Ransum yang seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak merupakan syarat mutlak dihasilkannya produktivitas yang optimal. Penyusunan ransum tidak boleh merugikan peternak, misalnya peningkatan berat badan yang tidak dapat memenuhi target, salah pemberian pakan karena terlalu banyak dalam memperkirakan kandungan nutrien pakan ataupun karena adanya zat anti nutrisi.Terdapat tiga (3) macam metode yang biasa digunakan dalam penyusunan formula ransum yaitu pearson square method, least cost formulation dan trial and error. Pearson square method adalah metode penyusunan pakan yang berasal dari perhitungan 4 macam bahan. Least cost formulation adalah penyusunan ransum ekonomis dengan dasar linear programming. Metode trial and error dapat dilakukan peternak dengan cara mengubah – ubah komposisi (persentase) bahan pakan dalam ransum dengan mempertimbangkan kriteria rasional, ekonomis dan aplikatip. Saat ini telah pula tersedia beberapa software atau program yang dapat digunakan untuk penyusunan formula ransum seperti MIXID atau aplikasi EXCEL. Selanjutnya untuk penyampuran bahan pakan terutama dalam membuat konsentrat, dapat dilakukan secara manual atau dengan menggunakan mesin. C. Metode Pemberian Pakan dan Penyusunan Ransum Sapi Potong. PH rumen harus stabil untuk efisiensi rumen yang maksimum. Jika hewan memakan atau diberi makan konsentrat terlebih dahulu, mereka akan memproduksi sedikit air liur dan oleh karena itu rumen akan lebih asam. Dengan memberi makanan kasar dahulu, ternak sudah akan memproduksi air liur untuk menyeimbangkan porsi konsentrat makanan mereka.Pakan kasar harus dipotong dengan panjang yang benar antara 2,5 dan 3 cm untuk pemamahbiakan yang memadai. Jika panjang potongan terlalu panjang, hewan harus mengunyah lebih banyak untuk memutusnya sehingga menurunkan asupan makan. Jika panjang potongan terlalu pendek, tidak akan merangsang memamah biak. Selain itu pencampuran ransum harus sempurna tanpa gumpalan besar salah satu komponen-terutama ketika memberi makan urea yang dapat berpotensi menjadi racun. Jika ransum tidak tercampur dengan baik, ganti pisau pencampur atau seluruh mixer.Pakan yang sudah lama dan basah akan menumbuhkan jamur, terutama di daerah tropis yang hangat dan lembab. Walaupun kebanyakan jamur mungkin hanya mengurangi asupan, tetapi beberapa dapat menghasilkan mikotoksin yang dapat berakibat fatal. Pemberian pakan untuk sapi potong umumnya diberikan menurut jenis kelamin (jantan atau betina), berat badan, taraf pertumbuhan/status fisiologis (pedet, sapihan, bunting dan lain – lain) serta tingkat produksi, yaitu : 1. Sapi DaraUsaha pembesaran sapi dara di tingkat peternakan rakyat masih belum banyak dilakukan karena dipandang belum menguntungkan dan biayanya mahal. Pemeliharaan sapi dara merupakan bagian penting dalam upaya pengembangan sapi potong karena merupakan calon penghasil bakalan. Peningkatan efisiensi usaha pemeliharaan sapi potong dara perlu dilakukan melalui efisiensi biaya pakan.Perkembangan organ reproduksi terjadi selama masa pertumbuhan sehingga status fisiologis sapi dara harus benar – benar diperhatikan, karena kekurangan gizi dapat menyebabkan tidak berfungsinya ovarium (Matondang et al, 2001) sebaliknya bisa mengalami gangguan reproduksi seperti terjadinya kegagalan kebuntingan dan terjadinya kemajiran bila berat badan sapi meningkat secara berlebihan (Wijono, 1992). Pembesaran sapi dara berhubungan erat dengan efisiensi reproduksi; keberhasilannya tergantung pada pola pemeliharaan yang 95% dipengaruhi oleh pakan, kesehatan dan faktor lingkungan. Menurut Kuswandi et al., (2003) berat badan minimal 250 kg pada waktu kawin pertama jarang tercapai pada umur 15 bulan. Hal tersebut diduga disebabkan oleh rendahnya potensi pertumbuhan calon induk atau kurang terpenuhinya pakan. Terpenuhinya zat nutrisi yang dibutuhkan ternak diharapkan sapi dara akan mengalami pubertas pada umur yang tepat dan pada kondisi yang optimal. Pada kondisi tubuh yang optimal pada saat kawin, diharapkan dapat memperkecil kemungkinan kegagalan perkawinan sehingga yang secara tidak langsung akan memperpendek jarak beranak (calving interval).Menurut Umiyasih et al. (2003) PBBH optimal untuk sapi dara yaitu 0,5 kg/hari dapat tercapai apabila jumlah pemberian bahan kering pakan pada sapi dara adalah 3% dari berat badan. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa konsentrat yang mengandung PK 12% dan TDN sebanyak 60% ideal digunakan sebagai pakan penguat pada sapi potong dara karena selain menghasilkan PBBH yang optimal untuk sapi potong juga menghasilkan nilai ekonomis yang tinggi.Kebutuhan zat nutrien untuk sapi dara dengan bobot badan 300 kg dengan kenaikan berat badan 500 g/hari ditampilkan pada Tabel 1.Tabel 1. Kebutuhan zat nutrien sapi dara BB 300 kg.BB(kg) PBBH BK (kg) TDN(kg) PK(g) Ca(g) P(g)300 0.5 7,1 3.8 423 14 14 Berdasarkan kebutuhan zat nutrient, bahan pakan penyusun ransum yang dsesuai adalah jerami padi, dedak halus kampung dan bungkil kelapa. Konsumsi jerami padi dibatasi 1,33 % berat badan. Selanjutnya dilakukan perhitungan kandungan zat – zat makanan dan dibandingkan dengan kebutuhan zat nutrien (Tabel 2). Tabel 2. Perbandingan kebutuhan zat nutrien dengan yang tersedia oleh bahan pakan.Uraian BK (kg) TDN (kg) PK (g) Ca PJerami padi 4 2,4 96 8 3Dedak halus 2,06 1,25 130 14 31Bungkil kelapa 1,05 0,82 209 3 7Jumlah 7,11 4,47 435 25 41Kebutuhan 7,1 3.8 423 14 14 Perbandingan Ca : P yang ideal adalah 1 : 1. Untuk mencapai perbandingan tersebut, maka di dalam ransum harus ditambahkan kalsium karbonat (CaCO3). Sumber CaCO3yang mudah di dapat adalah dolomit atau kapur. CaCO3 mengandug Ca 36%. Untuk mencapai keseimbangan tersebut, maka di dalam ransum harus ditambahkan kapur sebanyak : (41 – 25)/ 0,36 = 44,44 gram.Untuk perhitungan susunan ransum sapi dara dalam bentuk segar adalah sebagai berikut :- Jerami padi = (100/60) x 4 kg = 6,67 kg- Dedak halus = (100/86) x 2,06 = 2,44 kg- bungkil kelapa = (100/86) x 1,05 = 1,22 kg 2. Sapi Induk Bunting Muda Kebutuhan pakan sapi bunting diperlukan untuk pembentukan jaringan-jaringan baru seperti janin, membrana janin, pembesaran uterus dan perkembangan glandula mammary (kelenjar susu). Namun standart pemberian pakan untuk sapi bunting hanya untuk 1/3 masa kebuntingan terakhir, sedangkan pada masa kebuntingan sebelumnya dapat menggunakan standar pakan untuk kebutuhan pokok sapi dewasa biasa (Tillmanet al., 1998). Sapi betina muda yang bunting juga masih mengalami pertumbuhan badan, sehingga pemberian pakan harus menjamin tercukupinya kebutuhan untuk pertumbuhan jaringan selama terjadi kebuntingan dan pertumbuhan induk semangnya (Tillman et al., 1998). Kebutuhan karbohidrat selama kebuntingan sangat besar, karena dibutuhkan energi dalam jumlah besar. Kebutuhan mineral terbanyak pada saat terjadinya kebuntingan adalah kalsium dan fosfor karena dibutuhkan untuk pembentukan tulang janin. Pemberian pakan pada ternak ruminansia harus menjamin pemenuhan kebutuhan vitamin A dan D. Sapi bunting membutuhkan juga pemenuhan kebutuhan vitamin A sebagai cadangan selama laktasi nantinya. Penggunaan dedak sebagai pakan penguat pada sapi induk bunting muda sebanyak 2 % berat badan berdasarkan kebutuhan bahan kering dengan penambahan suplemen yang mengandung kalsium, fosfat dan vitamin ADEK dapat menghasilkan PBBH 0,7 kg dan perbandingan keuntungan- biaya produksi B/C yang tinggi yaitu 2,7. 3. Sapi Induk Bunting Tua Hingga Laktasi. Sistem pemeliharaan pada peternakan rakyat yang intensif dikandangkan menyebabkan jumlah pakan yang dikonsumsi sangat tergantung pada pakan yang tersedia di kandang. Affandhy et al. (2003) menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara jumlah pakan yang tersedia dengan jumlah tenaga kerja keluarga. Pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan ternak tetapi sesuai dengan kemampuan peternak merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas.Rendahnya kualitas ransum dalam tiga bulan awal setelah beranak; khususnya protein kasar (PK) yang hanya sekitar 50 – 65% dari kebutuhan merupakan penyebab tidak optimalnya lama waktu periode birahi setelah melahirkan( anoestrus post partus). Sedangkankekurangan BK dan TDN ini mengakibatkan terjadinya penurunan berat induk yang sedang laktasi rata-rata sebesar 0,36 kg/ekor serta tidak mampu meningkatkan berat pedet. Oleh sebab itu, pemanfaatan sumber pakan asal biomass lokal disertai dengan teknologi peningkatan nilai nutrien, misalnya melalui suplementasi merupakan alternatif pilihan. Suplementasi dengan menggunakan daun tanaman leguminosa pohon dan semak selama dua bulan pertama setelah beranak merupakan salah satu alternatif untuk memperpendek periode APP (Yusran et al., 1998). 4. Sapi Jantan. Ransum sapi yang digemukkan ditujukan untuk membentuk daging dan lemak badan. Untuk itu ransum harus mengandung protein dan energi yang memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan, pemeliharaan tubuh serta dan pembentukan lemak. Penggemukan oleh perusahaan swasta, dilakukan tergantung daerah dan persediaan bahan pakan serta musim. Di Indonesia, peternak membeli sapi – sapi jantan muda yang beratnya kurang 200 kg. Penggemukan dilakukan 5-6 bulan menggunakan sistem kereman. Pakan yang diberikan berupa rumput dan konsentrat yang terdiri dari campuran dedak dan ubi kayu yang diparut. Keuntungan lain yang diperoleh dari penggemukan sistem kereman adalah berupa pupuk kandang.Penggemukan oleh perusahaan swasta dilakukan tergantung daerah dan persediaan bahan pakan serta musim. Sistem penggemukan tersebut adalah :a. Penggemukan di Padang Rumput (Pasture Fattenning).Penggemukan pada sistem ini dilakukan dengan jalan menggembalakan di padang rumput (pastura) yang luas. Padang rumput biasanya merupakan campuran antara rumput dengan leguminosa. Kualitas rumput dari padang rumput harus berkualitas tinggi sehingga tidak perlu ditambahan konsentrat. Penggemukan yang menggunakan sistem ini dapat dilakukan didaerah – daerah yang mempunyai padang rumput yang luas seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tenggara. Padang rumput harus selalu dipelihara dengan melakukan tata laksana penggembalaan yang baik yaitu dengan menentukan kapasitas daya tampung sehingga tidak terjadi over grazing. Penggemukan di padang rumput biasanya berumur 2 tahun dengan lama penggemukan 6 – 8 bulan. b. Penggemukan dengan Pakan Kering (Dry Lot Fattening).Penggemukan pada sistem ini mengutamakan pemberian pakan biji-bijian seperti jagung, limbah pengolahan minyak (bungkil) dan konsentrat. Pemberian pakan pada sistem ini disebut dry lot feeding. c. Kombinasi Antara Dry Lot Fattening dan Pasture Fattening.Penggemukan sistem ini dilakukan di daerah tropis pada musim kering. Pada permulaan musim kering di mana padang rumput masih hijau, sapi digembalakan di padang rumput kemudian pada akhir musim kering penggemukan dilakukan dengan cara dry lot fattening. Sapi jantan dengan BB 300 kg dengan PBBH 1 kg membutuhkan zat – zat makanan tertera pada Tabel 3. Tabel 3. Kebutuhan zat nutrien sapi jantan BB 300 kg dengan PBBH 1 kg Uraian BK(Kg) PK(g) TDN(kg) Ca(g) P(g)Kebutuhan zat nutrien sapi jantan dengan berat badan 300 kg PBBH 1 kg 7,6 535 5,2 21 18Berdasarkan kebutuhan zat nutrient maka bahan pakan penyusun ransum adalah jerami padi, dedak halus kampung, gaplek dan bungkil kelapa. Konsumsi BK adalah 3% berdasar berat badan. Imbangan hijauan dan konsentrat adalah 20 : 80, penggunaan bungkil kelapa dibatasi 10% dari konsentrat. Jika dibandingkan dengan kebutuhannya (Tabel 4). Tabel 4. Perbandingan kebutuhan zat nutrien dengan yang tersedia oleh bahan pakan.Uraian BK (kg) TDN(kg) DP (g) Ca PJerami padi 1,80 1,06 40,00 3,78 1,44Dedak halus 3,14 1,90 200,00 20,00 50,00Bungkil kelapa 1,44 0,95 310,00 4,32 9,65Gaplek 1,22 0,84 20,00 1,22 0,49Jumlah 7,60 4,75 570,00 29,32 61,58Kebutuhan 7,60 5,2 535 21 18Selisih 0 -0,45 +35 +8,32 43,58 Untuk mengatasi kekurangan energi (TDN) sebesar 0,45 kg, bisa digunakan molases atau tetes. Tetes mengandung BK 66 % dan TDN 96%. Jadi kekurangan TDN sebesar 0,45 kg (450 g) terdapat dalam tetes sebanyak = (450/ 96) x 100 g = 469 gPerbandingan Ca : P yang ideal adalah 1 : 1. Untuk mencapai perbandingan tersebut, maka di dalam ransum harus ditambahkan CaCO3. Sumber CaCO3 yang mudah di dapat adalah dolomit atau kapur. CaCO3 mengandung Ca 36%. Untuk mencapai keseimbangan tersebut, maka ditambahkan kapur sebanyak :(61,58 –29,32)/ 0,36 = 89,61 gramPerhitungan susunan ransum sapi jantan dalam bentuk segar adalah sebagai berikut :- Jerami padi = (100/60) x 1,8 kg = 3,12 kg- Dedak halus = (100/86) x 3,14 = 3,64 kg- Bungkil kelapa = (100/86) x 1,44 = 1,67 kg- Gaplek = (100/86) x 1,22 = 1,42 kg- Tetes = (100/66) x 469 = 712,9 g Ditulis Kembali : Dani Medinovianto Sumber : veterinaryblg