok untuk budidaya tanaman jahe. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih lokasi penanaman jahe antara lain : 1) calon lokasi pertanaman bukan bekas tanaman rimpang yang sudah ada gejala bakteri, famili solanaceae, kacang- kacangan, pisang-pisangan, atau tanaman inang pembawa penyakit layu; 2) lahan hanya bisa ditanam 2 (dua) kali berturut-turut; 3) lahan bekas terkena penyakit layu dapat diusahakan untuk pertanaman jahe minimal 5 tahun (jika sudah positif/serangan berat penyakit layu); dan 4) lahan dan lokasi usaha tani dan penyimpanan hasil harus terpisah dari lahan dan lokasi yang tidak organik. Disamping itu hal penting lainnya adalah perihal kesesuaian lahan harus memenuhi syarat-syarat antar lain : a) ketinggian: Jahe emprit : 200 – 1000 m dpl; Jahe gajah : 400 – 800 m dpl; Jahe merah : 200 – 600 m dpl; b) Curah hujan tahunan: 1.500 – 3.000 mm; c) Suhu udara: 25 – 37oC (kelembaban sedang); (tergantung jenis jahe); d) pH tanah: 5,0 – 7,0; e) Struktur tanah: subur, gembur, banyak mengandung humus; f) Tekstur tanah: berpasir, liat berpasir dan tanah laterik; g) Kemiringan lahan maksimum 30 % (diikuti konservasi); dan h) Naungan untuk jahe emprit dan jahe merah maksimal 30%. Prosedur kerja yang harus dijalankan untuk mendapatkan lahan yang sesuai meliputi : 1) mencari informasi riwayat lahan: menyangkut jenis tanaman dan pola tanam (terkait dengan intensitas cahaya) pada pertanaman sebelumnya; dan pembatas antara lahan dan lokasi (jalan, saluran air/parit, pohon-pohonan, barisan kosong); 2) Mencari data kesesuaian lahan ( ketinggian, curah hujan tahunan, suhu udara, ph tanah, struktur tanah, tekstur tanah, kemiringan lahan, naungan); dan 3) Mencari informasi sumber air : lokasi bahan saluran air (stainless steel, besi, aluminium, semen); dan bahan sumber air (bahan kontaminan). Setelah ditentukan lokasi lahan yan cocok sesuai SOP selanjutnya adalah menyiapkan lahan adalah rangkaian kegiatan mulai dari membersihkan lahan dari bebatuan, gulma dan sisa-sisa tanaman lain. Tujuannya adalah lahan siap ditanam bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Informasi pokok yang perlu diperhatikan dalam penyiapan lahan siap tanam antara lain : 1) Bersih dari bebatuan, gulma dan sisa-sisa tanaman lain; 2) Lahan gembur; 3) Bedengan tertata rapi; 4) Pada tanah miring, buat guludan dengan jarak tanam sekitar 30x60 cm dan pada tanah datar, dengan lebar bedengan antara 90 – 120 cm, tinggi bedengan sesuai kondisi lahan; 5) Arah bedengan dibuat dengan memperhatikan konservasi lahan. .Adapun prosedur kerja yang perlu diterapkan adalah sebagai berikut : 1) Bersihkan lahan dari bebatuan, gulma dan sisa-sisa tanaman lain; 2) Lakukan pengolahan tanah dengan menggunakan traktor atau cangkul dengan kedalaman sekitar 30 cm; 3) Ratakan tanah dan gemburkan; 4) Pada tanah miring, buat guludan dengan jarak tanam sekitar 30x60 cm; 5) Pada tanah datar, buat bedengan dengan lebar sekitar 90 – 100 cm, tinggi bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan (10 – 30 cm); 6) Buat lubang tanam dengan kedalaman 25-30 cm dan jarak tanam sekitar 30x60 cm; dan 7) Lakukan pemberian pupuk organik/pupuk kndang yang matang ( minimal 0,5 kg/lubang) ke dalam lubang tanam1 minggu sebelum penanaman. ( Lilik winarti, Penyuluh Ahli Muda, Pusluhtan) Sumber : Kementerian Pertanian Direktorat JeiIderal Hortikultura Direktorat Savuran Dan Tanaman Obat 2019