PENDAHULUAN Latar Belakang Tanaman lada (Piper Nigrum Linn) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan cukup digemari oleh petani. Sifat lada yang dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama menjadikan komoditas ini dapat dijadikan model investasi yang menguntungkan bagi petani. Sehingga dalam jangka waktu 2-3 tahun petani belum mendapatkan hasil, sedangkan biaya untuk pemeliharaan tanaman harus dikeluarkan. Hal ini menjadi masalah bagi para petani yang memiliki modal terbatas. Gambar 1. Perbandingan pertanaman lada tumpang sari dan monokultur Budidaya tanaman lada yang biasanya menggunakan jarak tanam 2 x 2 m, 2 x 3 m, atau 3 x 3 m, memberikan ruang yang cukup disela tanaman lada untuk dimanfaatkan untuk melakukan budidaya sayuran khususnya kangkung yang tidak memerlukan perlakuan khusus. Tujuan Meningkatkan pendapatan petani lada pada fase awal budidaya lada. Memanfaatkan ruang sela pertanaman lada dan meningkatkan efisiensi pengendalian gulma. Memelihara iklim mikro pada pertanaman lada selalu lembab agar pertumbuhan tanaman lebih optimal saat musim kemarau. BUDIDAYA TANAMAN LADA Persiapan lahan Lahan yang akan digunakan untuk budidaya lada biasanya merupakan lahan semak maupun hutan kecil. Lahan yang sudah dibuka dan dibersihkan dari sisa tumbuhan dan tunggul kayu. Setelah lahan cukup bersih, lahan diberi tiang pancang sebagai penanda jarak tanam dengan ukuran 2 x 3 m atau 3 x 3 m. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan, disela pertanaman lada nantinya akan dibuat bedengan untuk budidaya sayuran kangkung. Lakukan pencangkulan tanah disekitar tiang pancang dengan membuat gundukan tanah (Melayu: terumbok) berbentuk bulat setinggi ± 20 cm dengan diameter 40 – 50 cm. Setelah terumbok lada sudah siap, perlu ditaburi pupuk SP36 dan kapur masing-masinng sebanyak ± 100 gr / terumbok. Persiapan Bibit Bibit tanaman lada diambil dari tanaman induk yang sehat dengan panjang ruas 4 – 5 ruas. Pada ruas batang lada dipilih yang ditumbuhi akar yang menempel pada tiang panjat. Ranting disisakan 2 tangkai. Penanaman Terumbok lada yang sudah diber pupuk dasar, siap ditanam bibit tanaman lada. Terumbok dibongkar bagian atasnya, kemudian bibit tanaman lada dibaringkan menghadap arah matahari terbit. Timbun 3-4 ruas dari batang tanaman lada dengan tanah kemudian dipadatkan agar agregat tanah menempel kuat pada akar. Lakukan penyiraman sampai kondisi tanah lembab. Gambar 2. Tanaman lada yang sudah mulai tumbuh dan keluar dari naungan Bibit yang sudah ditanam harus diberi naungan yang berasal dari daun ilalang maupun sisa rumput agar tidak terkena sinar matahari secara langsung. Pemasangan Tiang Panjat Ukuran panjang tiang panjat dianjurkan sepanjang 3- 3, 5 m sehingga produktifitas pertanaman lada optimal antara 2 - 3 kg per tanaman. Pemasangan tiang panjat dilakukan apabila tanaman lada sudah berumur 4 – 6 bulan. Setelah tiang panjat dipasang, sulur tanaman lada diikat pada tiang panjat agar akar langsung menempel kuat pada tiang panjat. Pemupukan Pemupukan tanaman lada dilakukan 2 – 3 bulan sekali dengan memperhatikan kesuburan dari tanaman. Pemupukan dengan NPK berimbang sebanyak 100 gr per batang dengan cara ditabur diatas terumbok tanaman lada. Dosis dapat ditambah pada umur 2 tahun ke atas menjadi 200 – 300 gr / tanaman. Sangat dianjurkan pemupukan dilakukan saat kondisi tanah lembab. Selain pemupukan melalui akar, pemupukan dapat dilakukan melalui penyemprotan daun dengan frekuensi 1 bulan sekali. Pengapuran pada pertanaman lada dilakukan secara rutin setiap 6 bulan sekali dengan dosis ± 300 gr / tanaman. Selain menggunakan pupuk kimia, pemupukan dengan pupuk organik (dianjurkan kotoran ayam) sangat dianjurkan. Pemangkasan Pemangkasan batang tanaman lada dilakukan sebanyak 2 kali. Pemangkasan pertama saat umur 6 – 12 bulan atau tanaman setinggi setengah tiang panjat. Pemangkasan dilakukan pada musim penghujan sehingga pertumbuhan tunas akan lebih optimal. pemangkasan kedua dilakukan 6 bulan kemudian. Batang cabang tanaman lada diupayakan berjumlah 4-5 cabang yang menempel pada tiang panjat. Pembuangan sulur aerobik (Melayu: sulur) dilakukan secara rutin saat pemeliharaan lainnya dilakukan. Pengendalian Hama dan Penyakit Hama yang sering menyerang tanaman lada pada masa vegetatif antara lain penggerek batang yang merupakan ulat dari kupu malam, dan belalang kayu. Pengendalian dapat digunakan pestisida berbahan aktif karbofuran untuk penggerek batang maupun penyemprotan insektisida kontak untuk maupun sistemik untuk kupu-kupu malam dan belalang. Bahan aktif yang bisa dipilih antara lain firpronil, sipermetrin, lamda silakhotrin dll. Hama walang sangit dan kepik penghisap buah bisa menyerang tanaman lada yang sudah berbuah. Buah yang masih dalam fase pengisian dihisap cairanya sehingga buah hampa maupun gugur. Pengendalian dapat dilakukan dengan insektisida berbahan aktif yang bisa dipilih antara lain firpronil, sipermetrin, lamda silakhotrin dll. Penyakit yang sering menyerang tanaman lada antara lain busuk akar lada yang dapat dikendalikan dengan Trichoderma harzianum. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan fungisida. BUDIDAYA TANAMAN KANGKUNG Pembuatan Bedengan Bedengan untuk budidaya kangkung dapat dibuat disela pertanaman lada dengan ukuran lebar 80 – 100 cm menyesuaikan jarak tanam lada, sedangkan panjang bedengan menyesuaikan kondisi lahan. Tanah yang sudah dicangkul sedalam 15 – 20 cm ditaburi pupuk organik (akan lebih bagus dengan kotoran ayam) sebanyak 2-3 kg per meter persegi. Apabila diperlukan, bedengan diberi penambahan kapur sebanyak 200 gr per meter persegi. Gambar 3. Bedengan untuk budidaya tanaman sayuran disela tanaman lada Penanaman Sebelum melakukan penanaman, bedengan dirapikan dan diratakan pupuk organiknya. Penanaman bisa dengan cara larikan, disebar maupun ditugal. Apabila pecahan tanah hasil pencangkulan berukuran besar, maka boleh ditabur. Namun apabila hasil pengolahan tanah memiliki agregat tanah yang lembut, maka disarankan menggunakan cara tugal atau larikan. Jarak antar larikan atau lubang tugalan ± 10 cm. Kebutuhan benih untuk bedengan dengan ukuran 1 x 14 m ± 100 – 150 gr benih. Pemupukan Pemupukan tanaman kangkung dilakukan dengan pupuk dasar saat pembuatan bedengan, dan pupuk susulan dengan cara dikocor. Pupuk yang digunakan dianjurkan NPK yang mengandung Nitrogen tinggi, atau bahkan boleh hanya menggunakan pupuk tunggal nitrogen seperti urea. Selain itu, pupuk yang digunakan harus yang bersifat mudah larut dalam air. Pupuk yang akan digunakan dilarutkan dalam air dengan cara memasukkan 100 gr pupuk ke dalam 5 liter air. Larutan pupuk disiramkan 2-3 hari sekali sesuai kebutuhan tanaman. Gambar 4. Tanaman kangkung yang siap dipanen Penyiraman Penyiraman dilakukan setiap hari apabila musim kemarau. Apabila tanah mempunyai daya simpan air yang rendah, maka perlu dilakukan sehari 2 kali pada pagi dan sore hari. Panen Dalam kondisi optimal, tanaman kangkung sudah dapat dipanen pada umur 20 hst. Panen dilakukan dengan cara mencabut tanaman.