Loading...

UJI ADAPTASI VARIETAS JAGUNG HYBRIDA TERHADAP AGROEKOSISTEM LAHAN KERING

UJI ADAPTASI VARIETAS JAGUNG HYBRIDA  TERHADAP  AGROEKOSISTEM LAHAN KERING
ABSTRAK Kajiterap tentang Uji Adaptasi Varietas Jagung Hybrida terhadap Agroekosistem Lahan Kering, bertujuan untuk mendapatkan informasi dan data tentang varietas jagung hybrida yang paling adaptif pada agroekosistem lahan kering diKabupaten Gunungkidul. Kajiterap dengan rancangan dasar RAL dengan variabel pengamatan tinggi batang berbunga, panjang daun tengah, jumlah daun perbatang, Panjang tongkol, berat1000 biji, jumlah baris pertongkol, jumlah tongkol perbatang,produksi biji jagung per ubinan( 2,5x2,5 m)dengan jumlah perlakuan sebanyak 5 yakni: 1).Varietas Bisi 2, 2).Varietas Asia Gold 77, 3).Varietas Pertiwi 3, 4).Varietas Peeoner 27, 5).Varietas NK.22. 6).Varietas Bisma ( kontrol ). Jumlah ulangan sebanyak 3 kali yang berlokasi di lahan petani Dukuh Kranggan, Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu Kabupaten Gunungkidul yang merupakan salah satu daerah sentra produksi jagung dan memiliki karakteristik agroekosistem lahan kering pada MK 2014. Analisis data dengan Anova bila terdapat beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Dunnet pada tingkat penyimpangan 5 %. Hasil analisis statistik terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman berbunga, panjang daun tengah, jumlah baris pertongkol dan jumlah tongkol per ubinan menunjukkan perbedaan yang nyata, perbedaan banyak dipengaruhi oleh sifat genetis dari masing-masing varietas dan daya adaptasi terhadap faktor lingkungan seperti pengairan dan ketersediaan unsur hara didalam tanah yang bersifat spesifik lokalita. Sedang variabel jumlah daun, panjang tongkol, berat 1000 biji, produksi biji jagung per ubinan menunjukkan perbedaan tidak nyata, hal ini dimungkinkan banyak dipengaruhi oleh selain sifat genetis juga dipengaruhi oleh beberapa komponen pertumbuhan seperti tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun ukuran tongkol, jumlah tongkol perbatang yang kesemuanya berbanding lurus dengan produktivitas tanaman jagung. Sedangkan uji beda dengan uji Dunnet menunjukkan jagung varietas Peeoner 27 dan NK.22. berbeda nyata dibanding varietas Bisma sebagai kontrol, namun demikian berdasarkan pengamatan ke 5 jagung hybrida tersebut masih menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi di banding varietas Bisma sebagai kontrol. Secara bertururut-turut produksi tertinggi dicapai oleh varietas Peeoner 27 sebanyak 15.194,67 kg PB, diikuti varietas NK.22 sebanyak 14.699 kg PB, varietas Pertiwi 3 sebanyak 14.311 kg PB, varietas Bisi 2 sebanyak 13.394,33 kg PB dan varietas Asia Gold 77 sebanyak 12.876 kg PB sedang varietas Bisma sebagai kontrol sebanyak 11.075 kg PB, yang berarti dengan penggunaan varietas hybrida dapat meningkatkan produktivitas sebesar 16,26 % - 37,20%.Dengan demikian kelima varietas jagung hybrida tersebut mempunyai daya adaptasi yang cukup bagus dengan agroekosistem yang bersifat spesifik lokalita, sehingga ke lima varietas jagung hybrida tersebut dapat menjadi alternatif pilihan untuk dikembangkan di Kabupaten Gunungkidul, namun demikian penentuan jenis varietas pilihan tergantung kepada tujuan budidayanya yakni untuk produksi biomasa, produksi biji jagung untuk kebutuhan pasar atau produksi biji jagung untuk pemutus siklus paceklik. Oleh karena itu disarankan jika tujuan budidaya untuk produksi biomasa alternatif pilihan dapat menggunakan jagung varietas NK.22 atau varietas Peeoner 27, jika tujuan budidaya untuk produksi biji jagung guna pemenuhan kebutuhan pasar dapat digunakan varietas Peeoner 27, NK.22 atau Pertiwi 3, dan jika tujuan budidaya jagung untuk kebutuhan pangan pemutus massa paceklik dapat menggunakan varietas NK.22 atau Bisma.(Trimulad,2016).