Tebu merupakan salah satu tanaman perkebunan potensial dan memiliki nilai ekonomi tinggi karena memiliki kandungan gula yang tinggi pada bagian batangnya. Peningkatan produksi tebu cukup sulit untuk dilakukan melalui pendekatan ekstensifikasi sehingga kemungkinan yang dapat dilakukan adalah melalui program intensifikasi perkebunan tebu. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung program intensifikasi adalah dengan penataan varietas dan pembibitan, pengaturan waktu tanam dan pengaturan kebutuhan air, pemupukan dan pengendalian OPT sehingga akan mendapatkan pertanaman tebu dengan produktivitas dan rendemen yang optimal. Penataan varietas dan pembibitan dilakukan pada proses seleksi dan adaptasi yang baik serta pembibitan yang terencana. Penataan varietas dimulai dari perbaikan mutu bibit dengan menggunakan varietas unggul, penyediaan bibit yang sehat dan kemurnian varietas. Kemurnian varietas akan menghasilkan tingkat pertumbuhan dan kemasakan yang seragam. Dengan pemakaian bibit yang murni dan bermutu akan mampu meningkatkan produksi sebesar 19%. Penamanan tebu juga harus memperhatikan waktu tanam. Waktu tanam yang tepat adalah salah satu kunci keberhasilan dalam budidaya tebu, untuk itu harus diupayakan agar tanam dilakukan tepat waktu. Terjadinya kelambatan saat tanam akan berdampak secara signifikan terhadap penurunan produktivitas. Tebu yang ditanam pada awal musim kemarau akan menunjukan tingkat produksi tebu dan hablur gula yang lebih tinggi dibandingkan tebu yang di tanam pada awal musim penghujan. Akan tetapi penanaman pada musim kemarau ini menuntut ketersediaan air irigasi yang cukup untuk mencukupi kebutuhan air pada awal pertumbuhan. Untuk itu pengaturan kebutuhan air juga perlu dilakukan. Tebu digolongkan ke dalam tanaman yang memerlukan air dalam jumlah banyak namun peka terhadap kondisi lingkungan tumbuh yang berdrainase jelek. Jumlah kebutuhan air sejalan dengan umur tanaman tebu sangat bervariasi tergantung fase pertumbuhan dan lingkungan tumbuhnya. Puncak kebutuhan air pada tanaman tebu terjadi pada fase pertumbuhan cepat yaitu saat tanaman berumur 3,5 sampai 9 bulan dengan kebutuhan air mencapai 0,75 – 0,85 cm air/hari. Selain masa tanam yang tepat dan air dapat dikendalikan, faktor lain yang menjamin keberhasilan budidaya tebu adalah pemupukan berimbang. Pemupukan berimbang dilakukan dimana tidak hanya unsur N,P, K saja yang diberikan akan tetapi semua unsur makro dan mikro lainnya juga harus diberikan dimana pemberian hara tersebut harus sesuai dengan takaran dan tergantung kepada ketersediaan hara di dalam tanah sehingga tidak terjadi kekahatan tanah. Ada 4 (empat) hara esensial mikro yang ditengarai mulai menjadi masalah kekahatan pada lahan pertanaman tebu yaitu Fe, Zn, Cu dan B. Besi (Fe) dibutuhkan dalam sintesis klorofil dan protein yang merupakan bahan yang terlibat dalam proses fotosintesis, maka akibat dari kekahatan Fe akan menurunkan kadar gula di dalam tebu. Hara Zn ikut berperan untuk mengaktifkan enzim sucrose synthetase juga akan menentukan kadar gula yang diperoleh. Kekahatan Zn juga akan menyebabkan penundaan saat kemasakan. Sedangkan unsur hara Cu dan B berhubungan dengan kadar gula dan keterlibatannya dalam proses metabolisme karbohidrat dan transportasi gula melalui membran. Serangan hama dan penyakit merupakan kendala dalam peningkatan produktivitas tebu. Hama penggerek pucuk dan batang merupakan hama yang sangat merugikan tanaman tebu. Hama ini akan menyerang tunas pada tanaman yang berumur 2 minggu hingga saat tebang, dimana pucuk yang terserang akan mati atau membentuk siwalan. Kerugian yang diakibatkan serangan penggerek berupa batang-batang yang mati tidak dapat digiling dan mengakibatkan penurunan bobot tebu atau rendemen. Kerugian gula akibat serangan hama ini ditentukan oleh jarak waktu antara saat penyerangan dan saat panen. Kehilangan rendemen yang diakibatkan dapat mencapai 50% jika menyerang tanaman tebu umur 4 – 5 bulan dan 4 – 15% pada tebu yang berumur 10 bulan. Selain hama terdapat juga penyakit tanaman tebu yang akan mengakibatkan penurunan produktivitas dan rendemen, yaitu penyakit pembuluh dan penyakit luka api. Penyakit pembuluh dan penyakit luka api akan tinggi serangannya pada tanaman yang ditanam dilahan kering dibandingkan tanaman yang di tanam di lahan sawah. Kerugian akan terjadi bila varietas yang digunakan adalah varietas yang peka, bibit sakit, tanaman keprasan dari kebun sakit dan bila terjadi infeksi pada awal pertumbuhan. Tekait dengan kerugian yang ditimbulkan oleh hama penyakit tersebut, pengendalian wajib dilakukan agar kerugian yang ditimbulkan tidak semakin besar. Pengendalian OPT yang tepat untuk upaya peningkatan produktivitas dan rendemen tebu dilakukan dengan pengendalian secara terpadu (PHT) dengan menekankan pengendalian secara hayati. Untuk itu dalam rangka mengamankan produktivitas tebu, pembenahan dan pengelolaan terkait dengan pengendalian hayati harus terus digalakkan sehingga parasit yang dikembangkan lebih efektif dan mampu mengamankan potensi produksi tebu pada tahun mendatang. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Anonim, 2008. Konsep Peningkatan Rendemen Untuk Mendukung Program Akselerasi Industri Gula Nasional. P3GI. Ahmad Dhiaul Khuluq dan Ruly Hamida, 2014. Peningkatan Produktivitas dan Rendemen Tebu Melalui Rekayasa Fisiologis Pertunasan. Perspektif 1 (13).