Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/ graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan munculnya cabang anakan pada beberapa genotipe dan lingkungan tertentu. Batang jagung terdiri atas buku dan ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan satu sama lain. Bunga jantan terletak pada bagian terpisah pada satu tanaman sehingga lazim terjadi penyerbukan silang. Jagung merupakan tanaman hari pendek, jumlah daunnya ditentukan pada saat inisiasi bunga jantan, dan dikendalikan oleh genotipe, lama penyinaran, dan suhu. Secara umum jagung mempunyai pola pertumbuhan yang sama, namun interval waktu antar tahap pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang dapat berbeda. Pertumbuhan jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu: 1) fase perkecambahan, saat proses imbibisi air yang ditandai dengan pembengkakan biji sampai dengan sebelum munculnya daun pertama; 2) fase pertumbuhan vegetatif, yaitu fase mulai munculnya daun pertama yang terbuka sempurna sampai tasseling dan sebelum keluarnya bunga betina (silking), fase ini diidentifiksi dengan jumlah daun yang terbentuk; 3) fase reproduktif, yaitu fase pertumbuhan setelah silking sampai masak fisiologis. Jagung sangat disukai oleh ternak, memenuhi syarat sebagai sumber energi, mudah disimpan, mudah diproduksi secara besar-besaran, mudah digunakan bersama bahan makanan lain, dan jagung kuning merupakan sumber karoten yang baik. Kekurangan dari jagung adalah defisien akan kandungan protein, sehingga harus selalu digunakan bersama dengan sumber protein seperti bungkil-bungkilan atau hijauan leguminosa. (parakkasi,1999).1. Biji Jagung. Pemberian jagung bertongkol pada ternak yang baru menggunakan konsentrat sebagai sumber energy lebih aman karena hewan tidak akan mengalami over-heat yang dapat menurunkan nafsu makan. Setelah semua makan konsentrat dapat diganti dengan jagung biji. Akan tetapi biji jagung yang tanpa digiling dapat lolos tanpa dicerna/utuh bersama komponen feses lainnya.2. Jerami jagung. Jerami jagung sebagai pakan ternak ruminansia banyak digunakan terutama sebagai pengganti sumber serat atau menggantikan 50% dari rumput atau hijauan. Penggunaan jerami jagung harus diimbangi dengan pemberian konsentrat, sehingga kebutuhan ternak dapat terpenuhi. Formulasi ransum ternak ruminansia sebaiknya berdasarkan bahan kering, karena bahan-bahan penyusun ransum terutama hijauan/limbah pertanian mengandung kadar air tinggi dan sangat bervariasi. 3. Tongkol Jagung. Tongkol jagung memiliki kandungan serat kasar yang tinggi, rendah akan kandungan protein kasar, mineral, vitamin, dan tidak memiliki karoten, sehingga dalam pemanfaatannya perlu disuplementasi dengan bahan pakan sumber protein, energi dan mineral agar dapat memenuhi kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan ternak ruminansia. Agar dapat dimanfaatkan secara baik dan efisien. Menurut Parakkasi (1999) tongkol jagung bersifat sebagai hijauan dan dapat memenuhi kebutuhan minimal hijauan untuk sapid an kerbau yang digemukkan, atau dengan adanya tongkol tersebut. Hanya memerlukan penambahan hijauan 50% dari kebutuhan hijauan bila menggunakan biji jagung sebagai sumber energi penggemukan.4. Klobot Jagung. Salah satu limbah tanaman jagung adalah klobot jagung yang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia. Selainitu kulit jagung atau klobot dapat dijadikan bahan utama bioethanol. Klobot mengandung 2 jenis gula yaitu glukosa dan silosa yang diperoleh dengan merebas awal lalu dihidrolisis. Selanjutnya biarkan ragi roti Saccharomyces cerevisiae bekerja, hasilnya adalah 20% etanol. Kolobot jagung selain berfungsi sebagai makanan ternak juga berfungsi sebagai pelindung biji jagung dan tongkol, untuk mempertahankan kesegaran sehingga tidak akan terlampau keras untuk dikunyah oleh ternak, bersama dengan tongkol bersifat sebagai hijauan, oleh karena itu buah jagung lengkap lebih disukai disbanding dengan biji jagung. Limbah tanaman jagung juga dapat dimanfaatkan untuk pakan, tetapi hanya untuk ternak ruminansia karena tingginya kandungan serat. Jerami jagung merupakan bahan pakan penting untuk sapi pada saat rumput sulit diperoleh, terutama pada musim kemarau. Jerami jagung yang diawetkan dengan pengeringan matahari menghasilkan hay dan disimpan oleh petani untuk persediaan pakan sapi pada musim kemarau. Dengan berkembangnya usaha penggemukan sapi impor atau berkembangnya industri sapi perah, seluruh tanaman jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan. Jagung ditanam secara khusus untuk menggantikan rumput. Tanaman jagung pada umur tertentu, terutama ketika bulir mulai tumbuh, mempunyai nilai gizi yang tinggi untuk sapi. Pemanfaatan limbah jagung sebagai bahan pakan ternak, maka perlu suatu rekomendasi penggunaan limbah jagung dalam susunan pakan lengkap. Sebagai contoh di buat dua formula ransum dengan kriteria sebagai berikut :Formula 1: Kebutuhan zat makanan sapi potong yang sedang bertumbuh dan digemukkan (konsentrat dalam bahan kering) berat badan (180 kg), PBB (0,9 kg/hari). Protein kasar (12,59%) dan RDN (66,54%), menggunakan jerami jagung dan jagung giling.Formula 2: Kebutuhan zat makanan sapi potong yang sedang bertumbuh dan digemukkan (konsentrat dalam bahan kering) berat badan (180 kg), PBB (0,6 kg /hari), Protein kasar (11,79%) dan TDN (62,20 %), menggunakan tongkol jagung dan jagung giling. (Suwarna- Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber :1. Sukria dan Krisnan, 2009. Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia, IPB Press.2. http://belajaratr.blogspot.co.id/2015/10/jagung-untuk-pakan-ternak.html