Ulat Grayak (Spodoptera litura/ Prodenia litura ) Pada Tanaman Kedelai Ulat grayak dikenal dengan nama Spodoptera litura, Prodenia litura dan Army Worm. Hama ini dikenal polifag dan menyerang tanaman pada berbagai fase pertumbuhan. Ulat grayak aktif makan pada malam hari, meninggalkan epidermis atas dan tulang daun sehingga daun yang terserang dari jauh terlihat berwarna putih. Larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa bagian atas epidermis daun, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau. Selain pada daun, ulat dewasa makan polong muda dan tulang daun muda, sedangkan pada daun yang tua, tulang-tulangnya akan tersisa. Selain menyerang kedelai, ulat grayak juga menyerang jagung, kentang, tembakau, kacang hijau, bayam dan kubis. Tanda dan Gejala Serangan Gejala kerusakan tanaman akibat serangan ulat ini adalah daun tanaman habis (hanya tersisa tulang daun), polong muda rusak, atau seluruh tanaman rusak. Gejala yang nampak tergantung pada jenis tanaman yang diserang dan intensitas serangan larva muda serta larva dewasa. Kerusakan pada umumnya oleh larva muda yang makan secara bergerombol, meninggalkan tulang-tuang daun dan epidermis daun bagian atas. Dari jauh daun yang terserang tampak keputih- Larva dewasa dapat memakan tulang daun muda, sedang pada daun tua tulang-tulangnya tersisa. Selain merusak daun, larva juga memakan polong muda. Cara-Cara Pengendalian HPT Cara-Cara Budidaya Tanaman Atau Penggunaan Praktek Agronomi. Penggunaan Varietas resisten Rotasi tanaman. Penghancuran tanaman yang tidak berguna Pembajakan /pengolahan tanah dengan baik Keseragaman waktu tanam atau waktu panen Pemupukan Sanitasi dan Pengelolaan air Cara-Cara Mekanik Penghancuran dengan tangan b. Perangkap, alat penghisap. Cara-Cara Fisik Temperatur panas atau dingin Kelembaban Energi, perangkap lampu . Suara Cara-Cara Biologi Perlindungan dan pemantapan musuh alami Introduksi, pemanfaatan parasit dan predator. Agensia hayati ( Beauveria bassiana ) Cara-Cara Kimiawi Bahan penarik (attractants) Bahan penolak (repellents) Pestisida (insektisida, fungisida, bakterisida,dll). Potensi dan Peluang biopestisida Biopestisida adalah bahan organik yang terbuat dari virus, jamur, fungi, dan bahan nabati yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau mengendalikani organisme pengganggu tanaman. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah: Hama menjadi kebal (resisten). Peledakan hama baru (resurjensi). Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen. Terbunuhnya musuh alami. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia. Kecelakaan bagi pengguna. Pestisida organik memiliki beberapa fungsi, antara lain: Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa. Menghambat reproduksi serangga betina. Racun syaraf. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri. Bioinsektisida Bioinsektisida adalah bahan-bahan alami yang bersifat racun serta dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan, tingkah laku, perkembangbiakan, kesehatan, mempengaruhi hormon, penghambat makan, membuat mandul, sebagai pemikat, penolak, dan aktifitas lainnya yang dapat mempengaruhi organisme pengganggu tanaman. Penggunaan bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif penggunaan insektisida sintetik yang sering disebut pestisida nabati atau bioinsektisida Alternatif ini dianggap perlu karena kandungan residu insektisida sintetik yang dianggap dapat berakibat fatal, bukan hanya terhadap kesehatan tetapi juga merugikan perdagangan karena ditolaknya produk pertanian yang diekspor.(admin_Eliana Sulistyorini, Setyono, Marsahid)