Loading...

TUMPANGSARI KELAPA DENGAN PADI GOGO

TUMPANGSARI KELAPA DENGAN PADI GOGO
Penanaman Tumpagsari pohon kelapa dengan tanaman padi masih sangat jarang dilakukan biasanya lahan antara kelapa dengan kelapa ditanami oleh tanaman sejenis tanaman pupuk sejenis Crotalaria sp. Kelapa (Cocos nucifera) adalah anggota tunggal dalam marga Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serbaguna, terutama bagi masyarakat pesisir. Kelapa juga adalah sebutan untuk buah yang dihasilkan tumbuhan ini. Kelapa dikenal karena kegunaannya yang beragam, mulai dari makanan hingga kosmetik. Daging bagian dalam dari benih matang membentuk bagian yang secara teratur menjadi sumber makanan bagi banyak orang di daerah tropis dan subtropis. Kelapa berbeda dari buah-buahan lain karena endosperma mereka mengandung sejumlah besar cairan bening, disebut "santan" dalam literatur, dan ketika belum matang, dapat di panen untuk di minum sebagai "air kelapa", atau juga disebut "jus kelapa". Secara tradisional, petani umumnya menanam padi gogo secara tumpangsari, baik dengan sesama tanaman semusim (intercropping) maupun dengan tanaman keras (interculture). Pola tanam tumpangsari tanaman semusim walaupun mengakibatkan produksi padi gogo tidak maksimal, tetapi ada keuntungan lain berupa hasil dari tanaman selain padi dan secara keseluruhan akan lebih menguntungkan dan lebih menjamin stabilitas hasil usahatani yang diperoleh. Berbeda dengan tumpangsari sesama tanaman semusim, tumpangsari dengan tanaman keras hanya dilakukan pada saat fase pertumbuhan awal tanaman keras yaitu, pada saat tanaman pokok belum menghasilkan atau sampai batas naungan maksimum mencapai 50 %. Bilamana tanaman pangan masih diperlukan untuk pertanaman selanjutnya, maka perlu ada seleksi komoditas atau varietas yang tahan naungan. Pertanaman padi gogo sebagai tanaman tumpangsari perkebunan kelapa saja dapat diusahakan sampai tahun ke tiga. Pada pertanaman kelapa dalam, padi gogo sebagai tanaman tumpangsari dapat diusahakan sampai tahun ke tiga, dan setelah kelapa berumur lebih dari 25 tahun baru dapat diusahakan lagi penanaman padi gogo karena mahkota tanaman kelapa sudah mengecil, sehingga penetrasi cahaya yang masuk kepermukaan tanah lebih dari 75 %. Bila usaha pertanaman tumpangsari padi gogo pada pertanaman dapat dilakukan sampai tahun ketiga, maka luasan tersebut dapat mencapai > 0,5 juta ha/tahun. Secara total bila semua potensi pertanaman tumpangsari tersebut digabung, maka potensi wilayah untuk penanaman padi gogo sistim tumpangsari akan mencapai lebih dari 2 juta hektar. Keuntungan Tanaman Tumpangsari Perkebunan.Tanaman tumpangsari padi gogo dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar perkebunan/hutan, karena petani mendapat hasil padi sebelum tanaman pokok menghasilkan. Bila setelah panen padi gogo diikuti oleh tanaman palawija yang lebih tahan kering, maka produktivitas lahan lebih meningkat dan pendapatan petani juga meningkat. Pola tanam yang dianjurkan adalah padi gogo diikuti kacang tanah atau kedelai atau kacang hijau dan selanjutnya bila masih ada hujan dapat diiikuti oleh penanaman kacang tunggak atau kacang uci. Penerapan pola tanam berbasis padi gogo yang intensif seperti tersebut, dapat berfungsi sebagai tindakan konservasi tanah secara vegetatif. Kontak langsung air hujan secara fisik dengan permukaan tanah akan berkurang karena tertahan oleh daun dan ranting tanaman. Selanjutnya penyerapan air secara perkolasi melalui akar tanaman akan meningkat, sehingga aliran permukaan berkurang dan erosi tanah dapat diminimalkan. Keuntungan lain dari tanaman tumpangsari adalah; a) tenaga kerja untuk persiapan tanam dan pemeliharaan tanaman pokok menjadi berkurang, b) residu pupuk yang diberikan pada tanaman pangan yang diusahakan dapat dimanfaatkan oleh tanaman pokok, c) terjadi penambahan bahan organik dari sisa atau limbah tanaman pangan, d) tegakan tanaman pokok lebih baik, e) mengurangi penjarahan, f). pengembalaan ternak bebas dapat dikurangi (ternak perlu dikandangkan agar tidak merusak tanaman pangan yang diusahakan dan pemeliharaan ternak menjadi lebih intensif), serta g) pupuk organik atau pupuk kandang dapat digunakan sebagai substitusi pupuk anorganik atau sebagai sumber pendapat lain bilamana dijual. Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP) Alamat Email : harnati_r@yahoo.com Sumber Bacaan : Ditjenbun. 2014. Pedoman Teknis Pengembangan Tanaman Kelapa. Kementan. Jakarta Sumber gambar berasal dari google.com