Loading...

teknik budidaya padi secara salibu

teknik budidaya padi secara salibu
teknologi budidaya padi secara salibu mungkin masih terdengar asing ditelinga petani padi didataran tinggi, padahal didaerah lain teknologi sederhana ini sudah banyak diterapkan sebagai alternatif budidaya padi hemat bibit, hemat tenaga dan hemat biaya produksi. teknik budidaya padi salibu merupakan terobosan baru untuk memacu dan meningkatkan produktivitas hasil panen padi bagi para petani dan meningkatkan produktifitas nasional. namun dengan teknik budidaya padi salibu yang sederhana dan tidak rumit ini, terbukti lebih efisien dan murah dibandingkan dengan teknik budidaya padi biasa. hasil panennya pun berlipat serta dapat dilakukan panen berkali-kali hanya dengan satu kali tanam. teknik budidaya padi secara salibu merupakan teknik penanaman padi dengan cara memanfaatkan rumpun padi sisa panen, karena berdasarkan penelitian, rumpun sisa panen masih bisa menghasilkan tunas baru yang akan membentuk populasi tanaman baru yang bisa berproduksi nyaris sama dengan hasil penanaman awal. dengan demikian petani hanya cukup sekali menanam bibit padi dan selanjutnya bisa memanen sampai beberapa kali tanpa harus menanam bibit baru. salibu sendiri merupakan akronim dari sekali tanam panen berulang-ulang. caranya pun sebenarnya sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapapun, rumpun padi sisa panen dipotong rapat menggunakan mesin babat rumput dan hanya menyisakan pangkal tanaman setinggi kurang lebih 3,5 cm. pangkal rumpun tersebut digunakan sebagai penghasil tunas atau anakan yang baru dan dipelihara setelah batang sisa panen dipangkas sebelumnya. selanjutnya dengan stimulan berupa pupuk kandang atau pupuk organik , dalam beberapa hari tunas baru akan muncul dari buku ruas pangkal batang yang tersisa dalam tanah. kemudian tunas ini akan menghasilkan anakan dan akar baru sehingga suplai unsur hara tidak lagi tergantung pada sisa batang lama. tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi sama halnya seperti padi tanaman yang berasal dari bibit baru, yang kemudian membentuk rumpun baru. dengan teknik salibu ini, sisa tanaman lama berupa pangkal batang berfungsi sebagai pengganti bibit pada sistem tanam biasa. hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan dan produksinya sama atau bahkan bisa lebih tinggi dibanding tanaman pertama (induknya). tahapan teknik budidaya padi secara salibu : segera setelah tanaman padi dipanen, lahan digenangi air setinggi lebih kurang 5 cm selama 2 sampai 3 hari dan jangan dibiarkan dalam kondisi lahan sawah terlalu kering. setelah 3 hari kemudian saluran pembuangan air dilepas kembali dengan tujuan untuk menjaga kelembaban tanah dan menghindari batang tanaman tidak mati sebelum melakukan pemotongan batang padi sisa panen, lakukan pemberian pupuk kandang/organik pada lahan sawah. setelah pupuk diserap tanaman, maka dilakukan pengurangan air pada lahan sawah kemudian dilakukan pemotongan batang sampai kepangkalnya hanya menyisakan sekitar 3,5 cm dari permukaan akar. dalam beberapa hari tunas baru akan mulai terlihat tumbuh pada pangkal batang tersebut. setelah tunas setinggi 5 cm, sawah kembali digenangi air secukupnya kemudian diberi pupuk susulan. pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk organik dengan ditambah sedikit stimulan pupuk kimia yang mengandung unsur npk untuk selanjutnya perlakuan budidaya padi salibu sama dengan budidaya padi biasa yaitu mengatur pengairan, melakukan penyiangan, pengendallian hama penyakit dan hingga sampai waktu panen. oleh : yumismar, a. md (ppl ds. lubuk mayan)