Loading...

TEKNIK PENGOLAHAN DEDAK DAN JERAMI PADI UNTUK PAKAN TERNAK

TEKNIK PENGOLAHAN DEDAK DAN JERAMI PADI UNTUK PAKAN TERNAK
Pada musim kemarau biasanya hijauan pakan ternak sangat terbatas. Oleh sebab itu peternak sapi dibeberapa daerah terpaksa menggunakan jerami padi untuk pakan ternaknya. Karena dibebarapa tempat atau daerah jerami padi merupakan limbah pertanian, maka jerami memiliki beberapa kelemahan seperti kandungan protein rendah, serat kasar tinggi, kadar oksalat tinggi, sehingga sangat mengganggu proses pencernaan dalam perut hewan. Untuk itu agar jerami dapat dimanfaatkan dengan baik maka jerami perlu diolah sehingga mutunya menjadi lebih baik.Selain itu pemberian pakan hijauan sebagai pakan tunggal, belum mencukupi kebutuhan nutrisi untuk mencapai produksi yang optimal, sehingga perlu ditambahkan konsentrat. Salah satu bahan pakan konsentrat adalah dedak padi. Dedak padi mudah didapat dan terjamin ketersediaannya, serta mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi, yaitu protein kasar (PK) sebesar 13,80% dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 53,30%.Proporsi pemakaian dedak dalam ransum ternak bergantung pada tujuan pemeliharaan ternak. Secara umum dapat dianjurkan pemberian dedak untuk ruminansia adalah 30-40% dari bahan kering yang dikonsumsi.Dedak adalah hasil sampingan dari proses penggilingan padi yang terdiri dari lapisan dedak sebelah luar dari butiran padi dengan sejumlah lembaga biji, sedangkan bekatul adalah lapisan dedak sebelah dalam dari butiran padi termasuk sebagian kecil endosperma berpati. Dedak padi merupakan hasil ikutan penggilingan padi yang jumlahnya sekitar 10% dari padi yang digiling. Hasil analisis dari dedak padi Pengolahan limbah pertanian umumnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas, memperbaiki daya simpan, dan menghilangkan senyawa atau hambatan dalam penggunaan lebih lanjut untuk makanan ternak. Teknologi yang ada , dikelompokkan kedalam perlakukan fisik, kimia dan biologis maupun kombinasi diantaranya.Dedak Padi ; 1) Perlakuan fisik. Untuk mengatasi masalah ini ada dua pendekatan yang bisa dikembangkan. Pertama, memperbaiki system penggilingan padi sehingga sekam dapat dipisahkan dari dedak. Kedua, mengklasifikasikan dedak yang ada ke dalam kelompok sesuai dengan kualitas berdasarkan jumlah sekamnya. Cara yang mudah dilakukan di perdesaan untuk mengukur jumlah sekam dengan reaksi warna telah dikembangkan. Penggunaan panas, baik yang menggunakan tekanan seperti autoclaving atau tanpa tekanan, umumnya ditujukan untuk menstabilkan dedak agar tidak mudah tengik selama penyimpanan. Pemaskan dengan cara ekstruksi juga dilaporkan sangat efektif untuk menstabilkan dedak. Pelleting dapat juga dilakukan dengan memperbaiki nilai gizi dedak, perlakukan ini dapat memperbaiki sifat amba (bulky) dari dedak, sehingga konsumsi pakan pun meningkat. 2) Perlakuan Kimia. Perlakuan kimia ditujukan untuk menghambat proses ketengikan minyak, baik hidrolis maupun oksidasi dan mempertahankan dedak agar tidak diserang oleh jamur. Hal ini mungkin disebabkan minyak dedak cukup tahan terhadap oksidasi karena adanya antioksidan alami sedangkan pemberian kristal violet (gentian violet) dapat digunakan untuk menghambat serangan jamur. Penambahan senyawa asam-asam boronat seperti phenyl boronic acid dapat menghambat aktivitas enzim lipase dalam dedak sehingga menghambat terbentuknya asam lemak bebas selama penyimpanan. Sedangkan penambahan air panas dapat menurunkan jumlah asam fitat di dalam lemak akibat pengaktivan enzim fitase (Tangendjaya et al, 1991).3) Perlakuan Biologis. Pembuatan silase dedak dapat menghambat ketengikan minyak karena hidrolisis oleh enzim. Penambahan air sampai mencapai sekitar 50% bahan kering ke dalam dedak dan disimpan dalam keadaan tertutup rapat (anaerob) dapat menghambat ketengikan selama penyimpanan dua minggu sehingga kadar asam lemak bebas kurang dari 20% serta dapat menurunkan asam fitat. Jerami Padi: 1) Perlakuan Fisik. Perlakuan secara fisik antara lain penggilingan, pembuatan pelet, penyinaran radiasi, proses penguapan, pemotongan, dan penumbukan. 2) Perlakuan Kimia. Secara kimia dapat dilakukan dengan perlakuan perendaman dalam larutan basa atau asam dan reagen oksida serta penambahan urea atau amoniasi (Doyle et al. 1986). Sebagai contoh adalah dengan penambahan pupuk urea ke dalam jerami padi. Selain merusak ikatan lignin hemiselulosa, urea menjadi sumber nitrogen sebagai bahan untuk pembentukan protein mikroba rumen. Hasilnya cukup memuaskan, terutama dilihat dari segi kecernaannya.3) Perlakuan Biologis. Perlakuan secara biologis dapat ditempuh dengan cara pengomposan, fermentasi, dan penumbuhan jamur. Cara Inokulasi dengan jamur Pleurotus sp masa inkubasi selama 27 hari ternyata dapat meningkatkan kualitas jerami padi dengan kandungan protein dari 2,65% menjadi 3,28% dan daya cerna dari 32% menjadi 42%. Perlakuan inokulasi jamur mampu meningkatkan nilai nutrisi, kecernaa, konsumsi, dan mempercepat laju pakan dalam saluran pencernaan, sehingga pemanfaatan pakan menjadi lebih baik. Kombinasi Dari Beberapa Perlakuan. Dengan penambahan probiotik dan urea masing-masing sebanyak 2,5 kg setiap ton dengan ketebalan jerami 20 cm dapat meningkatkan kandungan protein dalam jerami padi dari 3,5% menjadi 7% dan daya cerna dari 28-30% menjadi 50%-55%. Sejumlah mikroflora yang terdapat pada jerami padi berperan dalam proses amoniasi jerami padi, sehingga jika dikombinasikan dengan tetes sebagai energy yang mudah dicerna aktivitas mikroflora tersebut akan lebih meningkat.Produk jerami padi yang sudah diolah perlu disimpan dengan baik pada tempat yang diberi naungan. Naungan tersebut diberi pagar yang kuat untuk menghindari agar ternak sapi tidak merusak tempat tersebut. Ternak yang mengonsumsi jerami padi berada diluar pagar yang dilengkapi dengan tempat penyimpanan disimpan ditempat pakan untuk dikonsumsi ternk sapi.Perlu disadari bahwa pemberian jerami padi baik dengan perlakuan maupun tanpa perlakuan tidak memberikan pertumbuhan bobot badan yang optimal. Sebaiknya jerami tidak diberikan secara tunggal. Jerami terfermentasi yang diberikan bersama konsentrat dapat mengganti rumput segar sebanyak 30%. Oleh karena itu, perlu adanya penambahan pakan lain yang berkualitas baik, sehingga bobot badan dapat ditingkatkan. (Suwarna –Penyuluh Pertanian Pusa) Sumber : 1. Dr.Ir. Heri Ahmad Sukria,M.Agrsc, Rantan,Spt,M.Si 2009. Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia . IPB Press.2. http://www.ilmuternak.com/2015/03/dedak-padi-untuk-pakan-ternak.html