Reky Simamora*) Pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya dari tumbuhan. Pestisida nabati dimasukkan ke dalam kelompok pestisida biokimia karena mengandung biotoksin. Pestisida biokimia adalah bahan yang terjadi secara alami dapat mengendalikan hama dengan mekanisme non toksik. Secara evolusi tumbuhan telah mengembangkan bahan kimia sebagai alat pertahanan alami terhadap pengganggunya. Tumbuhan mengandung banyak bahan kimia yang merupakan metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat pertahanan dari serangan organisme pengganggu (Pradikta, A.A, 2017). Walaupun pengaruh pestisida nabati bagi keberadaan musuh alami belum banyak diketahui namun Idris, H dan Nurmansyah (2018) telah mengatakan bahwa pestisida nabati sebagai alternatif untuk mengendalikan hama yang relatif aman bagi lingkungan. Idris, H dan Nurmansyah (2018) Menjelaskan Cara Aplikasi Pestisida Nabati dengan Minyak Kayu Manis dan Serai Wangi sebagai Pengendali Hama Penggulung Daun Nilam (Pachyzancla stultalis) Perlakuan formula yang diuji yaitu Pesnab KM 40 (mengandung 40 % minyak kayumanis) dan Pesnab SW 50 (mengandung 50 % minyak seraiwangi), insektisida sintetik (Deltametrin 25EC konsentrasi sesuai anjuran) sebagai pembanding dan kontrol (tanpa insektisida). Metode pembuatan formula mengacu pada Asman et al. (1999) serta Wang dan Liu (2007). Benih nilam dalam polibag disusun pada plot berukuran 5 m x 6 m. Jumlah tanaman per plot sebanyak 24 tanaman dengan jara tanam 0,8 m x 1 m. Pupuk dasar N, P dan K diberikan sebelum penanaman dengan dosis 20 g Urea, 20 g SP-36 dan 15 g KCl per lubang tanam. Penyulaman dilakukan apabila terdapat tanaman yang mati sampai 15 hari setelah tanam. Penyiangan gulma dilakukan setiap bulan. Aplikasi pestisida nabati dilakukan melalui penyemprotan pada seluruh bagian tanaman dengan kosentrasi 20 ml/l air. Aplikasi dilakukan sebanyak tiga kali dengan interval satu kali setiap tiga minggu. Aplikasi pertama dilakukan pada bulan ke 2 setelah tanam ketika terlihat adanya serangan hama penggulung daun.Pengamatan dilakukan setiap minggu, satu hari setelah aplikasi penyemprotan pada 10 tanaman sampel yang diambil secara diagonal. Parameter yang diamati adalah kepadatan populasi larva (populasi serangga setiap gulungan daun), daya efikasi dan intensitas serangan. Dari penelitian Idris, H dan Nurmansyah (2018) diperoleh hasil bahwa Pestisida nabati berbahan baku minyak kayumanis (Pesnab KM 40) memiliki keefektifan yang lebih tinggi dibandingkan kontrol dan pestisida nabati berbahan baku minyak seraiwangi namun sama dengan pestisida sintetis dalam menanggulangi serangan larva hama penggulung daun nilam Pacyzancla stultalis. Bobot terna, rendemen, kadar minyak dan kandungan patchouli alkohol (PA) nilam dengan perlakuan pestisida nabati berbahan dasar minyak kayu manis 40 % tidak berbeda nyata dengan pestisida sintetis, namun lebih tinggi dibandingkan kontrol. Komponen penyusun minyak nilam seperti alfa pinene, beta pinene, limonen, copaene, karyophylen, guanen, allo-aromadrene dan gurjunen tidak berbeda antara perlakuan dan kontrol. Pestisida nabati berbahan baku minyak kayumanis dapat menggantikan penggunaan pestisida sintetis dalam menanggulangi serangan larva hama penggulung daun nilam P. stultalis. *) Penyadur adalah Penyuluh Pertanian pada BPP Kembang Kuning di Dinas Pertanian Kabupaten Tabalong