Gandum merupakan bahan baku utama dalam pembuatan mie dan roti. Konsumsi terigu setiap tahunnya meningkat, selain karena pertambahan jumlah penduduk, juga karena adanya perubahan pola diversifikasi pangan yang mengarah kepada peningkatan konsumsi roti dan mie. Untuk memenuhi kebutuhan terigu nasional maka pemerintah harus mengimpor karena komoditas pangan subtropis ini belum berkembang di Indonesia.. Bila konsumsi gandum terus meningkat, diperkirakan akan terjadi kelangkaan terigu di pasar dalam negeri. Hal ini akan menjadi kendala bagi keberlanjutan industri pangan sehingga diperlukan upaya pengembangan gandum di dalam negeri. Waktu tanam yang tepat untuk gandum adalah pada awal musim kemarau atau akhir musim hujan, yang pada sebagian besar wilayah di Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi jatuh pada bulan April-Mei. Pada waktu tersebut curah hujan tidak terlalu tinggi tanaman dapat tumbuh optimal. BENIH Agar diperoleh produksi yang tinggi pilihlah benih yang baik/bersertifikat. Benih gandum bersertifikat yaitu varietas Dewata dan Selayar tersedia di UPBS Balai Penelitian Tanaman Serealia. Daya tumbuh benih minimal 90%, bebas dari hama penyakit dan mempunyai bentuk serta warna yang seragam. Kebutuhan benih per hektar adalah 100 kg atau sama dengan 1 kg per 100 m2. Sebelum ditanam, benih diberi perlakuan terlebih dahulu untuk mencegah serangan hama dan penyakit. Fungisida yang dapat digunakan adalah Ceresan. PENGOLAHAN TANAH Pengolahan tanah untuk tanaman gandum hampir sama dengan pada padi gogo atau palawija lainnya. Apabila memungkinkan, tanah diolah sempurna sampai gembur. Namun apabila terdapat pertanaman sebelumnya maka pengolahan tanah minimum juga dapat diterapkan. Sebaiknya lahan dibuat dalam bentuk bedengan dengan lebar 2 cm dan panjang menyesuaikan kondisi lahan. Jarak antar bedengan yang dianjurkan adalah 50 cm. PENANAMAN Setelah bedengan selesai dibuat maka selanjutnya adalah membuat alur/larikan pada bedengan. Kedalaman alur/larikan sekitar 5 cm dengan jarak antar larikan 25 cm. Selanjutnya benih disebar merata dalam larikan dan ditutup dengan tanah. Untuk mencegah hama maka sebelum ditutup dengan tanah, disekitar benih ditaburi Furadan secukupnya. PEMUPUKAN Kebutuhan pupuk gandum adalah urea 200 kg/ha, SP36 200 kg/ha serta KCl 100 kg/ha. Pemupukan dilakukan 2 kali yaitu pada saat tanaman berumur ±10 hari setelah tanam (hst) sebanyak 100 kg urea, 100 kg SP36 dan 50 kg KCl. Pemupukan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur ±30 hst dengan dosis yang sama yaitu 100 kg urea, 100 kg SP36 dan 50 kg Kcl. Pada saat gandum sudah mulai berisi maka dianjurkan juga memberikan pupuk daun. PENYIANGAN DAN PENGAIRAN Penyiangan dilakukan sebanyak dua kali,yaitu pada umur 15 dan 28-30 hst. Penyiangan dilakukan secara manual (hand weeding). Adapun pemberian air dilakukan dengan menyesuaikan kondisi hujan. Gandum tergolong tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Kisaran kebutuhan air per musim adalah 254-400 mm. Pemberian air dilakukan apabila tidak ada hujan, yaitu dengan cara menggenangi saluran disekeliling bedengan sehingga tanah di atas bedengan cukup lembab. Pemberian air dilakukan setiap 2-3 minggu. Pada umur tanaman 45-65 hari, kondisi tanah harus dijaga cukup lembab/basah karena proses pengisian biji berlangsung pada fase tersebut. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT Hama dan penyakit utama yang banyak menyerang tanaman gandum adalah Ulat tanah, Aphids, Kepik hijau dan Jamur. Ulat tanah menyerang pada malam hari saat umur tanaman 1-4 minggu. Sementara itu, Kepik hijau umumnya menyerang saat pengisian biji sehingga biji menjadi hampa/malai menjadi berwarna putih. Jamur menyerang saat curah hujan yang sangat tinggi sehingga menyebabkan tanaman menjadi rebah. Ulat tanah dapat dikendalikan dengan pemberian insektisida Furadan dengan dosis 20 kg/ha pada lubang larikan saat tanam. Hama Aphids dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida Decis 2,5 EC. PANEN DAN PASCAPANEN Gandum siap dipanen apabila 80% dari rumpun telah bermalai, batang dan daun telah menguning serta biji sudah mengeras. Umur panen bervariasi, antara 90-125 hari tergantung ketinggian tempat. Semakin tinggi tempat maka umur panennya juga semakin lama. Panen sebaiknya dilakukan pada kondisi cuaca cerah untuk memudahkan proses perontokan biji. Panen dilakukan dengan sabit bergerigi. Selanjutnya malai dijemur dan dirontok dengan thresher khusus gandum, atau dapat juga dengan mesin thresher padi yang dimodifikasi terlebih dahulu. Setelah perontokan selanjutnya biji gandum dikeringkan dibawah sinar matahari atau mesin pengering sebelum diolah menjadi tepung terigu. Untuk penepungan skala komersil dianjurkan adanya uji mutu terlebih dahulu. Ditulis ulang oleh : Rahmawati BBP2TP Bogor Sumber : balitsereal.litbang.pertanian.go.id Gambar : balitsereal.litbang.pertanian.go.id