Tanaman kakao (Theobrema cacao L.) merupakan komoditas perkebunan penting Indonesia, karena merupakan komoditas ekspor. Indonesia menjadi negara ekportir kakao terbesar ke-3 dunia setelah Ghana dan Pantai Gading. Tanaman kakao mencapai produksi maksimal umur 5-13 tahun, sesudah itu mengalami penurunan produksi dan harus dilakukan peremajaan. Pada peremajaan dengan penanaman bibit baru, tanaman kakao mulai berproduksi pada umur 2,5-3 tahun. Hal ini menunjukkan terdapat potensi lahan yang cukup luas pada perkebunan kakao yang diremajakan yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman aneka kacang. Musim tanam yang sesuai adalah pada musim kemarau ke-I (MK I) dimana curah hujan sudah berkurang, yaitu curah hujan selama periode pertumbuhan tanaman 300-400 mm. Periode pertumbuhan tanaman sejak tanam hingga panen untuk tanaman kedelai dan kacang tanah adalah 3 bulan, sedangkan untuk kacang hijau dan kacang tunggak 2 bulan.Pola tanam yang dapat diterapkan adalah jagung atau padi gogo pada musim hujan, kemudian pada MK I dilanjutkan dengan menanam tanaman kacang tanah, kedelai, kacang hijau, dan kacang tunggak Penyiapan lahan Lahan dibersihkan dari gulma atau daun-daun kakao yang rontok. Daun-daun tersebut tidak perlu dikeluarkan dari lahan atau dibakar, tetapi cukup dikumpulkan pada lajur/barisan tanaman kakao. Pengolahan tanah minimum, yaitu hanya mengolah tanah pada lajur yang akan ditanami dengan jarak antar lajur 30 cm, sekaligus difungsikan untuk tempat menanam benih . Tujuan olah tanah minimum adalah untuk meminimalkan kerusakan perakaran tanaman kakao karena 80% perakarannya berkembang pada lapisan tanah 0-30 cm Pemilihan Varietas Varietas yang sesuai adalah yang memiliki karakter toleran naungan. Tingkat naungan dari tanaman kakao yang diremajakan dengan cara sambung samping adalah 30-70%. Pada peremajaan dari bibit, naungan awal berasal dari tanaman penaung kakao seperti pohon pisang, pepaya, atau tanaman gamal (Gliricidea). Selain toleran naungan, varietas yang ditanam sebaiknya memiliki karakter toleran kekurangan air karena lahan kakao adalah lahan kering dan tidak terdapat fasilitas irigasi. Penggunaan varietas berumur genjah sangat dianjurkan untuk meminimalkan periode cekaman naungan yang berasal dari tanaman kakao yang terus tumbuh. Selain itu, pemilihan varietas harus disesuaikan dengan kesukaan konsumen agar hasil panen laku dijual. Kesukaan konsumen pada umumnya didasarkan pada keragaan biji atau polong Persiapan Tanam Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum menanam tanaman aneka kacang adalah: Jarak tanam kakao: pada umumnya 3 m ×3 m atau 4 m ×3 m. Artinya lahan yang bisa ditanami pada lorong di antara tanaman kakao adalah3 m atau 4 m. Jarak tanaman aneka kacang terhadap tanaman kakao minimal 0,5m. Artinya luas efektif yang bisa ditanami pada jarak antar baris kakao 3 m dan 4 m berturut-turut66% dan 75%.c.Menyiapkan benih: jumlah benih yang dibutuhkan tergantung komoditas dan varietas yang ditanam, serta jarak tanam kakao Penanaman Penanaman dilakukan mengikuti alur tanam yang telah dibuat bersamaan dengan penyiapan lahan Pada tanaman kakao dengan jarak tanam antar baris 3 m dan 4 m masing-masing dapat ditanami sebanyak 6 dan 7 baris. Sebelum tanam benih dicampur insektisida dengan bahan aktif tiametoksam (seperti Cruiser) atau yang berbahan aktif karbosulfan (seperti Marshal) dengan dosis sesuai anjuran formulator (tertulis dalam kemasan produk). Perlakuan benih sangat penting agar benih tidak dimakan semut atau rayap, karena pada lahan kakao banyak semut dan rayap. Jarak tanam kedelai, kacang hijau dan kacang tunggak adalah 30 cm antar baris dan dalam baris 20 cm atau 30 cm ×20 cm, 2 biji/lubang. Populasi tanaman 220.000 dan 250.000 tanaman/ha masing-masing pada tanaman kakao dengan jarak antar baris 3 m dan 4 m. Jarak tanam kacang tanah adalah 30 cm antar baris dan dalam baris 20 cm atau 30 cm ×20 cm, 1 biji/lubang. Populasi tanaman 110.000 dan 150.000 tanaman/ha masing-masing pada tanaman kakao dengan jarak antar baris 3 m dan 4 m. Setelah tanam, benih ditutup dengan tanah atau dengan pupuk organic yang telah dicampur dolomit. Tujuan penutupan benih adalahuntuk menghindari gangguan pemakan benih (seperti semut), melindungi benih dari sinar matahari, dan benih mendapatkan kelembaban tanah yang cukup agar cepat berkecambahdan serempak. Keragaan tanaman setelah tumbuh. Pemupukan Dosis pemupukan untuk kedelai, kacang tanah, kacang hijau dan kacang tunggak adalah sama, yaitu: Pupuk organik atau pupuk kandang dosis 1-1,5 t/ha. Bila kondisi tanah masam dengan pH <5,5 perlu ditambah dolomit dosis 500-750 kg/ha. Pupuk organik dan dolomit dicampur dan diaplikasikan bersamaan tanam sekaligus untuk menutup benih. Dolomit selain untuk menetralisir kemasaman, juga sebagai sumber unsur hara kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Pupuk SP36 (36% P2O5) dosis 36-54 kg P2O5/ha atau 100-150 kg SP36/ha. Pupuk disebar bersamaan tanam, setelah benih ditutup. Untuk menghemat tenaga kerja, pupuk SP36 dapat dicampur dengan pupuk organik dan dolomit dan disebar dalam barisan tanaman sekaligus untuk menutup benih. Pupuk majemuk NPK Phonska (15-15-15) dosis 150 kg/ha. Pupuk NPK diberikan dua kali yaitu: pemupukan ke-1 pada umur 15-20 hari dan ke-2 pada umur 45-50 hari masing-masing 50% dari dosis pemupukan, diaplikasikan dengan cara disebar di antara barisan tanaman. Pemupukan ke-2 dilakukan bersamaan penyiangan ke-2 atau pembumbunan. Pemeliharaan Tanaman Pemeliharaan tanaman meliputi penjarangan, penyiangan, penggemburan tanah dan pembumbunan, serta pengendalian hama dan penyakit. Penjarangan: Pada jarak tanam 30 cm × 20 cm, 2 tanaman/rumpun adalah jumlah ideal bagi tanaman kedelai, kacang hijau dan kacang tunggak, sehingga jika terdapat >2 tanaman/rumpun maka perlu dikurangi. Jumlah ideal pada tanaman kacang tanah adalah 1 tanaman/rumpun. Penjarangan dilakukan pada umur 10-12 hari. Penyiangan (pembersihan gulma): Pada prinsipnya tanaman diupayakan terhindar dari gangguan gulma (seperti rumput). Periode kritis tanaman terhadap gangguan gulma adalah pada umur 15-20 hari (penyiangan ke-1), dan penyiangan ke-2 (jika diperlukan) dilakukan pada umur 45-50 hari. Frekuensi penyiangan tergantung banyaknya gulma. Penggemburan tanah dan pembumbunan: Penggemburan tanah dilakukan menggunakan cangkul bersamaan dengan penyiangan ke-1 (umur 15-20 hari), sekaligus dilakukan pembumbunan. Tujuan penggemburan tanah dan pembumbunan adalah agar perakaran tanaman berkembang dengan baik dan tanaman tidak mudah roboh. Pada tanaman kacang tanah, penggemburan dan pembumbunan sangat penting agar pembentukan dan perkembangan polong maksimal. Disusun oleh : Rahmawati Penyuluh Pertanian Ahli Sumber : balitkabi.litbang.pertanian.go.id