Serangan Hama dan penyakit merupakan masalah utama dalam budidaya tanaman padi. Kegagalan dalam budidaya tanaman padi sebagian besar disebabkan oleh gangguan OPT tersebut. Pengendalian hama dan penyakit yang kurang memperhatikan kaidah-kaidah pengendalian yang benar, akan berdampak pada keseimbangan ekosistem lingkungan. Sebagaimana diketahui bahwa pada prinsipnya setiap hama dan penyakit secara alami memiliki musuh alam yang membuat populasi hama tersebut menjadi stabil, namun pengendalian yang kurang tepat, khususnya pengendalian secara kimiawi berdampak pada musnahnya musush-musuh alami hama, sehingga hama dapat berkembang secara optimal tanpa ada gangguan dari musuh alami tersebut. Salah satu hama utama yang menyerang tanaman padi adalah hama penggerek batang. Keberadaan hama ini ditandai dengan munculnya ngengat dan kematian tunas-tunas tanaman padi akibat adanya larva di dalam batang yang menyerang sistem pembuluh tanaman padi. Hama ini bisa merusak tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi.   Jika serangan terjadi ketika pada saat pembibitan sampai fase anakan, hama ini disebut sundep, dan bila serangan terjadi pada fase pembungaan disebut beluk. Teknik pengendalian hama ini telah banyak dilakukan petani, mulai dari pengaturan tanam yang dilakukan secara serempak, untuk membatasi sumber makanan bagi hama penggerak batang, rotasi tanaman dengan tanaman non padi untuk memutus siklus hidup hama. Disamping itu pengendalian secara mekanik dan fisik yaitu dengan mengumpulkan kelompok telur, menangkap ngengat dewasa dengan menggunakan light trap, dan juga dengan menyabit tanaman serendah mungkin pada saat panen, dan juga bisa dilakukan dengan penggenangan setinggi 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati.  Hal yang paling sering dilakukan oleh petani dalam pengendalian hama ini adalah dengan pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida, baik pada persemaian maupun pada pertanaman. Salah satu teknologi yang dilakukan petani dalam melakukan pengendalian hama penggerek ini,  khususnya petani yang berada di Subak Timpag, Kecamatan Kerambitan Kabupaten Tabanan, adalah pengendalian secara mekanik dengan memungut kumpulan telor-telor serangga hama yang ada di areal sawah, dan ditampung dalam botol. Dimana metode ini merupakan teknologi pengendalian dengan secara mekanik dan pengendalian secara hayati. Adapun teknik pengendaliannya adalah sebagai berikut. Cari botol aqua tanggung yang kosong, lalu salah satu sisinya dibuatkan lubang menyerupai jendela, dengan posisi daun jendela berada pada sisi bagian atas sehingga bila ada hujan tidak akan masuk kedalam botol, dengan ukuran jendela 6 x 4 cm Pada bagian pinggir-pinggir jendela pada sisi bagian dalam diolesi dengan gemuk. Diolesi gemuk dengan maksud apabila telur nanti menetas menjadi larva, maka larva tidak bisa keluar karena takut dengan gemuk tersebut, sehingga larva mati di dalam botol aqua, dan kalau musuh alami sudah menetas ia bisa keluar dan mencari telor-telor baru yang mau diparasit. Setiap telor-telor yang ditemukan di lapangan dipungut dan dimasukkan kedalam botol tersebut. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan dan penyebaran parasitoid maka sebaiknya dalam setiap 10 are dibuatkan satu tempat penampungan telur. Telor-telor yang telah dimasukkan kedalam botol biasanya sebagian telah diparasit oleh parasitor yang banyak ditemukan di lapangan seperti, Telenomus sp., yang dapat memerasit kelompok telur rata- 50 %, Tetrasticus sp., mampu memarasit rata-rata 15 %, dan Trichogramma japonicum mampu memarasit rata-rata 6 %.  Metode pengendalian seperti ini, membuat musuh-musuh alami tidak akan mati melainkan dapat hidup terus, yang tentunya bisa memarasit telor-telor yang ada dilapangan. Dengen demikian pengendalian dengan metode seperti ini, merupakan metode pengendalian yang ramah lingkunga, sehingga tidak menimbulkan dampak pencemaran pada lingkungan. ( I Wayan Pasek Suardika, SP., BPP Kecamatan Kerambitan).Â