Loading...

Upaya Peningkatan Produksi Jagung

Upaya Peningkatan Produksi Jagung
Indonesia memiliki peluang untuk berswasembada jagung dan bahkan berpeluang untuk menjadi pemasok jagung di pasar dunia mengingat makin meningkatnya permintaan dan makin menipisnya volume jagung di pasar internasional. Hal ini apabila ditinjau dari aspek sumber daya lahan dan ketersediaan teknologi, Upaya peningkatan produksi jagung di dalam negeri dapat ditempuh melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas. Perluasan areal dapat diarahkan pada lahan-lahan potensial seperti lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, dan lahan kering yang belum dimanfaatkan untuk pertanian. Berdasarkan penyebaran luas sawah dan tipe irigasinya, diperkirakan terdapat 457.163 ha yang potensial untuk peningkatan indeks pertanaman. Di luar Jawa terdapat 20.5 juta ha lahan kering yang dapat dikembangkan untuk usaha tani jagung. Selain melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas, upaya pengembangan jagung juga memerlukan peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, pengembangan unit usaha bersama, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infrastruktur, serta pengaturan tata niaga dan insentif usaha. Dalam kaitan ini diperlukan berbagai dukungan, termasuk dukungan kebijakan pemerintah. Dari aspek teknis, teknologi yang diperlukan untuk mendukung pengembangan jagung antara lain adalah varietas hibrida dan komposit yang lebih unggul (termasuk penggunaan bioteknologi), diantaranya memiliki sifat toleran keasaman tanah dan kekeringan, teknologi produksi benih sumber dan sistem perbenihannya, teknologi budidaya yang efisien dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT), dan teknologi pasca panen untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk. Investasi yang diperlukan untuk pengembangan jagung bergantung kepada pencapaian target yang diinginkan. Berkaitan dengan hal ini, ada dua skenario pengembangan jagung nasional dalam periode 2005 - 2025. 1) Skenario 1 atau skenario moderat, laju pertumbuhan produksi 4.24% per tahun. 2) Skenario 2 atau skenario optimis, volume ekspor meningkat menjadi 15%. Biaya investasi mencakup perluasan areal tanam pada lahan sawah, pembukaan lahan baru (lahan kering) dan infrastruktur, perbenihan, penyuluhan, penelitian, dan pengembangan. Proporsi investasi yang menjadi tanggung jawab masyarakat 4%, sedangkan yang bersumber dari pemerintah dan swasta masing-masing dengan proporsi 74% dan 22%. Kebijakan yang diperlukan dalam pengembangan jagung adalah kebijakan pengembangan insentif investasi, kelembagaan keuangan dan permodalan, peningkatan dukungan teknologi yang siap diterapkan di lapang, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kelembagaan agrobisnis, dukungan pemasaran, serta dukungan peraturan dan perundangan., Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com Sumber : 1) Pedoman Bertanam Jagung, Tim Karya Tani Mandiri, Seri Budi Daya Tanaman. 2010. 2) http://www.google.com