Benih Sebar (BR) adalah benih yang diproduksi oleh produsen/penangkar benih di daerah dan pengendalian mutunya melalui sertifikasi benih oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) atau Sistem Manajemen Mutu. Label benih sebar berwarna biru. Proses sertifikasi benih merupakan rangkaian kegiatan yang diawali dengan pemeriksaan dan pengawasan produksi benih di lapangan, pengujian mutu benih di laboratorium, dan penerbitan sertifikat atau label benih. Tujuan sertifikasi benih adalah untuk menjamin kemurnian genetik, mutu fisik, dan mutu fisiologis benih sesuai standard mutu yang ditetapkan dan layak untuk disebarluaskan atau dijual kepada pengguna dalam hal ini para petani. Produksi Benih Sebar (F1) dilakukan melalui persilangan dua inbrida untuk menghasilkan benih hibrida silang tunggal (ST). Tetua jantan dan betina ditanam dalam barisan yang berbeda secara berselang-seling dengan perbandingan empat baris tetua betina dan satu baris tetua jantan atau tergantung pada banyaknya tepungsari yang dihasilkan oleh tetua jantan. Semua tanaman pada baris tetua betina dilakukan pencabutan bunga jantan (detasseling) pada saat dua hari bunga jantan terlihat keluar dari kuncup agar tidak terjadi penyerbukan sendiri pada baris tetua betina. Yang harus diperhatikan pada perbanyakan benih galur inbrida atau produksi Benih Sebar yaitu perlunya pencabutan tanaman tipe simpang (roguing) pada kedua induk jantan dan betina sebelum berbunga. Tanaman yang terlalu tinggi dan yang vigornya mencolok dibandingkan keragaan rata-rata pertanaman harus dibuang. Demikian juga karakter utama pada tanaman yang menjadi penciri suatu galur sesuai data yang ada di deskripsi varietas yaitu warna sekam, warna malai, dan warna rambut. Tahapan Produksi Benih Sebar sama dengan perbanyakan benih galur inbrida, kecuali pemisahan petak antara induk jantan dan betina pada perbanyakan benih galur inbrida. Tahapan mulai dari pemilihan lokasi, persiapan lahan, isolasi, tanam, roguing, detasseling, panen, hingga prosessing benih harus sesuai standar mutu Untuk menghasilkan benih hibrida STJ, maka tetua betina (hibrida ST) disilangkan tetua jantan (galur inbrida). Untuk menghasilkan benih hibrida SG, maka sebagai tetua betina dan tetua jantan adalah dua hibrida ST yang berbeda galur inbridanya. Pada produksi benih hibrida STJ, sebagai tetua betina adalah hibrida ST yang berbunganya lebih cepat dibandingkan galur inbrida yang sebagai tetua jantan. Demikian juga untuk hibrida ST yang berbeda umur berbunga antara induk betina dan induk jantan, sehingga diperlukan teknik penundaan atau percepatan periode berbunga pada salah satu tetua. Pemotongan pucuk tanaman pada 21 hari atau 35 hari setelah tanam dapat mempercepat saat 50% tanaman jagung keluar rambut yakni 59 hari menjadi 57 hari setelah tanam Hibrida Silang Tiga Jalur menghasilkan jumlah benih hibrida F1 yang lebih banyak (2 kali lipat) dibandingkan hibrida Silang Tunggal, sehingga harga benih hibrida Silang Tiga Jalur lebih murah hingga 50% dibandingkan hibrida Silang Tunggal. Hal ini disebabkan karena benih yang dipanen pada hibrida Silang Tiga Jalur adalah hasil dari induk betina yang berupa hibrida Silang Tunggal. Hibrida yang dilepas pada umumnya adalah hibrida Silang Tunggal (ST) yaitu persilangan antara dua galur inbrida, kecuali varietas Bima-19 URI dan Bima-20 URI yang merupakan hibrida STJ. Produktivitas Benih Sebar per ha untuk hibrida Silang Tunggal yaitu minimum 2 ton/ha, sedangkan untuk hibrida Silang Tiga Jalur (seperti Bima 19 dan Bima 20) dapat mencapai 4 ton/ha. Potensi hasil benih dari 9 varietas unggul jagung hibrida, untuk tetua betina berkisar antara 2,50 hingga 3,40 ton/ha, dengan produktivitas berkisar antara 1,50 hingga 2,70 ton/ha. Sedangkan untuk tetua jantan berkisar antara 2,50 hingga 3,00 ton/ha dengan produktivitas berkisar antara 1,50 hingga 2,00 ton/ha. Potensi hasil benih varietas unggul jagung hibrida, untuk tetua betina berkisar dari 2,50 hingga 3,40 ton/ha, dengan produktivitas berkisar dari 1,50 hingga 2,70 ton/ha. Sedangkan untuk tetua jantan berkisar dari 2,50 hingga 3,00 ton/ha dengan produktivitas berkisar dari 1,50 hingga 2,00 ton/ha. Galur CY 7 dan CY 10 yang merupakan tetua betina dari varietas unggul jagung hibrida JH-27 dan JH-234 memberikan potensi hasil benih tertinggi masing-masing sebesar 3,30 dan 3,40 ton/ha dengan produktivitas masing-masing 2,50 dan 2,70 ton/ha. Secara umum rata-rata potensi hasil dan produktivitas tetua betina lebih tinggi sekitar 0,30 ton/ha di atas tetua jantan. Pada jagung tidak terjadi maternal effect (pengaruh tetua betia), sehingga galur yang memiliki daya hasil benih lebih tinggi dijadikan sebagai tetua betina, sedangkan galur yang menghasilkan tepungsari lebih banyak dijadikan sebagai tetua jantan. Ditulis ulang oleh : Rahmawati BBP2TP Bogor Sumber : http://pangan.litbang.pertanian.go.id/files/perakitanteknologijagunghibrida.pdf Gambar : http://pangan.litbang.pertanian.go.id/files/perakitanteknologijagunghibrida.pdf