Loading...

Upacara Wana Kerthi Di Desa Adat Bila Tua Kec.kubutambahan Kab.buleleng-bali

Upacara Wana Kerthi Di Desa Adat Bila Tua Kec.kubutambahan Kab.buleleng-bali
DESA ADAT BILA TUA KEC.KUBUTAMBAHAN KAB.BULELENG MELAKSANAKAN UPACARA WANA KERTHI 0eh : I Made Carma Masyarakat Adat Bila Tua Kec.Kubutambahan Kabupaten Buleleng-Bali,pada hari Sabtu Tgl 14 Mei 2022 merayakan Tumpek Wariga yang di pusatkan di Pura Subak Abian Sari Pertiwi Desa Bila. Setelah persembahyangan bersama ,Kelian Adat Bila Tua ( I Ketut Darmawan,S.Pd.) memberikan Dharma Wacana yang berkaitan dengan Intruksi Gubernur Bali Nomor 06 Tahun 2022 diantaranya ,Ada hal baru dalam perayaan Tumpek Wariga tahun 2022 yaitu : Kegiatan Niskala :Upacara dan persembahyangan Wana Kerthi,sembahyang bersama di tempat suci kehadapan Hyang Widi Wasa dalam manifestasi Dewa Sangkara (Hyang Tumuwuh) pada jam.09.00-10.00 Kegiatan Sakala (dipalemahan/di kebun masing-masing) menanam tanaman,memelihara tanaman seperti memupuk tanaman dan lain lain. Pada kesempatan tersebut Kelian Adat Bila Tua ( I Ketut Darmawan.S.PKeindahan pulau Dewata sudah tidak diragukan lagi oleh penduduk di kolong langit ini, bukan karena alamnya saja yang mempesona namun ada banyak sisi kehidupan warganya yang unik dan istimewa yang membuat Pulau Bali memiliki daya pikat yang sangat luar biasa. Banyak daerah lain di Indonesia yang memiliki keindahan alam yang mempesona mirip dengan Pulaui Bali, namun yang membedakan adalah di Bali memiliki banyak upacara adat dan keagamaan dan disokong oleh Budaya warganya yang ramah tamah yang membuat Bali tidak bisa tersaingi oleh daerah manapun di Indonesia. Salah satu upacara adat dan keagamaan di Bali adalah Tumpek Wariga. Tumpek wariga merupakan salah satu dari sekian banyaknya hari raya agama hindu yang berdasarkan pawukon dan sudah turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat Hindu di Bali. Berkaitan dengan hal tersebut Bpk Gubernur Bali melalui Instruksi Nomor 06 tanggal 16 April 2022 agar mayarakat melaksanakan perayaan Rahina Tumpek Wariga dengan upacara Wana Kerthi sebagai pelaksanaan Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi dalam Era Baru yang berkorelasi sebagai pelaksanaan Visi pembangunan Daerah “ Nangun Sat Kerthi Loka Bali “ .Berkaitan dengan hal tersebut d) menyampaikan bahwa dalam upakara tumpek wariga ada tambahan 5 macam bubur/bubuh sumsum kepada semua tumbuh-tumbuhan/sarwa tumuwuh (berdasarkan Tutur Lontar Bhagawan Agastyaprana) yaitu :a)bubur/bubuh beras putih dihaturkan kepada tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan umbi-umbian yang dapat dijadikan bubur, seperti ketela rambat, ketela pepohonan, talas, dan umbi lainnya; b).Bubur/bubuh berah merah dihaturkan kepada tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan biji-bijian, seperti padi, palawija, jagung godem, dan jagung gambah/Sorgum; c). Bubur/bubuh sumsum hijau ( kayu sugih) dihaturkan kepada pepohonan yang berbuah melalui penyerbukan bunga putik, seperti mangga, klengkeng, wani, kelapa, dan lainnya. d). Bubur/bubuh ketan (warna kuning) dihaturkan kepada pepohonan yang berbuah batang, seperti nangka, durian, langsat, kepundung, dan lainnya; e). Bubur/bubuh beras injin (beras hitam) dihaturkan kepada tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan bunga dan minyak harum. Lebih lanjut Kelian Adat Bila Tua (I Ketut Darmawan,S.Pd) dan Kelian Suabk Abian Sari Pertiwi (I Made Sarba) menghimbau semua warga di wewidangan Bila Tua setelah mengikuti persembahyangan bersama agar melanjutkan mengoleskan 5 macam bubur tersebut pada batang tanaman di kebunnya masing masing dilanjutkan dengan menanam tanaman/pepohonan serta pemeliharaan tanaman seperti menyiangi/membumbun dan memupuk tanaman. Perayaan Tumpek Wariga memberi pendidikan pada umat Hindu di Bali bahwa manusia sangat penting untuk melestarikan lingkungannya.Esensi dari perayaan tumpek wariga adalah selamatan kepada tumbuh-tumbuhan untuk mewujudkan dan menumbuhkan rasa kasih sayang kepada alam khususnya tumbuh-tumbuhan. Jika tumpek wariga dilaksanakan dengan semangat Veda dapat mencegah terjadinya pembabatan hutan secara liar (illegal logging) sehingga dapat menjaga kesetabilan air tanah, mencegah longsor,mencegah banjir dan mencegah bencana kekeringan. Umat diharapkan dapat memelihara lingkungan/alam dengan bersahabat agar alam memberikan kehidupan kepada umat manusia. Tuhan memberikan dan menitipkan bumi ini bukan untuk hidup hari ini saja,melainkan untuk kehidupan anak dan cucu kita dikemudian hari. Untuk itu konsep Tri Hita Karana : Keharmonisan Hubungan manusia dengan Tuhan (sang Pencipta),Keharmonisan Manusia dengan manusia dan Keharmonisan Manusia dengan lingkungannya. Ketiga keseimbangan tersebut harus dijaga agar tetap harmonis dan lestari. Manusia sangat tergantung pada alam semesta khususnya tumbuh-tumbuhan,oleh karena itu manusia sebagai mahluk yang percaya pada Tuhan sebagai Sang Pencipta alam ini patut bersyukur. Bersyukur berupa melaksanakan perayaan Tumpek Wariga untuk terus dilaksanakan dan dilestarikan sebagai ungkapan terima kasih kepada tumbuh-tumbuhan karena tanpa tumbuh-tumbuhan manusia tidak bisa hidup di atas bumi ini. Dengan perayaan Tumpek Wariga mari kita budayakan menanam dan memelihara pohon atau tanaman guna menjaga kelestarian alam semesta.Astungkara.