Banyak jenis hewan dapat dipelihara manusia untuk dijadikan ternak konsumsi. Salah satu diantaranya, yang sudah sangat familiar di masyarakat, adalah ayam. Keberadaan hewan jenis unggas ini sudah sangat populer dan mendominasi kebutuhan lauk pauk baik dalam keluarga maupun resto dan warung-warung kuliner. Namun terkadang, kita lupa kalau risiko pemeliharaan hewan ternak ini juga ada. Jika tidak diperhatikan dengan baik dapat membawa penyakit. Untuk itu perlu dijaga kesehatan ternaknya. Diantaranya melalui pemberian vaksin secara rutin.Vaksin adalah antigen untuk merangsang sistem kebal menghasilkan antibodi khusus terhadap penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri dan protozoa. Program vaksinasi & pengobatan merupakan keharusan dan pelaksanaannya tidak boleh ditawar-tawar lagi. Bahkan, jadwal pemberianya pun tidak boleh ditunda-tunda serta dosisnya tidak boleh dikurangi. Sebab, pemberian kekebalan adalah jalan satu-satunya agar ternak aman dari serangan berbagai macam penyakit. Peternak harus paham dan disiplin melaksanakannya.Pemberian vaksin pada ayam harus didasarkan pada beberapa pertimbangan, diantaranya: (1) prevalensi penyakit di daerah usaha ternak, (2) resiko akan timbulnya penyakit, (3) status kekebalan dari bibit induk, (4) biaya pembuatan dan pemberian vaksin, (5) intensitas dan konsekuensi dari reaksi vaksin yang kurang baik, (6) program penggantian ternak, (7) ketersediaan vaksin tertentu, (8) perbandingan untung rugi (B-C ratio) yang menghubungkan antara keuntungan akibat vaksinasi dan kerugian finansial akibat resiko infeksi dan timbulnya penyakit.Berbagai cara pemberian vaksin antara lain: (1) vaksnasi in ovo, yaitu pemberian vaksin ke dalam telur pada hari ke 18 masa inkubasi dengan menggunakan sistem inovoject yang dipatenkan, (2) vaksinasi semprot (spray) pasca penetasan dapat diberikan dalam ruang atau mesin penetasan secara massal dengan vaksin aerosol kepada anak ayam umur umur sehari (DOC), (3) suntikan subkutan, dengan vaksin hidup atau vaksin emulsi inaktif dapat diberikan kepada anak ayam, masa pemeliharaan (rearing) dan pada induk. Pada umumnya injeksi dilakukan secara intramuscular dada atau paha. Akan tetapi cara ini juga mempunyai kelemahan yaitu perlu waktu lama, ayam akan stress, jika pengkapan terlalu kasar, (4) pemberian vaksin melalui tetes mata dan tetes hidung, dapat dilakukan pada anak ayam di tempat penetasan atau pada masa brooding (masa penghangatan) di kandang peternak, (5) pemberian vaksin secara aerosol, dengan menggunakan penyemprot ransel atau listrik, untuk mendapatkan semprotan yang kasar, (6) pemberian vaksin melalui air minum, dapat dilakukan dengan biaya yang lebih murah, akan tetapi kurang efektif terhadap beberapa macam infeksi.Bentuk vaksin untuk unggas ada dua yaitu bentuk, hidup (aktif) dan mati. Vaksin hidup terdiri dari organisme-organisme hidup yang telah dimodifikasi (dilemahkan) sehingga mereka akan berkembang biak di dalam tubuh tanpa menyebabkan penyakit. Organisme-organisme dapat diberikan dengan cara yang bervariasi melalui air minum, penyemprotan, tetes mata atau untuk penyakit marek dengan injeksi intramuskular. Perkembangan imunitas lebih cepat dengan vaksin hidup daripada dengan vaksin mati. Vaksin mati terdiri atas organisme inaktif (mati) yang biasanya disuspensikan dalam emulsi lemak untuk administrasi dengan suntikan. Emulsi tersebut membantu meningkatkan peristiwa lebih panjang pengambilan organisme dari tempat okulasi. Perkembangan immunitas sempurna kira-kira satu bulan setelah injeksi vaksin mati. Metode vaksinasi yang ideal adalah memberi vaksin hidup pertama kali, yang berperan sebagai sistem immunitas primer, diikuti dengan injeksi vaksin mati, yang memberi level penyokong antibodi pelindung. Prinsip ini digunakan untuk proteksi serangan NewCastel Disease, infectionse bronchitis, dan infectionse bursal disease. Agar maksimal kesuksesannya maka vaksin harus diperlakukan dengan baik dan dijaga kualitasnya jangan sampai menurun. Hal ini dilakukan dengan cara : 1) harus disimpan pada suhu 2-8 °C; 2) Jangan sampai terkena sinar ultraviolet (sinar matahari secara langsung); 3) Jangan sampai tercemar bahan kimia seperti desinfektan, kaporit, detergent dan sebagainya. Pengenceran jangan berlebihan sewaktu digunakan; 4) Jangan sampai tercemar logam-logam berat seperti Zn (seng), Pb (timbal), dan Hg (air raksa).Yang tidak kalah penting dan perlu diperhatikan sebelum pelaksanaan vaksinasi adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keberhasilannya. Diantaranya adalah : 1)Ayam yang akan divaksin harus dalam keadaan sehat dan tidak dalam kondisi stress; 2) Keadaan nutrisi ayam cukup baik; 3) Keadaan sanitasi kandang dan lingkungan baik; 4) Pelaksanaan vaksinasi dalam waktu dan umur yang tepat; 5)Peralatan untuk vaksinasi dalam keadaan baik dan steril.Vaksinasi juga harus dilakukan secara hati-hati. Bila dilakukan dengan ceroboh dapat mengakibatkan kegagalan dan bahkan fatal. Misalnya : ayam menjadi stress sehingga kematian tinggi pasca vaksinasi, leher terpuntir (tortikolis), terjadinya abses (kebengkakan) pada leher, terjadi infeksi bakteri secara campuran dan ayam menjadi mengantuk serta kurang bergairah. (Inang Sariati) Sumber : 1. http://ketekdekil.blogspot.co.id/2011/02/vaksinasi-dan-pencegahan-penyakit-pada.html 2. https://www.facebook.com/notes/mas-holik/vaksin-untuk-ayam-kampung-buras-/10154559814335224/3. https://www.google.co.id/search?q=vaksinasi+pada+ayam&newwindow