Loading...

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH SUMBER JAGUNG HIBRIDA

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH SUMBER JAGUNG HIBRIDA
Benih sumber adalah benih yang digunakan untuk memproduksi benih. Kelas-kelas benih meliputi kelas: Benih Inti (BI), Benih Penjenis (BS), Benih Dasar (BD) dan Benih Pokok (BP). Benih sumber dengan mutu genetik dan fisik yang optimal berperan penting dalam produksi dan produktivitas jagung hibrida. Standar mutu harus dijaga mulai dari produksi kelas Benih Penjenis (BS) yang merupakan kelas benih paling murni, sampai ke produksi kelas benih pokok (BP). Tahapan perbanyakan kelas benih mulai dari pemilihan lokasi, persiapan lahan, isolasi, tanam, roguing, detasseling, panen, hingga prosessing benih harus sesuai standar mutu. Teknologi produksi benih sumber jagung (Puslitbangtan, 2016). Pemilihan lokas Lokasi harus mudah diakses dan terdapat isolasi dengan pertanaman jagung petani. Isolasi jarak dengan varietas lain minimal 300 meter. Bila tidak memungkinkan dengan isolasi jarak, maka dilakukan isolasi waktu dengan cara mengatur waktu pembungaan agar berbeda keluar tepugsarinya minimal 21 hari setelah tanam. Penyiapan lahan. Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman jagung sebelumnya. Pengolahan tanah dilakukan secara sempurna dan diratakan. Penyiapan benih. Kebutuhan benih per hektar sekitar 15-20 kg tergantung ukuran benih. Daya kecambah benih harus lebih dari 95% (tiga hari saat pengujian kecambah). Untuk menghindari infeksi penyakit bulai, maka sebelum ditanam, benih diberi perlakuan dengan mencampur 2 gram metalaksil (produk) dengan 10 ml air (diaduk rata) untuk setiap 1 kg benih. Benih dikering anginkan beberapa saat. Penanaman: jarak tanam 75 cm x 20 cm (1 biji per lubang). Lubang ditutup dengan tanah atau pupuk kandang setara 1,5-2,0 ton/ha. Tidak dianjurkan melakukan penyulaman karena akan menyebabkan pertumbuhan tanaman bervariasi sehingga sulit untuk membedakan tipe simpang. Pemupukan: diberikan sebanyak tiga kali dengan takaran/ha 300-350 kg Urea (30% saat umur 7-10 hari setelah tanam (HST), 40% saat umur 25-30 HST, dan 30% saat umur 40-45 HST); 200 kg SP36: 100% saat umur 7-10 HST; dan 100 kg KCl (50% saat umur 7-10 HST dan 50% saat umur 25-30 HST). ZA sebanyak 50 kg/ha dapat diberikan jika diperlukan pada tanah yang kekurangan unsur belerang (sulfur). Pemberian pupuk sesuai takaran per ha dibagi dengan jumlah tanaman per ha. Penyiangan dan pembumbunan dilakukan dengan cangkul. Penyiangan pertama dan diikuti oleh pembumbunan dilakukan pada saat tanaman berumur 15-20 HST. Penyiangan kedua dilakukan setelah pemupukan kedua umur 25-30 HST. Pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama dilakukan bila terdapat gejala serangan, terutama penggerek batang yaitu dengan insektisida carbofuran yang diberikan melalui pucuk tanaman dengan takaran 10 kg/ha (3-4 butir carbofuran per tanaman). Pada musim kemarau pemberian air sebanyak 6-8 kali selama pertumbuhan, tergantung tekstur tanah. Pencabutan tanaman tipe simpang dilakukan sebelum berbunga. Tanaman yang terlalu tinggi dan yang vigornya menyolok dibandingkan keragaan rata-rata pertanaman harus dibuang. Tahapan pembentukan kelas benih yang sangat menentukan adalah saat dilakukan roguing. Karakter keraagaan tanaman yang diseleksi (dibiarkan tumbuh dan berbunga) adalah yang sesuai dengan deskripsi agronomis. Panen dilakukan setelah tanaman masak fisiologis yaitu kelobot tongkol telah mengering dan berwarna kecoklatan, biji telah mengeras dan telah mulai membentuk lapisan hitam (black layer) minimal 50% di setiap barisan biji. Pada saat itu biaanya kadar air biji telah mencapai kurang dari 30%. Tongkol yang telah lolos seleksi dan memenuhi kriteria kemudian dipanen, dijemur hingga kering dan diproses lebih lanjut untuk dijadikan benih. Pengeringan tongkol dilakukan hingga kadar air mencapai 16%, kemudian dipipil dengan mesin pemipil atau secara manual. Biji disortasi menggunakan ayakan berdiameter 7 mm atau lubang ayakan disesuaaikan dengan ukuran biji setiap galur. Biji-biji yang tidak lolos ayakan dijadikan sebagai benih dengan cara dijemur atau dikeringkan kembali hingga kadar air mencapai ±10%. Pengujian daya tumbuh benih dilakukan sebelum benih dikemas dalam kantong plastik buram dengan ketebalan 0,2 mm dan dipress (usahakan udara dalam plastik seminimal mungkin). Selama proses pasca panen, mulai saat panen hingga pengemasan maksimum 10 hari. Benih yang telah dikemas, diberi label (nama galur inbrida, tanggal panen, kadar air benih waktu dikemas, dan daya kecambah) dan disimpan di rak-rak benih dalam gudang atau ruang ber-AC agar benih dapat bertahan lama. Ditulis ulang oleh : Rahmawati BBP2TP Bogor Sumber : http://pangan.litbang.pertanian.go.id/files/perakitanteknologijagunghibrida.pdf Gambar : http://pangan.litbang.pertanian.go.id/files/perakitanteknologijagunghibrida.pdf