Loading...

Tingkat Adopsi PTS Petani

Tingkat Adopsi PTS Petani
Padi Tanam Sabatang (PTS) adalah metode atau cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien melalui sistem perakaran dengan berbasis pada tiga aspek pengelolaan, yaitu: pengelolaan Tanah yang sehat, pengelolaan Tanaman yang efisien, dan pengelolaan Air yang hemat. Metode PTS adalah metode SRI yang telah diujicoba dan berhasil di beberapa lokasi di Sumatera Barat, seperti di Kabupaten Solok, Pasaman, Pesisir Selatan, Lima Puluh Kota, Sijunjung, dan Kota Padang (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, 2008). Ada 12 komponen teknologi utama yang diintroduksikan dalam gerakan PTS di Sumatera Barat. Ke-12 komponen teknologi tersebut adalah: (1) Pembuatan kompos; (2) Pemilihan varietas; (3) Seleksi benih; (4) Teknis persemaian; (5) Teknis penyiapan lahan; (6) Penyiapan lahan; (7) Teknis penanaman; (8) Teknis pengairan; (9) Penyiangan; (10) Pemupukan; (11) Pengendalian hama dan penyakit; dan (12) Waktu panen yang tepat dilakukan lebih awal, yaitu pada saat matang fisiologis. Pada program PTS, pembuatan kompos jerami padi dengan memakai mikroorganisme lokal (MOL) atau Trichoderma sebagai mikroba perombak. Varietas yang dianjurkan adalah yang sesuai dengan keinginan dan kebiasaan petani. Seleksi benih sebelum disemai menggunakan larutan garam dengan memakai telur sebagai indikator, air larutan garam bisa dipakai untuk seleksi benih apabila telur ayam telah melayang apabila dimasukkan ke dalam larutan tersebut. Persemaian yang dianjurkan adalah memakai baki atau wadah, tidak di lapangan, benih disemaikan jarang-jarang. Selanjutnya sebelum tanam, lahan diolah sempurna, harus datar atau rata, dan dibuat selokan keliling dan di tengah petakan sawah untuk memudahkan pengaturan air sawah. Kompos jerami disebarkan di permukaan tanah sawah secara merata sebelum dilakukan pengolahan tanah terakhir. Bibit dipindahkan dari persemaian ke sawah umur 8-12 hari. Jumlah bibit hanya 1 batang/rumpun. Posisi akar horizontal, membentuk sudut siku-siku dengan tanaman batang tanaman. Jarak tanam 30 x 30 cm atau lebih. Pada metode PTS, air sawah harus selalu dipertahankan dalam kondisi macak-macak, kecuali pada umur tanaman 9-10 HST dan 19-20 HST, yakni satu hari sebelum dan pada saat dilakukan penyiangan pertama tanaman. Penyiangan harus dilakukan mulai tanaman berumur 10 hari, selanjutnya dilakukan secara periodik dengan interval 10 hari. Tanaman hanya dipupuk dengan pupuk organik, tanpa pupuk buatan. Pemberian pupuk organik dilakukan sebelum tanam. Ada tiga jenis hama yang menjadi perhatian utama dalam PTS, yaitu: penggerek batang, tikus, dan walang sangit. Cara pengendalian sebagai berikut: Penggerek batang dikendalikan memakai tabung parasit, Tikus dengan tabung bambu, Walang sangit dikendalikan dengan memakai perangkap sabut kelapa pakai umpan. Dari hasil penelitian, diketahui tingkat adopsi atau penerapan masing-masing komponen teknologi dalam program PTS tersebut masih bervariasi, didapatkan data rata-rata petani di Kabupaten Solok baru mencapai 25,36%. Persentase diatas rata-rata penerapan teknologi ada pada 8 komponen teknologi, sedangkan 4 komponen teknologi lainnya masih dibawah rata-rata. Persentase tertinggi penerapan teknologi PTS terdapat pada komponen teknologi penyiapan lahan (58,7%) dan seleksi benih (51,72%). Banyak diadopsinya komponen teknologi teknik penyiapan lahan adalah karena sangat membantu dalam mengendalikan hama keong mas yang tampaknya sudah menyebar ke seluruh wilayah. Sedangkan teknologi seleksi benih banyak diadopsi karena penerapannya cukup mudah dan membutuhkan bahan yang cukup sederhana. Sedangkan persentase terendah terdapat pada komponen teknologi pengendalian hama penggerek batang dan walang sangit (0,0%), pemupukan organik (0,0%) serta teknik penanaman saat umur bibit 8-12 hari (3,45%). Komponen-komponen teknologi tersebut termasuk yang sulit untuk diterapkan dan dikembangkan, terutama karena dipandang kurang aplikatif dan sangat menyulitkan petani. Penyusun: Slamet Muharmoko, SP, M.Si (PP Muda - PP Kab. Solok) Sumber tulisan: Dipertahor. 2008. Optimalisasi Produksi dengan Metode Padi Tanam Sabatang. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, Padang. Zul Irfan. 2012. Gerakan Padi Tanam Sabatang (PTS) di Sumatera Barat: Konsep dan Implementasinya di Lapangan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Solok.