Sawo merupakan buah-buahan yang rasanya manis, menyegarkan dan menyehatkan, hal tersebut karena, sawo mengandung karbo- hidrat terutama adalah glukosa 4,2 gram/100 gram daging buah dan fruktosa 3,8 gram/100 gram daging buah. b) Kesesuaian agroklimat tanaman sawo. Jenis tanah di Nagari Sumpur bertekstur lempung berpasir yang subur, gembur banyak mengan- dung bahan organik, aerasi dan drainasenya baik . Jenis tanah ini disebut latosol. Derajat keasaman (pH) tanah di nagari ini antara 6,0-6,5. Syarat tumbuh tanaman sawo yang baik antara lain : 1) memiliki iklim yang basah sampai kering, 2) berkembang biak pada suhu antara 22-32°C, 3) jenis tanah yang paling baik adalah tanah lempung berpasir (latosol), 4) memiliki derajat keasaman tanah (pH) . yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo adalah antara 6-7. Faktor Internal yang dapat mempengaruhi pengembangan komoditas sawo antara lain : Potensi Sumber daya alam, berbagai Varietas Sawo unggul telah dikenal di setiap wilayah produksi sawo, setiap daerah umumnya memiliki klon unggul masing-masing, akan tetapi pengembangannya masih terbatas sehingga sering tidak dikenal pada tingkat nasional. Pelepasan sawo sebagai varietas unggul, pengembangan secara sistematik dilakukan melalui proses pendaftaran dan pelepasan varietas. Harga sawo. Di tingkat petani bervariasi. Harga sawo sangat bervariasi atau berbeda disebabkan oleh rantai tataniaga yang panjang. Harga sawo ditingkat petani adalah sebesar Rp 4.000/kg sedangkan harga jual sawo ke konsumen Jakarta adalah sebesar Rp 10.000/kg. Pengolahan sawo belum ada. Tanaman sawo merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena masih dapat diolah menjadi produk lanjutan. Tanaman sawo yang biasa dikonsumsi dalam bentuk segar , bisa diolah menjadi bahan penganan seperti es krim, selai, sirup, atau difer- mentasi menjadi anggur atau cuka. Buah Sawo mudah busuk. Seperti produk pertanian lainnya, sawo juga merupakan komoditas yang tidak tahan lama, sehingga beresiko tinggi dalam pemasaran. Faktor Eksternal yang dapat mempengaruhi pengembangan komoditas sawo antara lain : Belum adanya asosiasi tanaman sawo. Asosiasi merupakan suatu wadah yang dapat menyalurkan aspirasi dan juga dapat mengu- atkan posisi dari suatu komoditi. Saat ini asosiasi yang mempunyai komit-men tinggi dalam pengem- bangan sawo belum ada, sehingga menye-babkan petani sawo berjalan sendiri-sendiri dalam semua aktifitasnya mulai dari hulu sampai pada pemasaran. Serangan hama, hama yang sering menyerang adaalah tupai dan kera, hal ini dikarenakan tanaman sawo ini dikelola secara tradisional dan tidak intensif. Adanya persaingan harga, pada waktu musim panen yang bersamaan dengan buah lainnya, akan menyebabkan harga akan bersaing untuk mendapatkan pilihan para komsumen. Beberapa alternatif strategi pengembangan komoditi sawo, alternatif untuk pengembangan komoditas sawo antara lain adalah : 1) Membangun kerjasama dengan industri yang menggunakan bahan baku sawo 2) Menggalakkan kelembagaan untuk mempercepat proses penyampaian dan adopsi Iptek kepada petani. 3) Membuat Kebijakan yang mengatur tata niaga pemasaran sawo 4) Membentuk Forum komunikasi sawo 5) Meningkatkan kerjasama antara semua pihak (petani, dinas pertanian, swasta, perbankan) dalam upaya pengembangan sawo 6) Memberikan pelatihan terpadu bagi petani dan memberikan penyuluhan tentang mutu 7) Meningkatkan peran penyuluh dalam upaya peningkatan hasil dan pembasmian hama Sumber : Yokyakarta : Kanisius. Wali Nagari Sumpur. 2012. Profil Nagari Sumpur. Nagari Sumpur Kabupaten Tanah Datar: Kecamatan Batipuh Selatan. Badan Litbang.2010. Budidaya sawo Analisis Pemasaran Sawo (Achras Zapota , L) Dari nagari Sumpur Kecamatan Batipuh Selatan Kabupaten Tanah Datar ke kota Jakarta (Skripsi). Padang: fakultas pertanian Universitas Andalas 88 Hal. Kelompok Tani Sawah Tanjung. 2008. Penulis : Iman Priyadi, (Penyuluh Pertanian Balai Besar pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian) email : imanpriyadi@yahoo.co.id