Kabupaten Nunukan secara admistrasif merupakan serambi terdepan dengan negara tetangga Sabah Malaysia, hampir semua sektor kehidupan sangat di pengaruhi oleh negara tetangga Malaysia termasuk sosial, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Sebagian besar penduduk kabupaten Nunukan hidup dari sektor pertanian baik tanaman pangan, hortikultira, perkebunan dan perikanan khusunya budidaya rumput laut. Sejak munculnya rumput laut di wilayah ini sekitar akhir tahun 2017 lalu petani yang sebelumya bersawah mereka beralih propesi menjadi petani rumput laut karena secara ekonomis budidaya rumput laut jauh lebih menuntungkan dibandingkan dengan bersawah, komoditas kelapa sawit demikian juga halnya dan sudah menjadi komoditas primadona dan andalan petani di wilayah binaan kami. Hamparan sawah sekarang hanya ditumbuhi semak belukar dan tak tak terurus lagi ironisnya bahkan ada sudah beberapa sawah sudah di tanami kelapa sawit dan hal ini tidak bisa di biarkan arus ada regulasi yang jelas tentang alih fungsi lahan sawah. Peran penyuluh pertanian lapangan (PPL) sangat penting dalam mengedukasi para petani agar tetap bersawah karena ketahanan pangan harus di perjuangkan dan dipertahankan apalagi saat ini terjadi krisis global, perubahan iklim yang tidak menentu, BBM naik, pupuk dan pestisida serta herbisida yang sangat mahal, pupuk subsidipun saat ini hanya untuk sembilan komoditas saja dan ini menjadi pemicuh dan memperparah keadaan. PPL harus bisa menjelaskan dan memberikan pengertian kepada para petani bahaya yang bisa terjadi kalau terjadi krisis pangan. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah dengan bersawah dengan sistim tabela ( tanam benih langsung) dengan tabela dapat menghemat tenaga, biaya dan waktu. Tanam benih langsung tidak perlu lagi membuat persemaian, cabut bibit, pemindahan bibit dan penanaman yang membutuhkan tenaga, waktu dan biaya, agar sawah tetap hidup campur tangan pemerintah diharapkan tetap memberika bantuan berupa alat dan mesin pertanian, mekanisasi serta sarana dan prasarana pertanian lainnya. Tanam benih lansung dengan atabela (alat tanam benih langsung) sangat sederhana dan murah. Tanam benih langsung denga alat tanam benih langsung untuk satu hektar dengan dua atabela dan 4 orang dapat menyelesaikan 3 -4 jam, bila dibandingkan dengan tanam pindah untuk satu hektar dengan 10 orang bisa sampai dua hari, kekurangan dari sistim tabela adalah boros benih, dimakan burung, pertumbuhan gulma yang cepat dan resiko hanyut jika baru selesai di tabela langsung hujan lebat. Penulis, M. Ramli,SP / PPL Wil. Liang Bunyu