Sistem tanam Tumpang Sari antar komoditas pangan telah banyak dipraktekan petani, namun hasilnya masih rendah karena jarak tanam yang tidak diatur, serta kombinasi tanaman tidak tepat dan tidak saling komplementer. Bila komposisi tanaman dan jarak tanam ditata dengan tepat maka hasil dari kombinasi tanaman per satuan luas lebih tinggi dari sistem monokultur. Hal ini dapat menjadi solusi dan terobosan dalam pencapaian swasembada pangan. Tumpang Sari adalah bentuk pola tanam yang membudidayakan lebih dari satu jenis tanaman dalam satuan waktu tertentu. Tumpang Sari ini merupakan suatu upaya dari program intensifikasi pertanian dengan tujuan untuk memperoleh hasil produksi yang optimal, dan menjaga kesuburan tanah. Tumpangsari dilakukan sebagai terobosan baru pada wilayah yang secara nisbi mengalami pelandaian perluasan areal tanam. Pada umumnya suatu hamparan lahan digunakan untuk sistem monokultur, baik pada musim penghujan maupun musim kemarau tetapi dengan rekayasa sistem tanam berupa pola tumpang sari pada wilayah tertentu dapat mengoptimalkan penggunaan lahan dan air sehingga produktivitas lahan meningkat. Kunci utama tumpangsari padi gogo dan kedelai adalah penambahan populasi dan penggunaan benih berkualitas. Dengan menggunakan konfigurasi jarak tanam yang tepat, 1 hektar lahan dapat menghasilkan 1 hektar padi dan 1 hektar kedelai. Penanaman tumpangsari juga dapat meningkatkan kesuburan tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk. Pendekatan tumpangsari dapat mengeliminasi persaingan lahan antar komoditas dan juga dapat mengoptimalkan produksi padi tanpa tergantung musim. Lahan sawah beririgasi dapat berproduksi maksimal, dan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) rendah, serta biaya produksi dapat ditekan. Menurut Pujiwati (2004) produktivitas tumpang sari padi dan kacang-kacangan lebih tinggi dibandingkan dengan monokultur. Tumpang sari padi dan kedelai dapat diterapkan karena kedua tanaman ini mempunyai efek komplementer. Padi membutuhkan N dalam jumlah cukup banyak untuk pertumbuhan dan perkembangannya, sedangkan kedelai dapat memfiksasi N udara dalam jumlah banyak melalui bintil akar yang terbentuk. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sistem budidaya tumpangsari padi gogo dan kedelai adalah sebagai berikut: a). Penggunaan Lahan Tumpangsari padi gogo dan kedelai dapat dilakukan di lahan sawah irigasi pada penanaman akhir musim hujan dengan populasi rapat; Lahan rawa setelah penanaman padi yang pertama; lahan sawah tadah hujan untuk penanaman pada awal musim hujan dengan populasi rapat; lahan kering untuk penanaman pada awal musim hujan. Penggunaan lahan kering dapat menggunakan lahan hutan Perhutani, Inhutani, hutan tanaman industri, hutan rakyat dan Perhutanan Sosial, lahan milik perorangan, milik swasta, Perguruan Tinggi, Sekolah, Yayasan, Pesantren, Gereja, Koperasi, Lembaga masyarakat atau kelompok masyarakat lainnya, serta lahan pekarangan milik masyarakat. b). Pengolahan Tanah. Untuk lahan sawah pengolahan olah tanah minimum dan tanpa olah tanah (TOT) olah tanah minimum dilakukan setelah panen padi sawah dengan cukup membersihkan lahan dari tunggul jerami dan rumput. Selanjutnya dibuat alur bajak untuk tanaman dan saluran drainase keliling lahan juga disiapkan. Pengolahan tanah di lahan kering dilakukan sebelum turun hujan dan atau paling lambat pada saat hujan pertama dengan cangkul atau garpu. Pada daerah dengan kondisi tanah ringan, pengolahan tanah cukup dengan pembajakan 1 kali dan diratakan dengan garpu satu kali atau menyesuaikan dengan kondisi lapangan. c). Penanaman Penanaman padi gogo dapat dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan penanaman kedelai atau akan lebih baik bila dilakukan penanaman padi lebih awal sekitar 2 (dua) minggu sebelum penanaman kedelai. Penanaman benih padi gogo menggunakan tugal dengan jarak tanam padi gogo adalah 20 cm (antar barisan) x 10 cm (dalam barisan), sedangkan jarak tanam kedelai 30 cm (antar barisan) x 15 cm (dalam barisan). Jarak antara blok padi atau kedelai adalah 30 cm disesuaikan dengan perhitungan populasi tanaman dalam satu hektar. Untuk mempermudahkan pada waktu pemanenan,lebar antar blok dapat disesuaikan dengan lebar combine harvester. Penanaman benih padi sebanyak 5-7 biji per lubang atau disesuaikan dengan kondisi setempat, sehingga diperlukan benih hingga 50 kg/ha (disesuaikan dengan kondisi pertanaman setempat). Penanaman benih kedelai sebanyak 2 benih per lubang, dengan penggunaan benih maksimum hingga 40 kg/ha (disesuaikan dengan kondisi pertanaman setempat. Populasi tanaman per hektar pada sistem Tumpang Sari ini menggunakan populasi rapat, dengan jumlah populasi kurang lebih 200.000 rumpun/ha untuk padi dan 200.000 batang/ha untuk kedelai d). Pemupukan. Pupuk yang digunakan sebaiknya dikombinasikan antara pupuk organik dan pupuk Dosis pupuk pada pertanaman tumpangsari padi gogo dan kedelai harus disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanahnya. Jenis pupuk anorganik yang diberikan berupa 150-200 kg/ha Urea, 75 kg/ha SP36 dan 50 kg/ha KCl atau disesuaikan dengan kebutuhannya. Menurut Susilo (2013) Jenis pupuk organik pupuk kandang ayam terbaik pada padi terutama fase vegetatif dan kedelai pada vegetatif dan generatif. Waktu aplikasi dan jenis pupuk organik berpengaruh nyata pada tinggi kedelai, waktu aplikasi terbaik dilakukan saat dua minggu sebelum tanam dengan jenis pupuk kandang ayam. e). Pengendalian Hama/Penyakit. Penyakit utama pada tumpangsari padi gogo dan kedelai adalah blas daun dan blas leher. Pemupukan nitrogen dalam takaran tinggi dan cuaca lembap, terutama musim hujan, menguntungkan bagi terjadinya infeksi. Untuk pengendalian secara kimiawi, gunakan fungisida (bila diperlukan) yang berbahan aktif metil triofanat atau fosfiden dan kasugamisin. Dengan tumpangsari padi gogo dan kedelai diharapkan terjadi optimalisasi penggunaan lahan dan air disertai peningkatan pendapatan petani dan pencapaian swasembada pangan nasional. Penulis: Sri Mulyani (PP BPPSDMP Kementan) Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2019. Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Serealia 2019, Jakarta. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2018. Petunjuk Pelaksanaan Tumpang Sari 2018, Jakarta. Pujiwati, H. 2004. Studi Penerapan Sistem Budidaya dan Cara Pengendalian Gulma Pada Pola Tumpang sari Kacang Hijau (Vigna radiate (L.) Wilczek) dan Padi (Oryza sativa L.). Institut Pertanian Bogor, Bogor. Susilo, E., P. 2013. Fakultas Pertanian Universitas Ratu Samban Arga Makmur, Bengkulu Utara. Tumpang Sari Padi Gogo Dan Kedelai Dengan Konsep Leisa: Limbah Pertanian Sebagai Pupuk Organik. JURNAL AGROQUA Vol. 11 No.2, Desember 2013.