Tanaman Mete banyak dihasilkan petani Indonesia. Beberapa daerah memiliki sentra tanaman Mete terlebih di wilayah Indonesia Timur. Negara Indonesia juga selain produksi tanaman Mete juga Mengekspor dalam bentuk gelondong dan kacang. Bagian-bagian tanaman Mete banyak menghasilkan dan digunakan sebagai nilai tambah. Di Indonesia luas areal Jambu Mete terbagi 3 kelompok, yaitu: (1) petani kecil; (2) pemerintah; (3) sektor swasta. Pada tahun 2015, luas areal masing-masing adalah 521.723, pemerintah tidak ada,dan swasta 1.140 ha dengan produksi 137.496 ton, dan sektor swasta 84 ton (Ditjenbun, 2016). Beberapa upaya dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi buah Mete. Upaya-upaya yang dilakukan seperti peningkatan luas areal tanaman. Upaya ini bertujuan agar dapat meningkatkan produksi Mete. Namun upaya ini juga harus diiringi dengan peningkatan nilai tambah Mete. Diharapkan beberapa upaya ini dapat meningkatkan pendapatan petani Mete sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.Upaya membangun agroindustri menuju masyarakat industri yang berbasis pertanian, seperti peningkatan hasil olahan kacang mete, diversifikasi hasil, serta pengembangan produk dari hasil samping/limbah merupakan solusi untuk mewujudkan kesejahteraan hidup petani beserta keluarganya Upaya lainnya adalah menggunakan inovasi sehingga dapat memberikan nilai tambah. Kacang Mete bernilai tinggi bila utuh, tidak rusak. Buah Mete memiliki kulit yang keras serta terdapat minyak laka. Diperlukan kehati-hatian dalam memperoleh kacang Mete. Petani Mete menggunakan kacip agar dapat mengupas gelondong mete. Dengan bantuan alat ini diharapkan dapat menghasilkan kacang Mete yang utuh. Saat ini petani banyak yang merasa kesulitan dalam pengupasan gelondong. Petani mengupas mete seringkali tidak utuh dan sering terkena cairan minyak laka. Inovasi teknologi dengan kacip ceklok diharapkan dapat membuat kacang Mete tetap utuh. Faktor lain yang harus diperhatikan adalah kadar air kulit biji mete. Kadar air memberikan pengaruh menentukan kualitas hasil kupasan. Gelondong mete kering-panen sukar dikupas sehingga biji yang dihasilkan sering cacat. Hasil kupasan berkualitas baik dapat diperoleh dari gelondong mete yang telah dijemur 3 hari pada kondisi cahaya matahari cerah. Tahap selanjutnya untuk menghasilkan kacang mete yang utuh dan tidak rusak dengan kualitas yang baik diperlukan cara pengukusan sebelum di kupas. Tahap awal adalah dilakukan penyortiran didasarkan ukuran. Setelah disortir maka buah mete dapat dikelompokkan. Tahap berikutnya adalah dilakukan pengukusan dengan menggunakan dandang. Gelondong selanjutnya dikukus pada ketel (dandang) selama 3 menit pada air mendidih dan dibolak-balik supaya pengukusan merata. Pengukusan dilakukan selama 3 menit dengan menggunakan api yang kecil. Tujuan pengukusan dilakukan dalam waktu singkat adalah: (1) agar kulit ari tidak rusak dan mengalami perubahan warna serta rasa; (2) saat dilakukan pengkacipan minyak laka tidak banyak keluar serta kulit gelondong lebih lentur. Gelondong yang telah dikukus kemudian diangkat dan dihamparkan pada tampah selama satu malam agar dingin dan air tidak meresap ke dalam gelondong. Gelondong yang sudah dingin kemudian dikacip.Pengkacipan dilaksanakan dengan cara mengkacip, mencungkil dan membersihkan kacang. Kacang hasil pengkacipan dipisahkan pada tampah yang berbeda. Saat mengkacip,tidak semua kacang terkelupas. Untuk mencungkil kacang yang belum terkelupas pada saat dikacip,dapat menggunakan paku baja tahan karat yang dipipihkan. Minyak laka yang menempel pada kacip dibersihkan dengan sikat gigi yang sudah diolesi minyak kelapa. Untuk mengelupaskan kulit ari, kacang selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 80°C selama 2-4 jam.Hal lain yang perlu diperhatikan adalah: Kacip ceklok untuk mengupas gelondong tidak digunakan sepanjang tahun. Alat tersebut perlu dirawat, baik perawatan rutin harian atau mingguan serta perawatan alat untuk disimpan. Perawatan harian ditujukan untuk menjaga kebersihan alat dari getah kulit mete. Sumber: 1. Ditjenbun, 2016. Statistiik Perkebunan Indonesia 2015-2017.2. Lukman, W., 2005. Teknik Perbaikan Kulaitas Pengkacipan Buah Mete dengan Pengukusan. Buletin Teknis Pertanian Vol. 10, Nomor 1, tahun 2005. Penulis: Miskat Ramdhani, Penyuluh Pertanian BBP2TP