Sorgum adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sorgum mempunyai sejumlah keunggulan, antara lain adaya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, input lebih sedikit, dapat diratun (sekali tanam panen beberapa kali serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Sorgum banyak dijumpai di wilayah kering dan tadah hujan, diantaranya Wonogiri, Demak, Gunung Kidul, NTT, Selayar dan Bali. Sorgum memiliki kandungan nutrisi yang baik, bahkan kandungan protein dan unsur-unsur nutrisi penting lainnya lebih tinggi daripada beras. Sorgum sebaiknya ditanam pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Hal ini dilakukan agar tanaman bisa tumbuh optimal dan malai terisi sempurna disamping untuk menghindari serangan cendawan. BENIH Agar diperoleh produksi yang tinggi pilihlah benih yang baik/bersertifikat. Benih sorgum bersertifikat yaitu varietas Numbu dan Kawali, tersedia di UPBS Balai Penelitian Tanaman Serealia. Daya tumbuh benih minimal 90%, bebas dari hama penyakit dan mempunyai bentuk serta warna yang seragam. PENYIAPAN LAHAN DAN PENANAMAN Tanah diolah sedalam 15 – 20 cm untuk menggemburkan tanah, memperbaiki drainase, mendorong aktivitas mikroba tanah sekaligus mematikan gulma. Sistem tanpa olah tanah (TOT) dapat diterapkan pada tanah gembur/ringan. Penanaman dilakukan dengan cara ditugal sedalam 5 cm. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 75 cm x 25 cm dengan 2 tanaman per lubang. Setelah benih ditanam, ditutup dengan abu sekam atau tanah. PEMUPUKAN Hara yang cukup diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, dimulai dari fase vegetative sampai dengan pengisian biji. Kebutuhan pupuk sorgum adalah urea 250 kg/ha, dan ponska 300 kg/ha. Pemupukan dilakukan 2 kali yaitu pada saat tanaman berumur 7 - 10 hari setelah tanam (hst) dengan dosis 300 kg ponska/ha. Pemupukan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 30 – 35 hst dengan dosis 250 kg urea/ha. Pupuk diberikan dalam lubang/larikan + 15 cm di samping tanaman. PENYIANGAN DAN PENGAIRAN Penyiangan dilakukan sebanyak dua kali,yaitu pada umur 21 dan 45 hst. Penyiangan dilakukan dengan cangkul atau alat penyiang mekanis. Adapun pemberian air dilakukan dengan menyesuaikan kondisi hujan. Sorgum tergolong tanaman yang tahan tumbuh pada kondisi kekeringan. Permukaan daun sorgum yang mengandung lapisan lilin membuat tanaman efisien dalam pemanfaatan air. Kisaran kebutuhan air per musim adalah 250-300 mm. Pemberian air dilakukan apabila tidak ada hujan, yaitu dengan membuat alur di setiap 2 baris tanaman. Pemberian air dilakukan setiap 2 – 3 minggu. Pada umur tanaman 45-65 hari, kondisi tanah harus dijaga cukup lembab karena proses pengisian biji berlangsung pada fase tersebut. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT Hama dan penyakit utama yang banyak menyerang tanaman sorgum adalah Ulat tanah, Aphids, lalat bibit, karat dan bercak daun. Ulat tanah dan lalat bibit dikendalikan dengan insektisida 20kg/ha Furadan 3G saat tanam dan pada saat umur tanaman 21 hst. Penyakit bercak daun dikendalikan dengan memangkas daun yang terinfeksi atau dengan rotasi tanaman. Bercak daun dapat juga dikendalikan dengan fungisida Dithane M45. PANEN DAN PASCAPANEN Gandum siap dipanen apabila 80% dari biji sudah mengeras serta malai telah menguning. Umur panen bervariasi, antara 100-105 Panen dilakukan dengan cara memangkas tangkai di bawah malai dengan menggunakan sabit. Selanjutnya malai dijemur kemudian dirontok dengan menggunakan alat perontok khusus sorgum. Selanjutnya sorgum disosoh untuk menghilangkan kandungan tannin pada biji. Sebelum disosoh sorgum dikeringkan sampai kadar air 10-11%. Penyosohan diperlukan karena biji sorgum dilapisi oleh kulit ari yang keras dan lengket dengan karbohidrat biji yang menimbulkan rasa sepat apabila dikonsumsi. Rasa sepat ini terjadi karena tingginya kandungan zat tanin pada biji. Penyosohan dilakukan secara manual dengan alu atau dengan mesin penyosoh sorgum Balitsereal. Setelah disosoh, biji sorgum dapat diolah menjadi nasi sorgum, cake dan cookies. Ditulis ulang oleh : Rahmawati BBP2TP Bogor Sumber : balitsereal.litbang.pertanian.go.id Gambar : balitsereal.litbang.pertanian.go.id