Loading...

Teknologi Budidaya Jeruk Keprok

Teknologi Budidaya Jeruk Keprok
Jeruk keprok (Citrus reticulata) merupakan jeruk lokal unggulan atau bisa disebut juga jeruk mandarinnya Indonesia. Jeruk keprok sangat disukai masyarakat karena mempunyai rasa manis sedikit asam dan segar, warna kulit menarik dan mudah dikupas. Berat jeruk keprok 125-274 gram, bentuk buah jeruk keprok pada umumnya bulat ada yang gepeng, ciri khas mempunyai konde, tekstur Sumber Gambar: www. google.com permukaan agak kasar, warna kulit pada dataran tinggi bisa sampai oranye. Mempunyai dinding buah tebal dengan lapisan kulit luar yang kaku, ketebalan kulit 3,13-4,63 mm. Pori-pori jeruk keprok lebih jarang dengan ukuran besar ≥1.2 mm. Hal ini salah satu cara mudah untuk membedakan antara jeruk keprok dengan jeruk lainnya. Keprokisasi adalah salah satu program pemerintah dalam rangka pengembangan jeruk keprok di Indonesia yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar global guna bersaing sekaligus mensubstitusi jeruk impor. Namun dalam perkembangannya masih banyak kendala salah satunya masih banyak petani yang menghendaki menanam jeruk siam, alasannya jeruk siam waktu berbuah relatif lebih cepat dan mudah hanya membutuhkan waktu ± 2.5 tahun setelah tanam. Sedangkan jeruk keprok berbuah pertama membutuhkan waktu lebih lama yakni rata- rata 4 tahun setelah tanam baru bisa dinikmati hasilnya. Dari segi rasa, jeruk asli dalam negeri ini juga tidak kalah. Apalagi di beberapa wilayah Indonesia mempunyai banyak ragam jenis jeruk Keprok, antara lain: Jeruk Keprok Batu 55 (Jawa Timur), Jeruk Keprok SoE (NTT), Jeruk Keprok Brastepu (Sumatera Utara), dan Jeruk Keprok Gayo (Aceh) dimana potensi pengembangan tanaman jeruk keprok di Indonesia lebih besar. Di Indonesia, jeruk keprok dibudidayakan secara besar-besaran. Mengingat peminat jeruk ini sangatlah banyak, budidaya jeruk keprok ini sangatlah menjanjikan. Syarat Tumbuh Jeruk keprok dapat ditanam pada daerah dataran tinggi maupun dataran rendah. Lahan tanam yang akan digunakan untuk budidaya jeruk keprok haruslah mendapat sinar matahari secara penuh. Apabila lahan tanam berada pada lahan miring maka kemiringan lahan tidak boleh lebih dari 30 derajat. Jenis tanah yang baik untuk menanam budidaya jeruk keprok adalah tanah latosol atau tanah andosol dengan pH < 6 serta memiliki drainase yang baik. Suhu optimal untuk tanaman jeruk keprok antara 25 – 30 derajat celcius, namun ada juga masih dapat tumbuh dengan baik pada temperatur 38 derajat celcius. Tanaman jeruk memerlukan sinar matahri secara penuh sepanjang hari agar dapat tumbuh dengan optimal. Kelembaban optimum untuk pertumbuhan tanaman jeruk keprok berkisar antara 70 – 80 % Persiapan Lahan Lahan yang akan ditanami jeruk keprok dipastikan memiliki tanah yang subur dan gembur. Lakukan pengolahan tanah pada lahan terlebih dahulu dengan melakukan penggemburan tanah dengan cara dicangkuli dan diratakan lalu dicampur dengan pupuk kandang. Persiapan lahan ini dilakukan beberapa minggu sebelum penanaman. Menyiapkan undukan tanah dengan ukuran sekitar p=1 m x l=1 m x t=1 m (panjang x lebar x tinggi) untuk setiap bibit yang akan ditanam. Beri jarak tanam sekitar 5 x 5 meter antara pohon satu dengan pohon lainnya agar sinar matahari dapat menyinari pohon dengan optimal sehingga pohon dapat tumbuh maksimal. Dengan ukuran di atas maka untuk setiap 1(satu) hektar lahan dapat ditanami sekitar 400 pohon jeruk keprok. Penggunaan bibit Usahatani jeruk keprok menggunakan bibit yang berlabel bebas penyakit dengan menggunakan entres untuk batang atas diperoleh dari Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) pohon induk tunggal jeruk keprok. Penggunaan bibik jeruk berlabel bebas penyakit terutama penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) yang merupakan unsur utama dalam usaha agribisnis jeruk. Di Indonesia, penyakit CVPD menyebabkan lebih dari 3 juta tanaman jeruk mati antara tahun 1990-1970 Penanaman Bibit Jeruk ditanam di lapangan pada umur 6 bulan setelah diokulasi dengan lubang tanam yang berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm serta jarak tanam 4 m x 4 m. Melalui teknologi anjuran, jarak tanam jeruk 5 m x 5 m dapat menghasilkan produktivitas 33, 04 ton/ha/tahun. Pemupukan Pemberian pupuk kandang sebanyak 30-40 kg untuk setiap lubang tanam yang dicampur dengan tanah pada saat menutup lubang tanam, Urea 40 kg, SP-36 20 kg, KCL 40 kg dan ZA 40 kg. Pemupukan dengan pemberian pupuk kandang 40 kg/pohon, Urea 65 g/pohon, TSP 50 g/pohon dan ZK 35 g/pohon memberikan perubahan pada tinggi tanaman dan diameter batang jeruk keprok. Pemberian kombinasi pupuk Urea, TSP, KCL dan pupuk kandang dapat mendorong pertumbuhan tanaman jeruk yang lebih baik daripada tanpa pemberian pupuk. Pemeliharaan Melakukan pemangkasan bentuk dan pemangkasan pemeliharaan dengan cara memotong cabang dan ranting yang buahnya telah diserang Organisme Penggaggu Tanaman (OPT) dan tunas air serta penjarangan buah pada saat buah sebesar kelereng dan ditinggalkan 3-4 buah pergerombol. Produktivitas tanaman jeruk keprok dengan pemangkasan dan pemberian pupuk berdasarkan analisis tanah adalah yang tertinggi (28, 88 kg/pohon/tahun), tetapi belum menghasilkan kualitas jeruk yang terbaik. Pengendalian Organisme Penganggu Tanaman Menggunakan teknologi perangkap kuning (yellow trap), penggunaan bubur kalifornia, penyiraman dan penyemprotan dengan insektisida. Sub komponen teknologi yang paling menonjol walaupun baru dikenal petani namun paling cepat dan mudah diaplikasikan adalah penggunaan teknologi penyaputan batang dengan bubur kalifornia. Susi Deliana Siregar Daftar Pustaka : Panduan Jaminan Mutu, Cara Budidaya yang Baik (GAP) pada Komoditas Buah dan Sayur, 2016, Direktorat Budidaya Tanaman Buah; Outlook Komoditas Pertanian Jeruk Subsektor Hortikultura, 2015, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementerian Pertanian