Penerapan manajemen penetasan meliputi koleksi telur tetas dari hasil panen, penyimpanan, penetasan, pembalikan telur, dan pengamatan suhu kelembaban (37°C-38.5°C dan 60%-70%). Telur hasil panen dari kandang sebelum penetasan dilakukan proses seleksi. Proses seleksi telur ayam KUB di BPTP NTT memiliki standar operasional prosedur (SOP). Standar telur ayam KUB yang masuk untuk ditetaskan antara lain; telur dengan berat 40 gram – 52 gram, telur tidak abnormal, telur tidak retak, telur yang diambil dari kotak pengeraman/ tidak di litter tanah, telur tidak dalam kondisi kotor, telur umur penyimpanan maksimal 6 hari. Ada beberapa kriteria seleksi telur tetas yang harus dipenuhi dalam kegiatan penetasan yaitu ukuran telur, warna dan bentuk telur, kualitas kerabang, dan kualitas bagian dalam telur. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya peningkatan daya tetas. Ukuran telur tetas berhubungan dengan daya tetas. Telur tetas yang terlalu besar atau kecil, tidak dapat menetas dengan baik. Telur yang terlalu besar memungkinkan terdapatnya kuning telur ganda (double yolks), sedangkan yang terlalu kecil tidak dapat di simpan dalam rak mesin tetas dan dapat menghasilkan anak yang kecil. Telur yang berukuran terlalu besar atau kecil dalam kelompoknya, daya tetasnya kurang baik (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Bentuk telur tetas normal yaitu oval. Telur yang berbentuk oval memiliki perbandingan antara garis melintang (lebar) dan garis membujur (panjang) sekitar 2:3. Telur bentuk oval memiliki daya tetas yang tinggi dibandingkan telur yang berbentuk lonjong atau bulat (Rashid et al., 2013). Hal ini ada kaitannya dengan kemudahan menentukan bagian ujung tumpul telur sehingga posisi peletakan telur selama diinkubasi di dalam mesin tetas tidak salah, yaitu ujung tumpul di bagian atas. Bentuk telur yang abnormal umumnya tidak baik untuk ditetaskan. Telur tetas dengan keadaan kerabang yang porus, tipis, berlapis, dan pengapurannya tidak merata tidak baik untuk ditetaskan. Ketebalan kerabang sangat menentukan daya tetas. Kualitas kerabang telur tetas dipengaruhi oleh faktor genetik, ransum, temperatur lingkungan dan kesehatan. Suhu yang baik untuk penetasan adalah 37,8°C, dengan kisaran 37,2°C sampai 38,2°C (Hodgetts, 2000). Pada suhu ini akan dihasilkan daya tetas yang optimum. Temperatur dan kelembaban merupakan faktor penting untuk perkembangan embrio. Temperatur yang terlalu tinggi akan menyebabkan kematian embrio ataupun abnormalitas embrio, sedangkan kelembaban mempengaruhi pertumbuhan normal dari embrio. Penyimpanan telur tetas sebelum diinkubasi merupakan hal yang biasa dilakukan dengan tujuan untuk memaksimalkan kapasitas tampung mesin tetas. Telur tetas memiliki batas waktu tertentu dalam masa penyimpanan yaitu tidak lebih dari 7 hari. Penyimpanan telur tetas yang lebih dari 7 hari dapat menyebabkan penuruna daya tetas (Suryadi et al., 2018). Faktor yang mempengaruhi daya tetas telur antara lain kualitas telur, serta lama penyimpanan telur yang akan ditetaskan (King’ori, 2011). Fertilitas dan daya tetas telur dipengaruhi oleh : umur kawin pertama, pengaturan penetasan, dan perkawinan kembali. Ayam KUB memiliki sifat mengeram rendah sehingga lama waktu mengeram lebih singkat dibandingkan ayam kampung biasa, untuk itu penetasan telur dianjurkan dengan menggunakan mesin tetas. Setelah telur menetas DOC diseleksi kembali untuk mendapatkan keturunan dengan kualitas baik. DOC yang diseleksi memiliki ciri-ciri: a.) Tidak cacat: kaki segar (tidak kering), struktur normal, dubur bersih, perut puput dan kering, b.) Bobot DOC minimum 27 gram/ekor (Hayanti, 2014). Penyusun : Sad Hutomo Pribadi Sumber : Artikel Yanuar Achadri, Dkk. BPTP NTT. Sumber gambar :Balitnak