Loading...

Teknologi Jajar Legowo di Lahan Marginal

Teknologi Jajar Legowo di Lahan Marginal
Menurut data Balai Penelitian Tanah tahun 2015, luas lahan marginal di Indonesia mencapai 157.246.565 hektar. Namun baru 91.904.643 hektar atau 58,4% yang telah dimanfaatkan untuk budidaya pertanian. Sisanya masih belum “dibangunkan” untuk ditanami komoditas tanaman pangan. Tanah di lahan marginal memiliki faktor pembatas yang diantaranya topografi yang miring, dominasi bahan induk, kandungan unsur hara dan bahan organik yang sedikit, kadar lengas yang rendah, pH yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Bahkan terdapat akumulasi unsur logam yang bersifat meracun bagi tanaman. Peningkatan kesuburan di lahan marginal dilakukan melalui pemupukan yang seimbang antara pupuk anorganik dan organik. Pemberian pupuk anorganik saja, hanya meningkatkan kesuburan kimia tanah semata namun betuk fisik tanah akan tetap rendah dan pada kondisi lainnya mengakibatkan kesuburan biologi tanah tertekan. Kondisi lahan marginal merupakan lahan yang rendah pada kesuburan tanah khususnya kesuburan kimia, fisik dan biologi tanah serta mempunyai ketersediaan air yang rendah. Selain kesuburan tanah perlu juga dipertimbangkan bentuk relief tanah. Tanaman pangan semusim sebaiknya ditanam di wilayah dengan relief datar hingga berombak. Tanaman tahunan atau perkebunan dan hutan tanaman industri dapat digunakan di relief berbukit. Pada lahan yang bermaslah sebaiknya juga diikuti tindakan konservasi lahan. Pemupukan dapat dilakukan untuk memperbaiki kandungan hara tanah. Pengapuran dilakuka dengan tujuan meningkatkan pH tanah dan menurunkan reaktivitas Alumunium (Al). Teknologi Largo (larikan gogo) Perkenalan dan penerapan paket teknologi Jajar Legowo Super (Jarwo Super) di lahan padi sawah yang memberikan hasil panen yang cukup tinggi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sedang mengembangkan sistem tanam untuk lahan kering yaitu sistem tanam LARGO (Larikan Gogo). Serupa dengan dengan Jarwo Super, Largo ini nantinya akan sarat dengan penerapan teknologi. Mulai penggunaan benih unggul, biodekomposer, penggunaan pupuk hayati, pengendalian hama dan penyakit tanaman hingga mekanisasi pertanian. Prinsip budidaya largo adalah pengaturan jarak tanam dengan membentuk barisan tanaman yang lurus untuk mempermudah pemeliharaan (penyiangan, penyemprotan dan pemupukan). Benih padi gogo yang digunakan adalah varietas unggul baru (VUB) seperti Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, dan Inpago 11 yang semuanya tahan hama, dengan umur rata-rata 105 hingga 115 hari. Sebelum ditanam dengan larikan gogo, benih padi dicampur dengan pupuk hayati untuk mempercepat pertumbuhan. Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan dan langsung ditutup tanah/ pupuk kandang, fungsinya agar kelembaban benih terjaga. Karena bukan lahan irigasi, olah tanah sebaiknya dilakukan saat hujan pertama. Sistem tanam menggunakan jajar legowo 2 : 1 atau dengan jarak tanam (20 x 10) x 30 cm, dengan benih 4-5 butir/lubang. Cara pengaturan jarak tanam tersebut dapat dengan bantuan alat tanam seperti garu atau caplakan yang akan membentuk larikan yang berjarak antar larikan 20 cm dan 30 cm secara berselang. Jila lubang larikan sudah terbentuk (dengan kedalaman 2- 3 cm), benih segera ditanam dengan jarak antar titik 10-15 cm. Mekanisasi peralatan tanam dapat menggunakan alat tabela yang telah dimodifikasi yang dapat langsung menutup setelah ditanam. Kendala yang muncul dalam budiaya dilahan marginal adalah ketersediaan air dan tumbuhnya rumput disaat bersamaan dengan pertanaman padi. Penggunaan pestisida pra tumbuh dan pemebersihan secara mekanis dapat dilakukan untuk mengurangi rumput. Keunggulan jajar legowo secara larikan memudahkan petani mengambil/mengurangi rumput dan proses pemupukan juga lebih mudah dikarenakan diberikan diantara tanaman padi gogo. Hasil penanaman padi gogo dengan menggunakan teknologi largo di lahan demfarm di Desa Banjareja, Kebumen dihasilkan hasil secara ubinan sebesar 7,9 ton/ha (Sugianta- Antara, 2018) yang bila dibandingkan dengan teknik budidaya konvensional menggunakan varietas padi gogo yang hanya mencapai 6,02 ton/Ha. Perlunya pendampingan yang intens bagi petani dalam penerapan largo dilahan kering khususnya dalam penentuan jadwal tanam agar tidak mengalami puso/kegagalan karena kekeringan. Penulis: Ume Humaedah Sumber: Puji Lestari, Eny Faridah, Cahyono Agus Dwi Koranto. 2017. Pengaruh Legum Penutup Tanah Terhadap Pertumbuhan Semai Mahoni (Swietenia macrophylla) Pada Tanah Marginal. Jurnal Nasional Teknologi Terapan, Vol. 1 No. 1, November 2017: 60 – 68 http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-berita/berita/larikan-gogo-super-largo-super-mulai-diperkenalkan-kepada-petani-kebumen http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-berita/info-teknologi/olah-tanah-dan-tanam-padi-gogo