Loading...

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI GOGO

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI GOGO
Teknologi budidaya padi gogo adalah teknologi pengelolaan tanaman padi di lahan kerig sampai menghasilkan produk utama padi. Untuk mengimplementasikan teknologi tersebut agar menghasilkan produk yang hasilnya tinggi, diperlukan penguasaan teknologi budidaya secara tepat terap sehingga menghasilkan padi lahan kering yang mempunyai mutu bera tinggi. Teknologi budidaya padi gogo ini yaitu teknoogi budidaya dengan pendekatan pengelolaan terpadu dengan singkatan yang kita kenal (PTT). Teknologi budidaya padi gogo dengan model PTT mulai dari pengelolaan lahan, penggunaan varietas, system tanam, pemupukan, system konversi tanah dan air, pengelolaan hama secara terpadu, panen dan pasca panen. Teknologi Budidaya Padi gogo dengan Model PTT 1. Pengolahan Tanah Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan 2 kali, yaitu pada saat hujan pertama di musim kemarau dan pada saat menjelang tanam. Pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan cangkul, ternak atau traktor. Selanjutnya lahan dibiarkan sampai turun hujan. Bila hujan sudah turun kontinyu, maka lahan diolah lagi untuk menghaluskan bongkahan dan meratakan tanah. Penambahan bahan organik tanah dilakukan dengan pemberian pupuk kandang sebanyak 1 ton/hektar dan untuk mengurangi kemasaman tanah, ditambahkan kapur sebanyak 250 kg/hektar. Pada lahan dibuat bedengan panjang selebar 5 m dan antar bedengan dibuat drainase sedalam 20 cm. 2. Penggunaan Varietas Unggul Varietas unggul memiliki ciri-ciri adalah mampu menyesuaikan diri dengan iklim dan jenis tanah setempat, cita rasa nasi disukai dan memiliki harga jual tinggi di pasar lokal, mempunyai potensi hasil tinggi, mempunya ketahanan terhadap hama dan penyakit tertentu, lebih tahan rebah. Contoh varietas unggul adalah Situ Bagendit, Towuti, Danau Gaung, Situ Patenggang dan lain-lain. Benih yang diperlukan antara 40-50 kg per hektar, dan sebelum ditanam diberi perlakuan dengan insektisida (misal : Regent) dengan dosis 100 ml per 5 kg benih. Perlakuan benih dilakukan untuk mengantisipasi adanya serangan hama penggerek batang. 3. Penanaman Penanaman dilakukan secara multi varietas, yaitu dalam satu pertanaman terdiri dari beberapa varietas padi gogo. Pada pola tanam secara tumpangsari, setiap lorong tanaman perkebunan atau HTI ditanami varietas padi gogo yang berlainan. Penanaman sebaiknya dimulai ketika curah hujan sudah mencapai 60 mm/10 hari atau 200 mm/bulan. Waktu penanaman biasanya dilakukan pada bulan Agustus atau berpedoman pada tanda-tanda alam tertentu (munculnya laron, bertunasnya bambu dan lain-lain). Penanaman dilakukan dengan menggunakan tugal. Cara tanam sebaiknya dilakukan dengan sistem jajar legowo 30 x 20 x 10 cm dengan populasi 400.000 rumpun per hektar. Benih yang digunakan sebanyak 4-5 butir per lubang. 4. Pemupukan Penambahan pupuk anorganik juga diperlukan, namun harus diberikan secara berimbang. Jenis dan jumlah pupuk yang diberikan adalah pupuk N (urea) 250 kg, pupuk P (SP-36) 150 kg dan pupuk K (KCl) 150 kg per hektar. Pupuk urea diberikan dua kali, yaitu pada saat tanam dan pada umur 40 hari setelah tanam (HST). Pupuk SP36 seluruhnya diberikan pada saat tanam. Sedangkan pupuk KCl diberikan dua kali, masing-masing 2/3 bagian saat tanam dan 1/3 bagian pada umur 40 hari setelah tanam (HST). Pemupukan dilakukan pada saat tanah dalam keadaan lembab atau basah untuk menghindari plasmolisis yang dapat mengakibatkan tanaman menjadi layu. 5. Pemeliharaan Pemeliharaan sangat diperlukan untuk mengantisipasi gangguan biotik dan abiotik. Gangguan abiotik biasanya berupa kekurangan air dan hara tanah. Untuk mengantisipasi kekeringan, perlu dilakukan perencanaan waktu tanam secara baik dan pemilihan varietas berumur pendek. Gangguan biotik biasanya berupa serangan hama misalnya penggerek batang dan penggulung daun. Ketika tanaman sudah keluar malai, biasanya hama yang menyerang berupa kepik hijau dan walang sangit. Di samping hama, ada juga penyakit blast yang disebabkan oleh adanya jamur Pyricularia grisea. Blast ada 2 macam, yaitu blast daun yang terjadi pada saat pertumbuhan vegetatif dan blast leher yang terjadi pada saat pertumbuhan generatif. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara pemilihan varietas yang tahan, penerapan multi varietas dan monitoring di lapangan. Apabila diperlukan dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida. Gangguan biotik lainnya adalah gulma. Pengendaliannya adalah dengan melakukan penyiangan menggunakan kored (untuk lorong sempit) ataupun cangkul (untuk lorong luas). 6. Panen dan Pasca Panen Panen dilakukan apabila tanaman padi gogo sudah 95% menguning. Pada umumnya, padi gogo memiliki umur antara 110-130 hari. Panen dilakukan dengan cara dibabat bawah kemudian digebol. Perontokan dilakukan dengan power thresher yang di bawahnya diberi alas terpal. Penjemuran dilakukan secara alami menggunakan panas matahari (sun drying) di atas terpal berwarna gelap. Sundari, SST (BBP2TP, Bogor), Email: sunburase@yahoo.com Sumber: ‘- Leaflet PTT Padi Gogo. 2009 ‘- Teknologi budidaya padi gogo