Loading...

Upaya Menjaga Mutu Lada Putih

Upaya Menjaga Mutu Lada Putih
Upaya Menjaga Mutu Lada Putih Tanaman Lada merupakan salah satu tanaman komoditas perkebunan yang banyak ditanam oleh masyarakat Indonesia. Tanaman Lada (Piper ningrum L.) merupakan tanaman rempah. Indonesia sebagai salah satu Negara penghasil Lada sekaligus Negara pengekspor Lada kedua terbesar di dunia setelah Vietnam. Budidaya Lada diusahakan sebagai salah satu sumber pendapatan petani serta komoditas ekspor Negara Indonesia. Tanaman Lada banyak ditemukan dalam bentuk perkebunan rakyat. Petani mengembankan Lada sebagai tanaman rempah maupun obat. Lada merupakan salah satu rempah yang akan terus dibutuhkan oleh semua orang. Komoditas ini pun menguntungkan semua aspek masyarakat, dari petani, penjual, hingga negara yang memperoleh devisa dari kegiatan ekspor buah lada. Ada dua jenis lada yang dihasilkan petani kita, yakni lada hitam dan lada putih. Lada yang dihasilkan negara kita dikenal dengan dua jenis, yaitu lada hitam dan lada putih. Keduanya sebenarnya sama, hanya saja waktu pemanenannya berbeda. Lada hitam dipanen saat buah belum masak (masih hijau), sedangkan lada putih dipanen saat buah ladanya sudah masak. Di Indonesia sentra penanaman lada terletak pada propinsi Bangka Belitung, Lampung, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Timur. Tanaman Lada sebagai komoditi ekspor dan sebagai sumber devisa. Lada diyakini berkhasiat meringankan gejala masuk angin, gejala demam, reatik, mencegah impotensi, mencegah dan mengatasi sakit lambung, mengatasi hernia, panas dalam, asam urat. Buah lada juga dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai bumbu masakan. Namun, menurut para importir Eropa, mutu lada putih yang dihasilkan di tingkat petani cenderung rendah atau belum memenuhi mutu syarat dari negara importir. Untuk dapat meningkatkan penjualan lada, mutu harus dijaga sebaik mungkin sehingga syarat-syarat yang diberikan oleh negara importir harus dapat dipenuhi sebaik mungkin. Banyak hal yang dapat menurunkan kualitas lada sehingga tidak memenuhi persyaratan untuk diekspor. Peluang ini dapat hilang digantikan oleh negara lain. Salah satu penyebab turunnya mutu lada disebabkan oleh tingginya kadar kotoran dan kontaminasi mikroorganisme dari lada putih yang dihasilkan petani. Kondisi tersebut menyebabkan pangsa pasar lada Indonesia semakin terdesak oleh produsen-produsen baru yang tidak hanya menawarkan volume yang lebih besar, tetapi juga mutu yang lebih tinggi. Mutu Lada Ditingkat Petani Saat ini lada diproduksi sebagian besar dalam perkebunan rakyat. Daerah penghasil lada putih di Propinsi Bangka Belitung harus dapat meningkatkan mutu lada putih diwilayahnya. Saat ini, pengolahan lada yang dilakukan petani masih dilakukan dengan cara tradisional. Cara tradisional belum melalui proses pengolahan yang efisien, kurang memperhatikan kebersihan dan menjaga mutu lada yang dihasilkan. Cara tradisional yang dilakukan petani dalam melakukan perontokan buah lada dengan cara diinjak-injak serta cara penjemuran yang sangat sederhana memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh debu, kotoran binatang peliharaan, maupun mikroorganisme. Tempat perendaman, kualitas air yang kurang memadai, dan waktu perendaman yang terlalu lama selain menyebabkan kontaminasi mikroorganisme dan bau busuk pada lada putih yang dihasilkan, juga menyebabkan aroma khas lada putih yang kurang tajam karena hilangnya sebagian minyak atsiri. Inovasi Teknologi Meningkatkan Mutu Lada Untuk mendapatkan produk lada yang sesuai dengan keinginan pasar, proses mekanis tersebut perlu dikombinasikan dengan perlakuan lain. Mutu lada akan lebih baik jika menggunakan teknologi pengolahan yang telah diperbaiki yaitu pemisahan buah dari tangkai menggunakan alat perontok, diikuti oleh perendaman buah lada selama tujuh hari dengan penggantian air setiap dua hari mulai pada hari ketiga. Tetapi, lama perendaman bergantung dari sifat kulit buah lada di setiap tempat. Pada pengolahan lada putih diperlukan perlakuan perendaman dengan antioksidan setelah proses pengupasan untuk menghindari perubahan warna menjadi coklat selama pengolahan. Perendaman butiran lada dalam asam sitrat 2% setelah proses pengupasan dapat menghasilkan lada putih dengan warna yang mirip dengan lada putih tradisional. Pemisahan kulit buah lada dilakukan menggunakan alat pengupas. Pengeringan lada bisa menggunakan sinar matahari, tetapi perlu dipastikan tempat penjemuran dan media penjemuran bersih dan bebas dari kontaminan, baik bahan kimia maupun jamur atau bakteri. Usahakan tempat penjemuran tidak akan jauh dari peternakan, yang memungkinkan kontaminan dengan mikroba maupun kotoran hewan, baik hewan ternak maupun hewan peliharaan. Selain menjemur langsung, lada juga bisa dikeringkan menggunakan alat pengering mekanis pada suhu 45o-60oC. Nilai Tambah Lada Putih Peluang yang sangat terbuka untuk ekspor lada ke negara-negara internasional harus dapat dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan komoditas lada. Penggunaan inovasi teknologi harus dapat diwujudkan agar petani tidak kembali pada cara tradisional. Pihak-pihak terkait harus selalu memberikan dorongan produksi, membimbing petani, mengawasi mutu produk lada yang dihasilkan petani sehingga mutu lada dapat memenuhi standar internasional dan memberikan kesejahteraan pada petani lada yang memproduksi. Penulis: Miskat Ramdhani – Penyuluh Pertanian BBP2TP