Ubijalar merupakan salah satu komoditas bahan pokok strategis selain padi, jagung dan kedelai. Untuk daerah tertentu, ubijalar menjadi makanan pokok dan memiliki arti penting dalam upacara adat. Kandungan nutrisi ubijalar cukup tinggi karena selain sumber karbohidrat juga mengandung vitamin A, B1 dan C sehingga sangat baik untuk perbaikan gizi masyarakat. Diharapkan ke depan ubijalar difungsikan juga sebagai makanan untuk kesehatan (functional food). Dengan semakin beragamnya produk olahan berbahan baku ubijalar telah mendorong ketersediaan komoditas ini baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Selain mengandung karbohidrat yang tinggi dan dapat dijadikan sebagai tanaman diversifikasi pangan pengganti beras, ubijalar juga memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan umbi-umbian yang lain. Diantaranya adalah mengandung betakarotin dan antosianin, dimana unsur tersebut dapat mencegah penyebab kanker. Seperti halnya ubi yang lain, sebagian besar ubijalar dimanfaatkan sebagai bahan pangan secara langsung seperti : direbus, digoreng, dioven, di-juice maupun setelah melalui proses pengolahan berupa : kue basah, kue kering, rerotian, mie, selai dan lain-lain. Sedangkan sebagian lainnya digunakan untuk bahan pakan dan bahan baku industri. Hingga saat ini produktivitas rata-rata ubijalar masih terbilang rendah, jauh dari potensi hasil varietas unggul. Rendahnya produktivitas ubijalar ini antara lain disebabkan oleh: (a). Sebagian besar petani masih menggunakan varietas lokal yang umumnya produktivitasnya rendah, (b). Kualitas bibit yang seringkali kurang baik, (c). sebagian besar diusahakan di lahan kering yang kesuburannya lebih rendah, (d). Pengelolaan tanaman dilakukan secara sederhana. Secara umum, peningkatan produksi ubijalar dapat dilakukan dengan 4 (empat) cara yaitu : 1)melalui peningkatan produktivitas (intensifikasi), terutama pada daerah-daerah sentra produksi yang sudah ada; 2)perluasan areal tanam (ekstensifikasi) ke daerah pengembangan baru di lahan kering dan lahan tidur; 3)Pengamanan produksi serta 4)Peningkatan Manajemen. Secara lengkap dapat dijelaskan berikut ini.1. Intensifikasi. Cara ini dapat dilakukan dengan langkah: a)Varietas unggul baru (VUB). VUB merupakan komponen teknologi produksi yang sangat strategis dalam upaya meningkatkan produksi ubijalar karena berkaitan dengan potensi hasil yang tinggi. Varietas unggul baru yang mempunyai karakter sesuai kebutuhan dan preferensi pengguna juga relatif mudah diterima petani, dan kompatibel dengan komponen teknologi budidaya lain. b)Teknologi Budidaya pendukung. Budidaya pendukung akan membantu masing-masing varietas menghasilkan sesuai dengan potensi hasilnya. Jarak tanam dan pemupukan merupakan komponen teknologi yang paling mendapat perhatian para petani, sebab komponen tersebut selain mudah dipahami dan diterapkan, juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Jarak tanam ubijalar yang sesuai sangat ditentukan antara lain oleh sistem tanam, pola pertumbuhan tanaman dan tingkat kesuburan lahan. Pada tanah yang kurang subur, untuk mendapatkan hasil yang tinggi per satuan luas, ubijalar dapat ditanam dengan jarak tanam yang lebih rapat. Dengan cara ini, meskipun hasil per tanaman lebih sedikit tapi karena populasinya tinggi hasil umbi per satuan luas menjadi lebih tinggi pula. Pemupukan pada tanaman ubijalar juga diperlukan agar diperoleh hasil panen yang tetap tinggi mengingat tanaman ini banyak dibudidayakan pada lahan yang tanahnya mempunyai kesuburan sedang sampai rendah. 2. Ekstensifikasi. Ekstensifikasi dilakukan dengan cara Perluasan Areal Tanam melalui Peningkatan Indeks Pertanaman (PAT-PIP) pada lahan sawah maupun lahan kering. Pada saat sekarang luas panen ubijalar masih relatif sedikit, sementara lahan kering berupa lahan tegalan, lahan ladang maupun yang belum dimanfaatkan di seluruh Indonesia masih sangat luas. Di beberapa daerah sentra produksi ubijalar-pun indeks pertanaman belum optimal dan masih terdapat lahan-lahan tidur yang belum dimanfaatkan untuk pengembangan ubijalar.Selain secara khusus mengembangkan pada lahan baru, peningkatan luas areal tanam ubijalar juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan–lahan pada perkebunan/hutan industri yang tanaman utamanya masih berumur 1-3 tahun. Misalnya, pada perkebunan karet/kelapa sawit muda. Atau, ditanam di bawah naungan hutan jati muda. Selain itu, ubijalar bisa juga ditanam secara tumpangsari dengan tanaman pangan lain. 3. Pengamanan Produksi. Tujuannya untuk mengurangi dampak perubahan iklim seperti kebanjiran dan kekeringan serta pengendalian Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT). Selain itu, pengamanan kualitas produksi serta mengurangi kehilangan hasil pada saat penanganan panen dan pasca panen. 4. Peningkatan Manajemen. Ini dilakukan melalui koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam hal; a) perbaikan sistem perbenihan; b) perbaikan sistem pembiayaan ubijalar; c) pengembangan kawasan food estate, d) perbaikan pengelolaan mekanisasi pertanian; e) penguatan sistem data, e) penumbuhan investasi bidang budidaya ubijalar skala luas; j) penguatan petugas lapangan; k) pembangunan sistem informasi agribisnis secara terpadu dari hulu on-farm dan hilir dalam meningkatkan pengawasan dan pelayanan pada masyarakat; l)pengembangan teknologi agribisnis ubijalar; m) kegiatan pendukung lainnya yang mendorong pencapaian sasaran produksi nasional. Dengan berjalannya secara terpadu ke 4 (empat) langkah tersebut, diharapkan peningkatan produksi ubijalar walaupun perlahan tetapi pasti terus meningkat sekaligus juga mengangkat pendapatan dan kesejahteraan petani beserta keluarganya menjadi lebih baik lagi. (Inang Sariati).Sumber:1. Nasir Saleh, St.A. Rahayuningsih dan M.Muchlis Adie, Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang 2. https://id.wikipedia.org/wiki/Ubi_jalar