Loading...

TATA NIAGA DAN KUALITAS EKSPOR COKELAT

TATA NIAGA DAN KUALITAS EKSPOR COKELAT
Setelah pola pengembangan diarahkan dengan pola swadaya yang memanfaatkan dana dari APBD, serta pengembangan secara spontan dari petani. Kemudian, diintrodusir pengembangan cokelat melalui PIR, dan kelompok tani. PTP ditugasi menjadi menjadi inti bagi PIR cokelat untuk menggarap areal pertanaman yang seluruhnya diarahkan untuk mengembangkan cokelat jenis bulk (bulk cacao). Dengan pola pengembangan seperti ini diharapkan produksi cokelat Indonesia akan meningkat tajam, di antaranya 80% adalah cokelat bilk atau cokelat jenis hibrida dan 20% lagi adalah cokelat mulia (edel cacao). Dari segi perbaikan mutu, strategi pengembangan ini akan sangat berperan, karena akan memperpendek jalur tataniaga yang biasanya panjang dan melibatkan banyak pedagang, sehingga mutu sulit diawasi. Harga cokelat merupakan aspek yang kompleks, karena banyak faktor yang saling mempengaruhi terbentuknya harga. Selama ini, faktor pasokan cokelatrelatif paling berpengaruh terhadap terbentuknya tingkat harga, disamping faktor permintaan. Penyebabnya, beberapa kontrak pembelian, pengiriman, dan tingkat harga sudah disetujui satu tahun sebelumnya. Dengan demikian, bila pada tahun yang bersangkutan mengalami penurunan produksi akibat faktor iklim, hama, penyakit, eksportir akan panik jika tidak mampu memenuhi volume kontraknya. Cokelat adalah komoditi ekspor yang mana permintaan yang naik secara dratis tidak dapat disuplai segera oleh produsen. Jadi, diperlukan waktu untuk memenuhi permintaan tersebut. Kemudian yang patut diperhitungkan juga adalah elastisitas permintaan cokelat dalam negeri terhadap pendapatan konsumen yang cukup tinggi. Semakin meningkat pendapatan penduduk Indonesia di masa datang, semakin besar kemungkinan mengkonsumsi cokelat. Saat ini cokelat belum dikonsumsi masyarakat secara umum, tetapi baru terbatas untuk golongan berpenghasilan tinggi. Selama ini orientasi pasar cokelat Indonesia selalu pasar tradisional. Indonesia belum mempunyai asosiasi eksportir cokelat tinggi Internasional. Akibatnya, pasar London yang berharga jauh lebih tinggi, cokelat Indonesia kalah bersaing. Mutu cokelat rakyat ternyata masih cukup rendah. Padahal bila dilihat dari segi jumlah adalah yang terbesar, sehingga masalah mutu cokelat pun menjadi faktor paling menonjol dan menjadi kendala utama dalam skala nasional. Selain dalam bentuk biji, volume ekspor cokelat juga mulai tampak dalam bentuk hasil olahan seperti bubuk dan mentega. Data telah menunjukkan bahwa nilai ekspor dalam bentuk olahan menyumbang sekitar 20% dari total nilai ekspor. Saat ini ada ada dua jenis tanaman coklat yang dikembangkan di Indonesia, yakni edel kakao (cokelat murni) dan bulk kakao. Edel kakao yang didalam perdagangan lebih dikenal dengan sebutan flavor cacao karena kegunaannya dalam industri cokelat lebih berpern sebgai bahan pencampur untuk memberi aroma yang dalam industri cokelat digunakan sebagai bahan baku. Edel kakao atau cokelat mulia ini memang memiliki beberapa kelebihan dari bulk cacao. Aromanya lebih semerbak, rasanya lebih enak, dan warnanya pun lebih cemerlang/cerah. Namun sesuai dengan namanya cokelat mulia, ia hanya bisa dikembangkan lewat teknik okulasi agar sifat genetiknya tidak berubah. Selain itu cokelat mulia hanya bisa dikembangkan di dataran rendah dengan ketingggian 300-600 meter di atas permukaan laut (dpl), dan baru berproduksi setelah 4-5 tahun dengan rata-rata produksi konstan sekitar 300 kg/hektar/tahun. Sifat edel cacao atau cokelat mulia ini merupakan kebalikan dari sifat bulk cacao atau cokelat bulk. Cokelat hibrida dimasukkan pertama kali ke Indonesia tahun 1973 dari Sabah, Malaysia. Kelebihan tanaman yang diberi nama ccao lidak adalah produksinya yang tinggi, yakni rata-rata 2.000 - 2.500 kg/hektar/tahun. Tanaman ini juga menyukai lahan dataran rendah (daerah pantai sampai ketinggian 300 meter dpl), dan perbanyakannya cukup lewat biji yang disemai dan sudah mulai berbuah pada usia 2 tahun. Pada saat ini hampir 90% produksi cokelat dunia adalah cokelat lindak yang terkenal mengandung kadar lemak yang cukup tinggi, yakni diatas 50%. Sementara itu, 2/3 pengunaan cokelat diutamakan sebagai penghasil lemak. Oleh karena itu, di Indonesia perluasan areal tanam cokelat diarahkan untuk mengembangkan cacao lindak. Perkembangan cokelat di Jawa Timur yang selama ini terkenal dengan cokelat mulianya di pasar luar negeri juga telah mulai mengembangkan cokelat lindak. (Penulis: Nanik Anggoro P/ Penyuluh Pertama BBP2TP Sumber: Seri Budidaya Tanaman; Pedoman Bertanam Coklat, penulis Yrama Widya, Tim Bina Karya Tani)