Loading...

UBINAN DEMPLOT BIOURIN DAN PEMUPUKAN BERIMBANG SUBAK PALAMERTA

UBINAN DEMPLOT BIOURIN DAN PEMUPUKAN BERIMBANG SUBAK PALAMERTA
Pengendalian hama dan penyakit tanaman padi masih terus menjadi tantangan bagi petani. Hama utama padi seperti wereng dan penggerek batang masih menjadi momok bagi petani Subak Palamerta. Penyakit Blas atau yang lebih dikenal dengan potong leher oleh kalangan petani menjadi penyakit yang cepat menyebar dan butuh biaya tinggi untuk mengendalikan. Pada MT2 Tahun 2022, penyuluh pertanian Desa Nusasari bersama dengan POPT kecamatan Melaya melakukan Demplot biourin yang kedua di Subak Palamerta, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya. Mengingat demplot biourin di MT1 telah berhasil dilakukan di lokasi yang sama dengan tanpa menggunakan pestisida sama sekali dan dengan hasil yang sangat memuaskan yaitu 9,6 ton/ha untuk varietas Ciherang sedangkan demplot kontrol hanya mencapai 7 ton/ha dengan varietas yang sama, kali ini PPL Desa Nusasari dan POPT kecamatan Melaya melakukan penambahan teknologi yaitu dengan pemupukan berimbang dan varietas yang digunakan adalah Mapan P05. MT2 atau musim tanam kedua menanam padi sebenarnya adalah tantangan untuk melakukan demplot biourin (yang sebelumnya tanpa pestisida sama sekali). Hal ini dikarenakan serangan hama dan Penyakit di MT2 umumnya lebih tinggi daripada MT1. Penanaman padi yang tanpa jeda menyebabkan tidak terputusnya siklus hidup hama dan penyakit tanaman di lokasi tersebut. Meskipun demikian PPL Desa Nusasari dan POPT Kecamatan Melaya melanjutkan Demplot Biourin di MT2 ini dengan harapan Biourin tetap bisa menjadi alternatif pestisida yang ramah lingkungan, murah, dan efektif mengendalikan hama tanaman padi. Penanaman padi Demplot Biourin dan Pemupukan Berimbang ini dilakukan pada tanggal 29 Mei 2022 dan di ubin pada tanggal 9 September 2022. Pada saat ubinan seluruh tim BPP Melaya turut hadir dan hasilnya disosialisaikan kepada anggota Subak Palamerta. Hasil ubinan demplot biourin dan pemupukan berimbang pada MT2 ini berhasil mencapai 8,1 ton per ha dengan perbandingan di kontrol yang tanpa menggunakan aplikasi biourin dan belum mengaplikasikan pemupukan berimbang hanya mencapai 5,6 ton/ha. Pada kali ini aplikasi biourin juga berhasil tanpa menggunakan pestisida kimia sama sekali dengan pengamatan yang rutin satu minggu sekali. Hal ini salah satunya dikarenakan penggunaan biourin tidak membunuh musuh alami seperti laba-laba, capung, dan Paederus yang berperan memangsa hama-hama perusak tanaman padi. Keberadaan musuh alami membantu mengendalikan hama tanaman padi. Apabila dilakukan penyemprotan pestisida kimia maka musuh alami juga akan mati.