Loading...

Titik kritis penggunaan air pada budidaya kedelai di lahan sawah

Titik kritis penggunaan air pada budidaya kedelai  di lahan sawah
Tanaman kedelai dapat tumbuh di iklim tropis dan subtropis yang bila sesuai ditanami jagung maka cocok juga ditanami kedelai. Iklim kering lebih disukai tanaman kedelai dibandingkan iklim lembab dan hasilnya mencapai optimal bila curah hujan antara 100-200 mm/bulan. Strategi peningkatan produksi kedelai dengan memanfaatkan tanah bera (tidak digunakan) di lahan sawah khususnya setelah pertanaman padi di akhir musim hujan yang tergantung pada ketersedian air. Hanya perlu diperhatikan bila penanaman kedelai di lahan sawah bekas padi mempunyai kendala yang jenuh air ataupun kekeringan. Pada awal pertumbuhan, kedelai sering mengalami cekaman air akibat genangan, terutama di tanah-tanah berat, dan di akhir periode pertumbuhan sering mengalami cekaman kekeringan akibat pengairan yang tidak mencukupi kebutuhan. Kekurangan/kelebihan air dapat dilakukan dengan melakukan teknik pemanenan air, yaitu mengumpulkan dan menampung air limpasan ke dalam sebuah parit. Air tampungan selanjutnya dapat digunakan untuk pengairan tanaman ketika tidak ada hujan Genangan dalam parit yang disebut budidaya basah dapat meningkatkan hasil biji kedelai di lapangan 20% sampai 80%. Sistem irigasi parit dapat dilakukan sesuai kebutuhan tanaman. Berbeda dengan teknik pemberian lumpur yang terus menerus yang akan menyebabkan permeabilitas tanah menjadi rendah dan memperburuk drainase sehingga kurang menguntungkan bagi pertumbuhan akar kedelai. Kapasitas lapang merupakan gambaran kandungan air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah, umumnya 1 atau 2 hari setelah kondisi jenuh. Hal ini tergantung pada tekstur tanah, tipe mineral liat, kandungan bahan organik tanah, dan struktur tanah. Makin tinggi kandungan liat makin tinggi pula kandungan air pada kapasitas lapang. Peningkatan kandungan C-organik sebesar 1% meningkatkan kandungan air tersedia sebesar 2%. Tidak semua air yang berada pada kondisi antara kapasitas lapang dan titik layu permanen dapat diserap oleh tanaman. Tanaman kedelai mempunyai 5 fase kritis yaitu fase umur 0–7 HST, fase pertumbuhan (umur 25–35 HST), fase berbunga (umur 45–55 HST), fase pengisian polong umur 60–70 HST dan fase pemasakan polong 85–95 HST, tergantung varietas dan kondisi lingkungan. Selama pertumbuhannya, kedelai (85-100 hari) membutuhkan air sebanyak 300 mm hingga 450 mm. Fase Umur 0-7 hari setelah tanam (HST) Kebutuhan air selama periode vegetatif (sampai umur 35 hari) sebanyak 126 mm. Selama periode tumbuh, evapotranspirasi kedelai tidak merata, pada saat mulai perkembangan hingga berumur 15 hari kebutuhan air sebesar 4,30 mm/hari. Fase pertumbuhan (umur 25–35 HST) Kebutuhan air tanaman pada awal periode pertumbuhan sedikit,kemudian meningkat hingga kanopi daun berkembang dan menutup sempurna, selanjutnya berkurang hingga menjelang panen. Akibat yang dapat terjadi bila pada fase pertumbuhan aktif kekurangan air adalah menghambat pertumbuhan dan merontokan daun pada cabang bawah. Varietas Grobogan dan Galunggung tahan terhadap cekaman kekeringan dan mempunyai kebutuhan air yang rendah yang disiram di interval 4 dan 8 hari masih dapat tumbuh dengan baik. Sedangkan varietas Burangrang, Kaba, Argomulyo, Panderman, Ijen, Baluran, Petek dan Malabar agak tahan terhadap cekaman kekeringan. Fase berbunga (umur 45–55 HST) dan Fase pengisian polong umur 60–70 HST Jumlah kebutuhan air untuk evapotranspirasi pada umur 31-70 HST sebesar 6,08 mm/hari. Akibat kekurangan air adalah meningkatkan derajat kerontokan bunga ataupun bila terjadi kekeringan maka terjadi penundaan umur berbunga sedangkan bila kekurangan air di fase pengisian polong akan menyebabkan penghambatan pembentukan polong dan polong yang telah ada akan lebih mudah rontok. Kondisi terjadi genangan (terlalu banyak air) disaat fase pembungaan hingga pengisian polong menyebabkan penurunan hasil mencapai 50% dibanding genangan pada fase pertumbuhan lain. Fase pemasakan polong 85–95 HST Jumlah kebutuhan air untuk evapotranspirasi di fase 71-83 HST sebesar 5,47 mm/hari. Akibat kekurangan air adalah mengurangi biji yang terjadi. Fase pembentukan polong dan pengisian polong merupakan saat yang peka terhadap kekurangan air. Penurunan hasil akibat kekeringan dapat mencapai 35-69%, bergantung pada periode pertumbuhan tanaman dan lama terjadinya kekeringan. Oleh karena itu, pengaturan pola tanam, penggunaan varietas toleran kekeringan, konservasi lengas tanah, dan pemanfaatan air secara efisien merupakan faktor penting dalam budi daya kedelai. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian) Sumber : Pengelolaan Air dan Drainase pada Budi Daya Kedelai; Arief Harsono, R.D. Purwaningrahayu, dan A. Taufiq 2016 Analisis neraca air budidaya tanaman kedelai (glycine max [l] merr.) Pada lahan kering; Oktaviani, Sugeng Triyono dan Nugroho Haryono Jurnal Teknik Pertanian Lampung– Vol. 2, No. 1: 7 – 16 2013 Kebutuhan air, efisiensi penggunaan air dan ketahanan kekeringan kultivar kedelai (water use, water use efficiency and drought tolerance of soybean cultivars). Sri Suryanti, Didik Indradewa, Putu Sudira, Jaka Widada. AGRITECH, Vol. 35, No. 1, Februari 2015