Loading...

UPAYA MENGATASI KEKERINGAN AGRONOMIS PADA BUDIDAYA PADI

UPAYA MENGATASI KEKERINGAN AGRONOMIS  PADA BUDIDAYA PADI
Berdasarkan analisis iklim 30 tahun terakhir menunjukkan bahwa, ada kecenderungan terbentuknya pola iklim baru yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Dampak terjadinya perubahan iklim terhadap sektor pertanian adalah bergesernya awal musim kemarau yang menyebabkan berubahnya pola tanam karena adanya kekeringan. Dampak dari elnino salah satunya adalah fenomena kekeringan yang panjang. Musim kemarau yang datang lebih cepat di tengah musim tanam akan menyebabkan kekeringan agronomis yang berdampak langsung terhadap petani. Dampak terjadinya kekeringan antara lain: 1) produksi tanaman turun/rendah/puso bahkan menyebabkan tanaman mati sehingga merugikan petani; 2) Karena produksi rendah secara riil mengalami kerugian material maupun finansial yang besar dan bila terjadi secara luas, akan mengancam ketahanan pangan nasional; 3) menyebabkan terganggunya hidrologis lingkungan yang berakibat terjadinya kekurangan air pada musim kemarau.Kekeringan perlu dikelola dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: 1) terus meningkatnya luas sawah yang terkena kekeringan sehingga berdampak pada penurunan produksi sampai gagal panen; 2) terjadinya kekeringan pada tahun yang sama saat terjadi anomali iklim maupun kondisi iklim normal; 3) periode ulang anomali iklim cenderung acak sehingga sulit untuk dilakukan adaptasi; 4) kekeringan berulang pada tahun yang sama di lokasi yang sama; 5) dampak anomali iklim bervariasi antara wilayah; 6) kekeringan hanya dapat diturunkan besarannya dan tidak dapat dihilangkan. Dengan pertimbangan tersebut sehingga diperlukan pengelolaan terencana dengan semua pemangku kepentingan.Salah satu upaya menjawab dari tantangan fenomena iklim tersebut, Kementerian Pertanian dalam hal ini Balitbang Pertanian mengupayakan varietas padi yang mampu tumbuh baik di sawah irigasi maupun saat kering. Atau juga jenis padi tanah kering yang mampu beradaptasi di sawah irigasi. Jenis padi itulah yang selama ini dikenal dengan nama “ padi amfibi “. Balitbang pertanian merilis 12 varietas unggul padi yang toleran kekeringan dan genangan atau padi amfibi tersebut. Yaitu Limboto, Batutegi, Towuti, Situ Patengganng, Situ Bagendit, Inpari 10 Laeya, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7, Inpago 8, Inpago 9. Ke-12 varietas unggul amfib ini sudah diadopsi petani sejak 2009-2014.Untuk Situ Bagendit dan beberapa Inpago yang merupakan varietas padi gogo atau lahan kering, misalnya, juga mampu beradaptasi baik pada kondisi tergenang pada lahan sawah. Sebaliknya, Inpari 10 Laeya yang merupakan padi sawah irigasi, mampu beradaptasi baik pada kondisi kekeringan di lahan sawah serta lahan tadah hujan dan gogo.Selain itu pola tanam menggunakan metode SRI yang hemat air juga perlu untuk di adaptasikan kepada petani. Tanaman padi sawah berdasarkan praktek SRI ternyata bukan tanaman air tetapi dalam pertumbuhan membutuhkan air, dengan tujuan menyediakan oxygen lebih banyak di dalam tanah, kemudian tidak tergenang akar akan tumbuh dengan subur dan besar, maka tanaman dapat menyerap nutrisi/makanan sebanyak-banyaknya. Secara umum manfaat dari budidaya metode SRI dapat menghemat air (tidak digenang), Kebutuhan air hanya 20-30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional.Namun demikian proses adaptasi petani terhadap teknologi baru juga tidak mudah. Adaptasi merupakan upaya penyesuaian teknologi, manajemen dan kebijakan di sektor pertanian dengan kebiasaan petani yang sudah bertahun – tahun terbentuk. Program adaptasi bisa difokuskan pada aplikasi teknologi adaptif, terutama pada tanaman pangan, seperti penyesuaian pola tanam, penggunaan varietas unggul adaptif terhadap kekeringan, genangan/banjir, salinitas dan umur genjah, serta penganekaragaman pertanian, teknologi pengelolaan lahan, pupuk, air, diversifikasi pangan dan lain-lain. Secara kelembagaan program ini diarahkan untuk pengembangan sistem informasi seperti sekolah lapang iklim, sistem penyuluhan dan kelompok kerja (pokja) variabilitas dan perubahan iklim sub sektor pertanian serta pengembangan sistem asuransi pertanian akibat resiko iklim (crop weather insurance).Teknologi adaptasi yang telah dan akan terus dikembangkan dalam menghadapi perubahan iklim di sektor pertanian adalah : Kalender Tanam (pola tanam berdasarkan pola curah hujan dan ketersediaan air irigasi), Varietas Unggul Baru yang adaptif (VUB tahan kering dan umur genjah dan VUB tahan genangan), teknologi pengelolaan sumber daya air (teknologi identifikasi potensi ketersediaan air, teknologi panen hujan dan aliran permukaan, teknologi prediksi curah hujan dan teknologi irigasi) serta teknologi pengelolaan sumber daya lahan/tanah seperti pemupukan. Diharapkan upaya – upaya tersebut mampu mengurangi dampak perubahan iklim terhadap produksi tanaman pangan di indonesia.Sumber :- Majalah Sinar Tani- http://www.mdmc.or.id/petabencana/index.php/potensi-dan-analisa/45-penyebab-kekeringan-dan-upaya-penanggulangannya- http://bakorluh.ntbprov.go.id/berita-229-upaya-mengatasi-dampak-perubahan-iklim-di-sektor-pertanian.html