Tanaman sagu (Metroxylon sp) merupakan tanaman asli Indonesia. Sekitar 55% sagu dunia terdapat di Indonesia. Tanaman sagu adalah salah satu komoditi bahan pangan penghasil karbohidrat yang potensial dan dapat digunakan untuk penganekaragaman pangan. Sagu menempati urutan ke-4 sebagai sumber karbohidrat penting di Indonesia setelah ubi kayu, jagung dan ubi jalar. Sagu merupakan bahan makanan pokok untuk beberapa daerah di Indonesia seperti Maluku, Irian Jaya dan sebagian Sulawesi. Tanaman sagu memiliki kandungan pati yang cukup banyak dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan antara lain dapat diolah menjadi bahan makanan seperti bagea, mutiara sagu, kue kering, mie, biskuit, kerupuk dan laksa. Tanaman sagu mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan tanaman penghasil karbohidrat lainnya, yaitu : Dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang berawa Panen tidak tergantung musim, tahan dan mudah dalam menyimpannya; Mengeluarkan anakan sehingga panen dapat berkelanjutan tanpa melakukan penanaman ulang. Perbanyakan Secara Generatif Perbanyakan secara generatif yaitu dengan menggunakan biji yang berasal dari buah yang sudah tua dan rontok dari pohon induknya, tidak cacat fisik, besarnya rata-rata dan bernas. Pohon induk yang baik adalah pohon yang subur, tumbuh pada lahan yang wajar serta produksi klon rata-rata tinggi. Perbanyakan tanaman secara generatif belum optimal keberhasilannya, terutama dalam perkecambahan biji. Perbanyakan Secara Vegetatif Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit berupa anakan yang melekat pada pangkal batang induknya yang disebut dangkel atau abut (anakan sagu). Syarat bibit untuk pembibitan cara vegetatif adalah berasal dari tunas atau anakan yang umurnya kurang dari 1 tahun, diameter 10-13 cm, tidak terserang hama dan penyakit, berat anakan 2-3 kg, tinggi anakan +1 meter dan punya pucuk daun 3-4 lembar, apabila disayat bagian dalam anakan berwarna merah muda dan keras. Warna ini menandakan bahwa anakan tersebut telah memenuhi syarat sebagai calon bibit. Anakan yang akan digunakan berbentuk “L”, karena memiliki jumlah cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan bibit dengan bentuk yang lainnya sehingga presentase hidupnya lebih tinggi. Selain itu, anakan sagu dipangkas daunnya dengan meninggalkan daun tombak, untuk mengurangi penguapan, dan untuk memudahkan pegangkutan Adapun cara pengadaannya sebagai berikut: Pengambilan dangkel dipilih yang terletak di permukaan atas. Pemotongan dilakukan di sisi kiri dan kanan sedalam 30 cm, tanpa membuang akar serabutnya. Dangkel yang telah dipotong, dibersihkan dari daun-daun dan ditempatkan pada tempat yang mendapat cahaya matahari langsung dengan bagian permukaan belahan tepat pada tempat di mana cahaya matahari jatuh selama 1 jam. Luka bekas irisan dangkel yang masih tertanam segera dilumuri dengan zat penutup luka (seperti: TB-1982 atau Acid Free Coalteer) untuk mencegah hama dan penyakit. Bibit sagu direndam dalam air aerobic selama 3-4 minggu. Penyiapan dangkel sebaiknya dilakukan pada waktu menjelang sore hari. Pada sore hari dangkel dikumpulkan dan pada waktu malam hari diangkut ke lahan, untuk menghindari kerusakan dangkel oleh cahaya matahari. Selanjutnya dilakukan pembibitan/persemaian abut (anakan sagu). Persemaian bertujuan memberikan kondisi yang sesuai atau aklimatisasi untuk abut-abut yang akan ditanam di lapangan. Aklimatisasi bertujuan agar abut tersebut tidak stres, sehingga selama proses persemaian kondisi abut baik dan sehat untuk ditanam di lapangan. Lama bibit di persemaian yaitu selama tiga bulan, bibit memiliki rata-rata jumlah daun 2-3 helai dan perakaran yang baik sehingga bibit sudah siap dipindah ke lapang. Pemibibitan tanaman sagu dapat dilakukan dengan 4 (empat) cara, yaitu: (1) Pembibitan dengan Sistem Rakit; (2) Pembibitan Mengunakan Polybag; (3) Pembibitan dengan Perendaman di Air Kolam dan (4) Tanpa Pembibitan atau ditanam langsung. Pembibitan menggunakan rakit yang diletakkan di atas air yang mengalir. Rakit dapat dibuat dari pelepah tua tanaman dewasa atau dari bambu. Anakan disusun di atas rakit yang telah diletakkan lebih dahulu di atas air yang mengalir. Persemaian di atas rakit dimaksud agar calon bibit dapat memperoleh oksigen yang cukup untuk pertumbuhannya. Keuntungan menggunakan teknik persemaian rakit adalah kemampuan tumbuh bibit tinggi serta pemeliharaan tanaman sangat sedikit. Dalam satu rakit berukuran 3 x 1 meter dapat disemaikan 60 – 100 anakan sagu tergantung pada ukuran bonggolnya dan anakan sagu diatur searah dengan rakit. Pada persemaian dengan menggunakan polibag digunakan tanah gambut ke dalam polibag tersebut. Persemaian dengan polibag menghasilkan nilai rata-rata panjang tunas yang rendah jika dibandingkan dengan sistem rakit dan kolam. Hal ini karena kadar air polibag cukup rendah, sedangkan bibit sagu membutuhkan kadar air yang tinggi untuk pertumbuhannya. Disusun oleh : Rahmawati Penyuluh Madya BBP2TP Bogor Sumber : Puslitbangbun.pertanian.go.id; disnakbun.banjarkab.go.id Gambar : Puslitbangbun.pertanian.go.id