Loading...

Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda) dan Pengendaliannya

Ulat Grayak  (Spodoptera frugiperda)  dan Pengendaliannya
Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda) dan Pengendaliannya Ulat grayak (Spodoptera frugiperda) merupakan serangga ngengat asli daerah tropis yang sebelumnya hanya ditemukan pada pertanaman jagung di Amerika Serikat, Argentina dan Afrika. Pada awal tahun 2019 hama jagung ini ditemukan pertama kali menyerang pertanaman padi di Indonesia, yaitu di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat dan Lampung, Dan awal Juni 2019 ditemukan juga di Kec. Lintau Buo Kab. Tanah Datar. Hama ini mampu beradaptasi dengan cepat dan dikhawatirkan dapat merusak pertanaman jagung di wilayah yang menjadi sentra pertukaran barang dagang jagung untuk pakan ternak ayam ras di Kec. Lintau Buo yang merupakan pusat peternakan ayam ras petelur. Untuk itu, guna membantu petani di lapangan, diperlukan informasi dasar mengenai serangan hama ini serta langkah-langkah yang dilakukan secara efektif dan efisien, serta aman terhadap lingkungan. Berdasarkan nama, diketahui bahwa fase yang paling merusak dari hama jagung ini yaitu fase larva atau ulat. Hama ulat grayak merusak pertanaman jagung dengan cara menggerek daun tanaman jagung. Bahkan, pada kerusakan berat, kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung saja. Apabila kumpulan larva hama jagung ini mencapai kepadatan rata-rata populasi 0.2 – 0.8 larva per tanaman, dapat mengurangi produksi 5 – 20%. Tanaman jagung yang diserang oleh hama jagung ulat grayak kerusakannya ditandai dengan adanya bekas gesekan dari larva atau ulat yang menyisakan serbuk kasar seperti serbuk gergaji pada permukaan daun. Ulat ini merusak pada bagian pucuk atau titik tumbuh tanaman yang dapat mematikan tanaman dan pada serangan tinggi juga akan menyerang bagian tongkol jagung Salah satu hal penting yang perlu diketahui oleh petani di lapangan untuk mengelola dan mengendalikan hama ulat grayak ini adalah dengan melakukan pengamatan langsung di pertanaman jagung. Pengamatan bisa dilakukan satu kali dalam seminggu dilakukan secara intensif. Dari pengamatan diharapkan petani mendapatkan pengetahuan langsung sehingga dapat mengambil keputusan untuk pengendalian yang tepat dan efisien ketika serangan hama ulat grayak ini sangat tinggi. Sehingga produksi jagung dapat dipertahankan dengan lebih sedikit sumber daya yang terbuang, serta bersifat berkelanjutan. Hama ulat grayak ini dapat merusak tanaman jagung dalam waktu singkat, sehingga penting melakukan pencegahan dan pengendalian hama secara dini. Pencegahan dan pengendalian serangan ulat grayak ini dapat dilakukan melalui : penggunaan benih dan varietas yang memiliki daya kecambah baik dan bebas dari penyakit. Penanaman dilakukan secara serentak untuk menghindari ketersediaan inang. Kondisi tanah yang baik dan pemakaian pupuk anorganik yang berimbang serta sistim penanaman secara tumpang sari dengan tanaman lain yang tidak disukai oleh ulat grayak dan terakhir melakukan pengamatan yang teratur seminggu sekali untuk bisa mengambil keputusan yang tepat jika ditemui ada gejala serangan dilapangan. Dan untuk melakukan pencegahan petani dapat melakukan tindakan secara mekanis dengan cara membunuh larva dan telur yang ditemui dengan tangan serta penggunaan musuh alami kumbang kepik dan semut. Penulis Ir. Reita Roza, PP Nagari Buo, pada BPP Kec. Lintau Buo