Loading...

Teknik Budidaya Buah Naga Organik Kualitas Ekspor

Teknik Budidaya Buah Naga Organik Kualitas Ekspor
Buah naga (Hylocereus undatus) merupakan tanaman jenis kaktus. Buah Naga ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah. Umumnya Buah Naga memiliki tampilan kulit yang berwarna merah (terkadang kuning) dengan daging buah yang berwarna merah keunguan atau putih dengan biji-biji hitam. Selain itu, Buah Naga ini rendah kalori namun tinggi nutrisi seperti vitamin B dan C, Fosfor (P), Protein, Kalsium (Ca), Fiber, Niasin, dan Antioksidan. Buah Naga organik Indonesia sangat disukai masyarakat luar negeri. Pesaing kita dari Israel, Vietnam,Thailand dan ini merupakan tantangan bagi kita untuk mempertahankan kualitas dan yang baik. Budidaya Buah Naga sangat cocok dengan kondisi iklim dan alam Indonesia. Tanaman ini tumbuh optimal pada ketinggian 0-350 m dpl, curah hujan 720 mm/thn. Suhu udara ideal bagi pertumbuhan tanaman buah naga berkisar 26â—¦C -36â—¦C. Cara Memilih Bibit Buah Naga organik diperbanyak dengan stek (vegetatif) maupun dengan biji (generatif). Namun umumnya bibit yang digunakan dalam bentuk stek. Budidaya buah naga dengan vegetatif lebih cepat menghasilkan buah dengan mutu terbaik. Selain itu, sifat-sifat tanaman induk bisa dipastikan menurun pada anakannya. Langkah-langkah penyetekkan buah naga: Penyetekkan dilakukan terhadap batang atau cabang tanaman yang pernah berbuah, setidaknya 3-4 kali. Hal ini berguna agar hasil setek bisa berproduksi lebih cepat dan produktivitasnya sudah ketahuan dari hasil buah terdahulu. Pilih batang yang berdiameter setidaknya 8 cm, keras, tua, berwarna hijau kelabu dan sehat. Semakin besar diameter batang akan semakin baik, karena batang tersebut akan jadi batang utama tanaman. Pemotongan dilakukan terhadap batang yang panjangnya sekitar 80-120 cm Potong-potong batang calon bibit dengan panjang sekitar 20-30 cm. Ujung bagian atas dipotong rata, sedangkan pangkal bawah yang akan ditancapkan ke tanah dipotong meruncing untuk merangsang pertumbuhan akar. Biarkan batang setek yang telah dipotong getahnya mengering agar tidak busuk batang. Untuk menghindari resiko serangan jamur batang setek bisa di celupkan pada larutan fungisida. Siapkan bedengan atau polybag untuk menanam setek tersebut. Media tanam yakni: tanah, pasir, pupuk kandang (sebaiknya dari kotoran ayam), dan kapur pertanian sebanyak100 gram. Bila menggunakan polybag ditambahkan batu kerikil/batu merah yang sudah dihancurkan kecil-kecil dengan tujuan untuk porositas, agar air tidak terlalu menggenang dalam pot. Siram bedengan atau polybag yang telah diisi dengan media tanam. Kemudian tancapkan bagian yang runcing dari setek kedalam media tanam sedalam 5 cm. Berikan naungan untuk melindungi setek tersebut. Lakukan penyiraman sebanyak 2-3 hari sekali. Tunas pertama mulai tumbuh dan naungan dibuka agar bibit mendapatkan cahaya matahari. Pemeliharaan bibit biasanya berlangsung hingga 3 bulan, tinggi bibit berkisar 50-80 cm. Kebutuhan bibit untuk lahan 1 ha sekitar 6000-1000 bibit. Jumlah bibit yang diperlukan tergantung pada metode tanam dan pengaturan jarak tanam. Metode budidaya buah naga dengan tiang panjat tunggal membutuhkan tiang panjat sebanyak 1.600 batang dengan kebutuhan bibit 6.400 bibit per hektar. Langkah-langkah dalam budidaya buah naga organik: 1. Pembuatan tiang panjat Tiang panjat diperlukan untuk menopang tumbuhnya tanaman biasanya dibuat permanen dari beton. Bentuk tiangnya pilar segi empat atau silinder dengan diameter 10-15 cm. Tinggi tiang panjat 2-2,5 meter. Tiang tersebut ditanam sedalam 50 cm agar kuat berdiri. Di ujung bagian atas diberikan penopang berupa batang kayu atau besi membentuk ‘+’. Kemudian tambahkan besi berbentuk lingkaran atau bisa juga ban motor bekas. Sehingga bagian ujung atasnya berbentuk seperti stir mobil. Tiang panjat tersebut dibuat secara berbaris, jarak tiang dalam satu baris 2,5 m sedangkan jarak antar baris 3 m dan menjadi ukuran jarak tanam. Di antara barisan buat saluran drainase sedalam 25 cm. 2. Pengolahan tanah Lahan yang sudah bersih kemudian dicangkul di sekitar daerah penanaman buah naga. Pecangkulan bertujuan agar lapisan tanah bawah bisa tercampur dengan lapisan tanah atas sehingga penyebaran humus atau bahan organik bisa merata ke seluruh lapisan tanah. Dengan demikian, tanah menjadi gembur dan subur sehingga akar tanaman buah naga dapat menyerap unsur hara dengan baik.Lahan dengan pH tanah < 6 harus dilakukan pengapuran dengan dosis 1,2 ton/ha ditabur merata keseluruh lahan. Selanjutnya pembuatan lubang tanam sesuai dengan model tiang panjatan yang digunakan.Setelah 1 minggu kemudian Lakukan pemupukan dengan menggunakan Pupuk Organik. 3. Penanaman bibit Satu tiang panjat membutuhkan 4 bibit yang ditanam mengitari tiang panjat, jarak antar tiang panjat dengan bibit 10 cm. Bibit dipindahkan dari bedeng penyemaian atau polybag. Gali tanah sedalam 10-15 cm, atau disesuaikan dengan ukuran bibit. Kemudian bibit diletakkan pada galian tersebut dan ditimbun tanah dan padatkan Setelah ke-4 bibit ditanam, ikat batang bibit tanaman tersebut sehingga menempel pada tiang panjat. Lakukan pengikatan setiap tanaman tumbuh menjulur sepanjang 20-30 cm. 4. Pemeliharaan Pemeliharaan kunci utama dalam budidaya tanaman Buah Naga organik. Pemeliharaan yang baik dan tepat akan menghasilkan tanaman yang berkualitas dan produktif. Kegiatan pemeliharaan : Pengikatan batang tanaman buah naga organik, pertamakali dilakukan segera setelah penanaman. Selanjutnya setiap tumbuh ruas baru atau jika batang bertambah sekitar 40-50 cm agar batang tidak menjuntai dan patah. Hal ini biasanya terjadi setiap 3-4 minggu sekali. Pemupukan, Pemupukan tanaman Buah Naga organik menggunakan pupuk kendang/pupuk organik lainnya. Pemupukan tanaman buah naga organik dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu tahun, yaitu pada saat tanam dan diulangi setiap 4 bulan sekali. Pada tanaman yang sudah berbuah (tanaman produktif) pemupukan dilakukan setelah musim panen dan diulangi setiap 4 bulan berikutnya. Dosis pupuk yang diberikan yaitu 5-10 kg per tiang setiap kali pemupukan. Pemupukan pertamakali setelah musim panen dan ditambah 200 gram kapur pertanian. Penyiraman, dilakukan dengan mengalirkan air pada parit drainase atau menggunakan gembor (irigasi tetes). Sistem irigasi tetes lebih hemat air dan tenaga kerja namun perlu modal besar. Penyiraman dengan parit drainase dilakukan dengan merendam parit selama kurang lebih 2 jam. Bila penyiraman dilakukan dengan gembor, setiap lubang tanam disiram dengan air sebanyak 4-5 liter. Pemangkasan, yaitu pemangkasan pembentukan batang dan pemangkasan pemeliharaan. Pemangkasan pembentukan batang dilakukan pada setiap ruas yang bercabang untuk menjaga agar batang utama hanya terdiri atas satu batang. Setelah batang utama mencapai ketinggian lingkaran kemudian dilakukan pemangkasan untuk merangsang terbentuknya tunas produktif kearah samping. Pemangkasan pemeliharaan dilakukan untuk menjaga agar tajuk tanaman tersusun melingkar dan cabang tidak terlalu panjang. Cabang-cabang yang tidak normal dan terserang penyakit dipotong dan dimusnahkan Penyiangan gulma, yaitu kegiatan membersihkan gulma rumput dan tanaman lain yang tidak dikehendaki yang tumbuh disekitar tanaman buah naga. Penyiangan dilakukan supaya tanaman buah naga memperoleh nutrisi secara maksimal tanpa ada gangguan (kompetisi) dengan tanaman lain dan gulma Pengendalian Hama Penyakit, hama yang sering menyerang tanaman buah naga dipekarangan antara lain kutu putih, kutu daun, semut rangrang, belalang, ulat, tungau, bekicot, burung dan ayam. Dapat dikendalikan secara teknis dan menggunakan pestisida organik. Sedangkan penyakit yang sering ditemukan pada tanaman buah naga antara lain penyakit karat merah alga, bercak orange, sulur putih, hawar daun, antraknosa, kusam putih, busuk lunak, kuning sulur, bercak buah. Penyakit pada tanaman buah naga dapat dikendalikan secara teknis dan menggunakan fungisida organik. Susi Deliana Siregar Daftar Pustaka: Direktorat Budidaya Tanaman Buah, 2009, Standar Operating Prosedure (SOP) Buah Naga, Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian; Warisno, SPKP dan Kres Dhana, SP, Bertanam Buah Naga di Kebun, Pekarang dan Dalam Pot, Jakarta