Loading...

TIGA JENIS JAHE UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS PENAGKAL VIRUS CORONA 19

TIGA JENIS JAHE UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS  PENAGKAL VIRUS CORONA 19
Jahe (zingiber officinale) merupakan salah satu empon-empon, yaitu tanaman akar tinggal atau rimpang yang seringkali digunakan untuk bumbu masak dan jamu tradisional, mempunyai rasa pedas dan hangat di badan. Jahe dikonsumsi dapat untuk menjaga imunitas atau daya tahan tubuh, yaitu merupakan mekanisme tubuh untuk melindungi diri dari serangan penyakit, termasuk mampu menangkal serangan virus Corona 19 yang sedang melanda dunia saat ini. Diakui dunia medis, bahwa jahe memiliki sifat antimuntah, anti peradangan, antimikroba, dan antirimetik. Keempat sifat tersebut berlaku penting dalam menangkal dan mengobati virus jahat yang menjalar di dalam tubuh, termasuk virus Corona 19. Selain itu, penderita terinfeksi virus Corona memiliki gejala yang dapat dicegah dengan jahe, yaitu demam, batuk-batuk, pilek,dan sampai sesak nafas. Cara mengkonsumsi jahe bisa diolah sebagai campuran minuman teh atau langsung direbus hingga mendidih sehingga kandungannya dapat larut dalam air. Setelah dingin, air rebusan jahe tersebut dapat langsung diminum agar bisa mendapatkan khasiatnya. Kalau ingin rasa yang lebih nikmat, air jahe bisa dicampurkan dengan susu atau madu. Oleh karena itu, sejak mulai pandemi virus Corona 19, banyak orang mencari jahe dan harganyapun menjadi mahal, bahkan di pasar kota-kota besar sampai kosong atau kehabisan stok. Kondisi ini merupakan peluang bagi para petani untuk melakukan budidaya jahe untuk meningkatkan pendapatan. Sebelumnya petani harus mengetahui jenis-jenis jahe karena masing-masing jenis memiliki kegunaan berbeda. Jenis jahe antara lain meliputi: jahe emprit, jahe gajah, dan jahe merah, berikut penjelasan masing-masing jenisnya. Jahe Emprit Jahe emprit juga disebut dengan jahe putih ini paling banyak dijual di pasar-pasar. Jahe ini bentunya kecil dan sedikit pipih dengan serat lembut, dagingnya berwarna putih, dan aroma kurang tajam tetapi rasanya pedas. Selain itu kandungan minyak atsiri yang tinggi, yaitu sekitar 1,7 – 3,8% dari berat kering. Minyak atsiri juga biasa dikenal dengan minyak esensial atau aromatik yang sangat mudah menguap. Jahe emprit ini paling sering digunakan sebagai penyedap masakan dan untuk jamu bentuk segar maupun kering. Jahe Gajah Jahe gajah sering disebut jahe badak, berukuran besar dan gemuk, ruas rimpang menggembung dibanding jenis jahe lainnya. Warna dagingnya cenderung putih kekuningan dan kandungan minyak atsiri paling sedikit hanya sekitar 0,18 - 1,66% dari berat kering, maka rasanya kurang pedas dibandingkan dengan jahe emprit maupun jahe merah. Jahe gajah ini paling cocok digunakan untuk bahan utama pembuatan permen atau minuman karena dagingnya yang tebal. Banyak juga orang yang menggunakannya sebagai penyedap masakan. Jahe Merah Kulit rimpang berwarna merah sesuai namanya, ukuran lebih kecil dibanding dua jenis jahe lainnya, serat kasar. Kandungan minyak atsiri sangat tinggi, sekitar 2,58 – 3,90% dari berat kering, sehingga rasanya sangat pedas. Jahe merah ini cukup langka dan harganya lebih mahal disbanding dengan jahe emprit dan jahe gajah. Meskipu begitu, jahe merah tetap banyak dicari oleh para produsen (perusahaan), karena digunakan sebagai bahan utama pembuatan minyak jahe, obat-obatan, dan jamu tradisionil. Dari penjelasan di atas diketahui, bahwa beda jenis jahe beda juga kegunaannya. Jadi para petani melakukan budidaya jahe bisa menyesuaikan dengan tujuan pasar: menjual ke pemesan, dijual ke pasar tradisional atau perusahaan. Semoga sukses untuk usaha tani jahe. (Penulis: Susilo Astuti H. – Penyuluh Pertanian Pusluhtan) Daftar Pustaka: Pedoman Budidaya Tanaman Obat Yang Baik, Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementan. 2014. https://www.honestdocs.id/10-manfaat-jahe-yang-diakui-dunia-medis. Dipublish tanggal 22 Februari 2019 terakhir Maret 23 Mar 2020. Varietas dan Nomor Harapan Unggul. Tanaman Obat dan Aromatik. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor. 2006.