Loading...

Teknologi Perbanyakan Benih Cabai

Teknologi Perbanyakan Benih Cabai
Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai nilai ekonomis cukup penting. Cabai merah banyak ditanam oleh petani di Indonesia dari dataran rendah sampai dataran tinggi 0-1.200 m dpl. Pemanfaatan komoditas cabai sebagian besar untuk keperluan rumah tangga, dikonsumsi dalam bentuk segar, kering, atau olahan. Kegunaan lainnya adalah sebagai bahan baku industri untuk obat – obatan dan peternakan. Kandungan vitamin C pada buah cabai cukup tinggi. Oleh karena itu, komoditas cabai banyak diusahakan oleh petani sampai pengusaha besar yang menggunakan sistem agribisnis. Keberhasilan usaha tani cabai salah satunya ditentukan oleh kualitas benih. Berikut ini akan dijelaskan bagaimana tahapan produksi cabai: 1. Syarat produksi benih Untuk memperoleh hasil yang maksimal serta sesuai dengan yang diinginkan dalam budi daya maka perlu diperhatikan: a) Menggunakan sumber benih yang benar dan berkualitas, b) Benih ditanam pada lahan yang bersih, bebas dari gulma atau tanaman lain dan mencegah kemungkinan timbulnya penyakit. c) Benih ditanam di lahan yang sebelumnya tidak ditanami tanaman keluarga / famili terung – terungan. Jika tanaman sebelumnya adalah yang termasuk famili Solanaceae seperti kelompok cabai, tomat, terung atau kentang, maka sebaiknya tanah harus diberakan minimal 3 bulan. d) Isolasi pertanaman yang cukup baik untuk mencegah terjadinya penyerbukan silang dengan varietas lain, e) Pencegahan kemungkinan tercampurnya benih dengan benih varietas lain pada saat panen dan prosesing benih. f) Benih diberi label yang benar dan jelas menurut nama varietas, atau dengan keterangan lain, seperti daya kecambah dan kadar air benih. Pelabelan dilakukan sejak di persemaian, tanam, prosesing, sampai penyimpanan benih. 2. Persemaian Benih yang sudah diseleksi kualitasnya disemai di tempat persemaian yang telah dipersiapkan. Media persemaian berupa campuran pupuk kandang yang telah matang dan tanah dengan perbandingan 1 : 1. Sebelum disemai, benih cabai direndam dengan fungisida konsentrasi 0,1% selama 1 jam. Benih disemai dengan cara disebar pada media tanam, lalu ditutup dengan tanah halus dengan ketebalan + 0,5 cm. Setelah 6-7 hari biji berkecambah, bibit dipindahkan ke polybag/pot-pot kecil untuk meningkatkan daya adaptasi dan daya tumbuh bibit pada saat dipindahkan ke lapangan. Benih dipindahkan ke lapangan setelah berumur 7-8 minggu setelah semai atau setelah bibit mempunyai 4-5 helai daun. 3. Pengolahan lahan Dilakukan menggunakan cangkul atau bajak tergantung pada kondisi lahan dan luas lahan yang akan diolah. Lahan dicangkul sedalam 30 cm sampai gembur, kemudian tanah diratakan dan dibersihkan dari gulma dan sisa – sisa tanaman. Pembuatan guludan dilakukan di lahan darat dan lahan sawah berbeda. Untuk lahan kering / tegalan, lahan dicangkul sampai gembur lalu dibuat bedengan ukuran lebar 1 – 1,2 m, tinggi 30 cm, dan jarak antar bedeng 50 cm. Dibuat lubang tanam dengan jarak tanam (50 – 60 cm) x (40 x 50 cm). Pada tiap bedengan ada 2 baris tanaman. Untuk lahan sawah, dibuat bedengan di areal tanam dengan ukuran lebar 1,5 m antara bedengan dibuat parit sedalam 50 cm dan lebar 50 cm. Tanah di atas bedengan dicangkul sampai gembur. Kemudian dibuat lubang – lubang tanaman dengan jarak tanam 50 cm x 40 cm. Tiap bedengan terdapat 2 baris tanaman. 4. Pemupukan Untuk penanaman cabai secara monokultur di lahan kering, pupuk dasar yang terdiri atas pupuk kandang (20 – 30 ton/ ha) dan TSP (100 – 150 kg / ha) diberikan seminggu sebelum tanam. Pupuk susulan terdiri atas Urea (100 – 150 kg / ha), ZA (300 – 400 kg/ha), dan KCl (150 – 200 kg / ha) diberikan pada umur 3,6 dan 9 minggu setelah tanam, masing – masing sepertiga dosis. 5. Penanaman Bervariasi menurut jenis tanah dan ketinggian tempat. Pada tanah bertekstur liat, sistem penanaman dalam bedengan dengan 2-4 baris tanaman tiap bedengan lebih efisien. Pada tanah bertekstur sedang sampai ringan, sistem penanaman yang tepat adalah dengan barisan tunggal. Pada saat tanam, tanah harus cukup lembab, agar bibit cabai tumbuh lebih cepat. Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari. Pemilihan waktu tanam cabai merah yang tepat sangat penting, terutama dalam hubungannya dengan ketersediaan air, curah hujan, serta gangguan hama dan penyakit secara umum. Secara umum, waktu tanam cabai merah yang tepat untuk lahan beririgasi teknis adalah pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. 6. Pengairan Di lahan tegalan, ketersediaan air tergantung pada hujan. Oleh karena itu waktu tanam perlu diperhatikan agar tanaman memperoleh cukup air selama masa pertumbuhannya. Kelembaban tanah yang merata selama masa pertumbuhan sangat penting untuk tanaman cabai merah. Masa kritis tanaman cabai adalah pada saat pertumbuhan vegetatif yang cepat, pembentukan bunga, dan pembentukan buah 7. Pengendalian hama penyakit dan gulma Untuk menjaga kualitas tanaman dan memperoleh hasil yang maksimal, diusahakan tanaman bebas dari serangan hama dan penyakit. Namun, jika hama dan penyakit terlanjur menyerang tanaman maka perlu pengendalian secara kuratif menggunakan pestisida. Gulma merupakan masalah penting dalam budidaya cabai merah. Tanaman pengganggu ini berkompetisi memperebutkan ruang, cahaya, air dan unsur hara, serta dapat menjadi inang dari hama dan penyakit. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual yaitu dengan cara penyiangan, atau dengan penyemprotan herbisida 8. Panen Tanaman cabai yang ditanam di dataran rendah dapat dipanen 60 – 80 hari setelah tanam dengan interval 3 – 7 hari. Di dataran tinggi biasanya waktu panen lebih lambat yaitu sekitar 4 bulan setelah tanam. Untuk memperoleh mutu benih yang baik, sebaiknya pemanenan dilakukan ketika buah sudah berwarna merah penuh. 9. Prosesing Benih Dalam prosesing benih cabai, perontokan benih dapat dilakukan secara manual untuk tanaman cabe yang jumlahnya sedikit. Untuk jumlahnya banyak dapat digunakan alat bantu seperti penggiling daging yang telah dimodifikasi, yaitu ujung pisau ditumpulkan untuk mengekstrak benih cabai. Prosesing benih cabai dengan cara manual akan diperoleh benih dengan kualitas yang lebih baik, warna benih kuning jerami, kerusakan benih hampir tidak ada dan persentase daya kecambah lebih tinggi. Kelemahannya adalah waktu prosesing lebih lama dibandingkan dengan prosesing benih dengan menggunakan bantuan alat. Alat-alat yang akan digunakan dalam prosesing benih harus bersih dan bebas dari kemungkinan campuran benih dari varietas lain. Setelah prosesing, benih dapat dikeringkan dengan cara dianginkan, tidak di bawah sinar matahari langsung atau dengan cara dikeringkan di ruang pengering dengan suhu 34â—¦C selama kurang lebih 5-6 hari. Setelah pengeringan dilakukan sortasi benih, yaitu pemilihan benih yang berukuran normal dan bernas. Untuk menghindari adanya penyakit atau hama yang terbawa dari lapangan atau selama dalam penyimpanan, benih dapat diberi perlakukan pestisida yang berbahan aktif Metalaxyl dengan konsentrasi 0,2% Untuk penyimpanan jangka panjang, sebaiknya benih dikeringkan sampai kadar airnya mencapai 7 – 8 %. Benih disimpan dalam kantung almunium foil atau dalam wadah yang terbuat dari kaca atau metal. Tempat penyimpanan benih harus tertutup rapat agar udara tidak dapat masuk ke dalam wadah tersebut 10. Gudang Penyimpanan Benih Jika kadar air benih awal sudah baik dan konstan, yaitu lebih kurang 7%, maka untuk penyimpanan jangka menengah (medium) benih ditempatkan di cold storage dengan kelembaban 15-50%. Dua faktor yang menentukan kualitas dan daya tahan benih di tempat penyimpanan benih (gudang benih) adalah kadar air benih dan suhu rendah di gudang penyimpanan . Untuk penyimpanan benih jangka menengah (18 – 24 bulan), suhu yang diperlukan adalah 16â—¦C- 20â—¦C, dan kelembaban 50%. Susi Deliana Siregar Daftar Pustaka: Permadi, A.H. dan Y. Kusandriani. 1995. Pemuliaan Tanaman Cabai dalam Agribisnis Cabai, Penerbit PT. Penebar Swadaya, Jakarta; Kusandriani dan A. Muharam, 2005, Panduan Teknis PTT Cabai Merah No.1, Produksi Benih Cabai; Sumarni, N. 1996. Budidaya Tanaman Cabai Merah, Jakarta