Pupuk sebagai sumber hara merupakan sarana produksi yang memegang peranan penting dalam menunjang peningkatan produktivitas tanaman pangan, khususnya padi. Total kebutuhan pupuk di sektor pertanian 85% digunakan petani untuk meningkatkan produksi padi, terutama di lahan sawah irigasi (Adiningsing at al.1989) .Pemanfaatan kandungan fosfat tanah merupakan strategi terbaik untuk mempertahankan produktivitas lahan dan meningkatkan efesiensi pemupukan. Agar tanah tetap produktif hendaknya pemupukan mengikuti prinsip bahwa jumlah hara yang diberikan berupa pupuk cukup untuk menutupi defisit antara hara yang diperlukan tanaman dengan kemampuan tanah mensuplai hara. Agar pemupukan lebih efesien, penetapan jumlah pupuk yang diberikan perlu memperhatikan target hasil yang akan diperoleh dan status hara dalam tanah.Metode yang direkomendasikan untuk menjadi pedoman dalam menetapkan dosis pupuk P pada tanaman padi sawah adalah : a) berdarakan analisis tanah, b) penggunaan perangkat uji tanah sawah (PUTS/Soil test Kit), c) hasil uji pupuk melalui petak omisi. Metoda ini saling komplementer, dapat digunakan salah satu atau lebih, karena hasilnya saling melengkapi.Pengelolaan P memerlukan strategi jangka panjang, karena sifatnya yang tidak mobil, sehingga P tidak mudah tersedia bagi tanaman dan tidak mudah hilang dari tanah. Dengan demikian cara pengelolaan hara P menjadi lebih kompleks dan perlu mempertimbangkan hal sebagi berikut : (1) Perubahan ketersesiaan hara P alami dalam tanah. Hal ini terkait dengan penentuan takaran pupuk P yang perlu ditambahkan untuk mencapai keseimbangan hara dalam tanah. (2) Pengaruh penimbunan hara di tanah akibat dari pemberian pupuk P secara intensif dan terus menerus. (3) Pemeliharaan tingkat kesuburan dan status hara P tanah pada level optimal, sehingga mampu mencukupi kebutuhan dan tidak menimbulkan kahat hara lain, seperti N dan ZN pada tanaman padi.Fosfor (P) merupakan unsur penting yang secara langsung berperan dalam proses transfer dan penyimpanan energi maupun kegiatan yang terkait dengan proses metabolisme tanaman. Hara P sangat diperlukan tanaman padi terutama pada awal pertumbuhan, memacu pertumbuhan akar dan jumlah anakan, mempercepat pembungaan dan pemasakan bulir.Geja Kahat P• Pertumbuhan vegetatif tanaman terhambat• Daun menyempit, kecil, sangat kaku, dan berwarna hijau gelap• Batang kurus, sering timbul warna keunguan, sehingga tanaman menjadi kerdil• Jumlah gabah hampa meningkat, menurunkan bobot dan kualitas gabah, dan pemasakan terhambat• Keadaan kahat P yang parah, tanaman padi tidak dapat berbungaPengambilan P oleh tanaman dari tanah cukup rendah, hanya 2,6 kg untuk setiap ton hasil padi, atau setara dengan 41,7 kg P2O5/musim atau 116 kg SP36/musim. Praktek pemupukan TSP/SP36 yang berlebihan sering berakibat penimbunan hara P. Gejala ini sering terjadi pada lahan sawah yang dikelola secara intensif dan selalu menggunakan pupuk. Hasil penelitian pemupukan jangka panjang menunjukkan bahwa pemberian 25 kg P/ha/musim dapat meningkatkan hara dari 26,9 mg menjadi 31,1 mg/kg P2O5. Timbunan P sebesar ini dapat dimanfaatkan selama 4-7 kali musim tanam. Dengan demikian tanaman tidak selalu membutuhkan P setiap musim tanam, karena dalam tanah masih tersdia cukup P, sehingga pemberian pupuk P pada setiap musim merupakan pemborosan.Penetapan Rekomendasi Pemupukan FosfatSalah satu masalah yang perlu diketahui adalah sebagian P dalam tanah maupun jumlah P yang ditambahkan sering terjadi pada keadaan yang tidak tersedia bagi tanaman, meskipun keadaan tanahnya sangat baik.Beberapa metoda yang sering digunakan sebagai penduga berapa besarnya potensi kandungan hara dalam tanah antara lain melalui :1. Analisis Kimia TanahAdalah cara untuk menentukan status hara dalam tanah sebagai dasar penyusunan rekomendasi pemupukan yang dilakukan di laboratorium meliputi studi korelasi, studi kalibrasi, dan penyusunan rekomendasi.2. Perangkat Uji Tanah Sawah (Soil Test Kit)Perangkat uji tanah sawah (PUTS) merupakan alat analisis kimia yang sederhana, tepat, mudah, dan relatif akurat untuk menentukan unsur pH nitrat (NO3+), amonium (NH4-), fosfor (P), dan kalium (K).Penetapan kebutuhan P dengan menggunakan PUTS dilakukan melalui beberapa tahap : (1), ambil 0,5 g atau 0,5 ml contoh tanah sawah dengan jarum suntik, kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi, (2) tambahkan 3 ml pereaksi P1, (3) tambahkan 1 sendok kecil pereaksi P2 dan kocok hingga larut, (4) larutan didiamkan selama kurang lebih 10 menit sehingga tanah akan mengendap, dan (5) membandingkan warna yang tampak pada cairan, kemudian membandingkan dengan bagan warna standar untuk menentukan status P tanah, rendah, sedang atau tinggi.Berdasarkan ketiga katagori status P di atas dapat ditetapkan rekomendasi takaran pupuk SP36 untuk tanaman padi sawah sebagai berikut : (1) apabila status P rendah, maka rekomendasi pupuk SP36 yang diberikan adalah 100 kg/ha, sedang 75 kg/ha, dan 50 kg/ha untuk status tinggi. Seluruh pupuk P diberikan sebagai pupuk dasar bersamaan dengan pemupukan N pertama.3. Penilaian Berdasrkan Petak OmisiPetak omisi atau penetapan berdasrkan penilaian tanggap tanaman terhadap pemupukan. Hasil panen pada petak omisi dapat digunakan sebagai penduga besarnya cadangan hara di tanah sawah tanpa harus melakukan analisis tanah. Pasokan hara yang berasal dari tanah, air, sisa tanaman dan bahan organik lain tercermin dari hasil panen petak omisi, yang selanjutnya disebut dengan kemampuan suplai hara alami. Besarnya suplai P alami tanah identik dengan potensi penyediaan cadanagan P yang diperlukan sebagai dasar penentapan rekomendasi pemupukan.Ruslia AtmajaSumber : Puslitbang Tanaman Pangan-Badanlitbang Pertanian