Loading...

Teknik Pengambilan Ubinan dan Panen Padi

Teknik Pengambilan Ubinan dan Panen Padi
Pengubinan merupakan istilah yang biasa digunakan oleh petugas pertanian maupun statistic untuk menghitung secara cepat dan sederhana hasil produk pertanian tidak hanya padi sawah, namun cara ini umum digunakan untuk memperkirakan potensi hasil gabah dalam luasan 1 Ha. Untuk melakukan pengubinan ini ada tahapan – tahapan yang harus diperhatikan oleh siapa saja yang ingin menghitung potensi hasil tanamannya. Proses yang pertama kali harus diperhatikan adalah hari yang tepat untuk pengubinan dan diupayakan tanaman padi sudah benar–benar siap untuk dipanen. Pengubinan dilakukan dengan cara sebagai berikut : Mengambil minimal 3 titik berbentuk ubin berukuran 2,5 m x 2,5 m per hektar sawah. Memotong padi hasil ubinan Memisahkan bulir padi dari batangnya atau dirontokkan. Menampi untuk memisahkan gabah hampa Menimbang padi hasil ubinan. Panen Padi Dewasa ini penanaman padi varietas unggul tahan wereng pada umumnya mudah rontok, sehingga saat dan cara panen menentukan besarnya kehilangan hasil dan penurunan mutu gabah. Pemanenan yang dilakukan terlalu cepat akan menghasilkan lebih banyak gabah hampa, butir hijau dan butir mengapur sehingga tidak tahan lama disimpan dan rendemen beras menjadi rendah. Sebaliknya pemanenan yang terlambat akan mengakibatkan kehilangan hasil yang tinggi akibat gabah yang mudah rontok, penentuan saat panen yang tepat didasarkan atas penampakan visual, kerontokan dan umur setelah berbunga merata serta kadar airnya. Panen dapat dilakukan apabila 85 % tanaman padi sudah masak sempurna dan daun bendera sudah mongering, tingkat kerontokan sekitar 25 – 30 % dengan kadar air 22 – 25 %, umur optimal dalam keadaan seperti ini telah mencapai 30 – 35 hari setelah berbunga merata. Pemanenan harus menggunakan sabit yang tajam dan bergerigi, setelah selesai pemanenan padi segera dikumpulkan dan ditumpukkan pada suatu tempat dengan alas yang kering untuk mencegah kerusakan akibat terendam.