Loading...

Tanaman Refugia Sebagai Alternatif Pengendalian Alami Organisme Pengganggu Tumbuhan (opt)

Tanaman Refugia Sebagai Alternatif Pengendalian Alami Organisme Pengganggu Tumbuhan (opt)
Latar Belakang Dewasa ini petani cenderung menggunakan pestisida sintetis secara berlebihan, berharap serangan OPT segera berkurang atau musnah. Usaha pengendalian hama tersebut semata-mata hanya ditujukan untuk memusnahkan organisme pengganggu tanaman, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah ekologi seperti keseimbangan dan kestabilan ekosistem. Oleh karena itu cara pengendalian hama semacam ini harus segera ditinggalkan dan beralih ke konsep pengelolaan hama yang berwawasan ekologi. Kurangnya pengetahuan masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan akibat penggunaan bahan kimia, mendorong para peneliti di bidang pertanian untuk mengembangkan teknik pengendalian OPT yang berbasis lingkungan, dan diharapkan tetap menjaga kelestarian agroekosistem di lapangan, dengan merunut kepada prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT menitikberatkan pemanfaatan berbagai teknik pengendalian yang dikombinasikan dalam satu kesatuan program, sehingga dicapai keuntungan ekonomi yang maksimal, dan memberikan dampak yang aman bagi pekerja, konsumen dan lingkungan hidup. Secara prinsip, berbagai cara pengendalian diterapkan harus secara teknis efektif dan dapat diterapkan, secara ekonomi menguntungkan, secara ekologi aman dan secara sosial budaya dapat diterima. Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam seperti pemanfaatan tanaman pinggir atau ada yang menyebutnya dengan tanaman perangkap, dapat mendorong stabilitas ekosistem sehingga populasi hama dapat ditekan dan berada dalam kesetimbangannya. Jenis tanaman pinggir yang dipilih harus mempunyai fungsi ganda yaitu, disamping sebagai penghalang masuknya hamake pertanaman pokok, juga sebagai tanaman refugia yang berfungsi untuk berlindung sementara dan penyedia tepung sari untuk makanan alternatif predator, jika mangsa utama populasinya rendah atau tidak ada di pertanaman pokok. Teknik bercocok tanam seperti penanaman tanaman pinggir dapat mendorong konservasi musuh alami seperti predator. Deskripsi Tanaman Refugia dan Jenisnya Tanaman Refugia Menurut para ahli definisi refugia adalah pertanaman beberapa jenis tumbuhan yang dapat menyediakan tempat perlindungan, sumber pakan atau sumberdaya yang lain bagi musuh alami seperti predator dan parasitoid ((Pertiwi 2014)). Refugia berfungsi sebagai mikrohabitat yang diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam usaha konservasi musuh alami. Dengan kata lain, bahwa refugia adalah tumbuhan (baik tanaman maupun gulma) yang tumbuh disekitar tanaman yang dibudidayakan, yang berpotensi sebagai mikrohabitat bagi musuh alami (baik predator maupun parasitoid), agar pelestarian musuh alami tercipta dengan baik. Bagi musuh alami, tanaman refugia ini memiliki banyak manfaat diantaranya adalah sebagai sumber nektar bagi musuh alami sebelum adanya populasi hama di pertanaman.Suatu konsep pemecahan masalah yang dapat diterapkan dalam pengendalian hama adalah dengan cara menanam tanaman yang digunakan sebagai refugia sehingga konservasi predator dapat terus terjaga. Jenis- jenis tanaman yang berpotensi sebagai refugia Tanaman hias Beberapa penelitian menyebutkan jenis tanaman hias yang berpotensi sebagai refugia antara lain bunga matahari (Helianthus annuus), bunga kertas zinnia (Zinnia peruviana), (Zinnia acerosa), (Zinnia bicolor), (Zinnia grandiflora), (Zinnia elegans), kenikir (Cosmos caudatus) dll. Gulma Gulma yang selama ini terkesan sebagai tanaman pengganggu ternyata bisa dijadikan refugia. Terutama yang berasal dari famili asteraceae seperti babadotan (Ageratum conyzoides), Ajeran (Bidens pilosa L.), Bunga tahi ayam (Tagetes erecta). Tumbuhan liar yang ditanam atau yang tumbuh sendiri di areal pertanaman Tumbuhan liar yang sengaja ditanam atau tumbuh dengan sendirinya di area pertanaman antara lain, bunga legetan(Synedrella nodiflora), pegagan (Centella asiatica), rumput setaria (Setaria sp.), rumput kancing ungu (Borreria repens), dan kacang hias atau kacang pentoi (Arachis pentoi). Sayuran Sayuran yang berpotensi sebagai refugia sekaligus bahan pangan antara lain kacang panjang (Vigna unguiculata ssp. sesquipedalis), bayam (Amaranthus spp.) Syarat Menanam Tanaman Refugia Tanaman yang dijadikan sebagai refugia sebaiknya dipilih yang memenuhi kriteria antara lain: Pilih tanaman yang memiliki bunga dan warna yang mencolok, Regenerasi tanaman cepat dan berkelanjutan, Benih atau Bibit mudah diperoleh, Mudah ditanam Dapat ditumpangsarikan dengan tanaman pematang lain. Manfaat Menanam Tanaman Refugia Serangga musuh alami seringkali memerlukan tempat berlindung sementara sebelum menemukan inang atau mangsanya.Penanaman tanaman di pinggir lahan dapat dilakukan untuk memenuhi hal tersebut.Selain bertujuan untuk mendapatkan hasil produksi sampingan, penanaman tanaman di pinggir lahan dapat berfungsi sebagai sumber makanan bagi imago baik parasitoid maupun predator dan tempat berlindung berlindung sementara. Menurut Wahyuni et al.(2013), Tumbuhan berbunga yang dijadikan tanaman refugia diharapkan dapat menjadi tempat perlindungan serta sebagai penyedia pakan bagi predator dari hama tanaman padi. Makanan yang didapatkan predator dari tumbuhan berbunga adalah madu dan nektar dari bunga serta serangga hama yang bersembunyi pada tumbuhan tersebut. Di samping itu, predator juga dapat menemukan mangsa yang bersembunyi di tumbuhan berbunga tersebut. Sehingga predator dapat dengan mudah memangsa mangsanya. Keberagaman fauna karena adanya tanaman berbunga (refugia) akan menyebabkan terbentuknya ekosistem yang lebih stabil, yang pada gilirannya akan menjaga terjadinya keseimbangan komponen ekosistem. Kehadiran tumbuhan berbunga dengan demikian sangat penting untuk melestarikan populasi musuh alami di suatu ekosistem seperti agroekosistem. Manipulasi habitat dapat dilakukan dengan menanam tumbuhan berbunga (insectary plant) yang berfungsi sebagai sumber pakan, inang/mangsa alternatif, dan refugia bagi musuh alami. Tumbuhan atau gulma berbunga yang berperan penting dalam konservasi musuh alami ini umumnya berasal dari famili Umbelliferae, Leguminosae, dan Compositae. Dengan kata lain manfaat dari menanam tanaman refugia di area pertanaman pokok antara lain : - Mikrohabitat yang diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam usaha konservasi musuh alami, - Sumber nektar atau pakan bagi musuh alami sebelum adanya populasi hama di pertanaman, - Terciptanya agroekosistem yang seimbang, dimana jumlah hama yang ada dapat ditekan oleh keberadaan musuh alaminya, sehingga tidak menimbulkan kerugian secara ekonomi (di bawah ambang batas ekonomi). Hal yang Harus Diperhatikan dalam Menanam Tanaman Refugia Mengingat peran dari serangga musuh alami yang menguntungkan untuk membantu pengendalian hama dan penyakit ini, maka perlu ada usaha konservasi musuh alami dengan menanam tanaman refugia bersamaan atau mendahului tanaman utama. Menurut Purwantiningsih et al. (2012) sebaiknya tanaman refugia ditanam sebelum tanaman utama agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dan berkembang biak bagi musuh alami dan serangga pollinator yang berperan dalam polinasi yaitu perantara penyerbukan tanaman. Refugia cocok ditanam di pematang sawah.Diusahakan agar penanaman refugia sejajar dengan sinar matahari sehingga tidak menutupi atau mengganggu penyerapan sinar matahari bagi tanaman utama. Selain itu pengolahan lahan dan pemupukan yang tepat sangat dianjurkan agar tanaman refugia tumbuh sesuai yang diharapkan. Penerapan Tanaman Refugia Berdasarkan penelitian Pujiastuti et al. (2015), penggunaan tanaman refugia berupa tanaman kacang panjang dan jagung pada plot tanaman padi pasang surut menunjukkan kelimpahan jumlah serangga herbivora yang di dapat pada subplot dengan tanaman refugia lebih rendah dibandingkan dengan tanaman padi yang tanpa refugia, baik pada vase vegetatif dan generatif. Penelitian lebih lanjut menunjukkan, bahwa jumlah hama di lahan padi konvensional lebih tinggi dibandingkan jumlah predator di lahan tersebut. Sedangkan jumlah hama di lahan organik lebih rendah dari predatornya. Tingginya jumlah predator pada lahan organik ini dikarenakan lahan organik memiliki keragaman tumbuhan berbunga yang lebih tinggi dibandingkan keragaman tumbuhan berbunga lahan konvensional.Predator mendatangi tumbuhan berbunga untuk berlindung maupun mendapatkan makanan. Keberagaman fauna karena adanya tanaman berbunga akan menyebabkan terbentuknya ekosistem yang lebih stabil, yang pada gilirannya akan menjaga terjadinya keseimbangan komponen ekosistem. Kehadiran tumbuhan berbunga dengan demikian sangat penting untuk melestarikan populasi musuh alami di suatu ekosistem seperti agroekosistem. Daftar Pustaka [Astuti 2013] Astuti, U.P.; Tri Wahyuni; Bunaiyah Honorita. 2013. Petunjuk Teknis Pembuatan Pestisida Nabati. Bengkulu. Balai Pengkajian Teknologi Bengkulu. [Mahmud. T 2006] Mahmud, Taufiq. 2006. Identifikasi Serangga di sekitar Tumbuhan Kangkungan (Ipomoeas crassicaulis RooB).Skripsi.Universitas Islam Negeri Malang. [Pujiastuti et al. 2015] Pujiastuti Y, H.W.S.Weni, Abu U. 2015. “Peran Tanaman Refugia terhadap Kelimpahan Serangga Herbivora pada Tanaman Padi Pasang Surut”.Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal (8-9 Oktober 2015). [Purwantiningsih et al. 2012] Purwantiningsih B, Amin S.L, Bagyo Y. 2012. “Kajian Komposisi Serangga Polinator pada Tumbuhan Penutup Tanah di Poncokusumo Malang”. Jurnal Hayati : 17 (165-172). [Wahyuni et al. 2013] Wahyuni R, Wijayanti R, Supriyadi. 2013. “Peningkatan keragaman tumbuhan berbunga sebagai daya tarik predator hama padi”. Journal of Agronomy Research2(5): 40-46.