Tanaman ubi kayu (Manihot esculentaGrantz.) berperan penting karena umbinya banyak mengandung karbohidrat. Selain itu, pucuk sampai akarnya juga hampir semuanya dapat dimanfaatkan; daun muda bisa disayur, daun tua untuk pakan ternak,batangnya untuk kayu bakar, dan akarnya yaitu umbi bisa dikonsumsi. Ubi kayu termasuk tanaman yang mampu beradaptasi pada kondisi tanah marginal dan iklim kering. Walaupun dikelola secara sederhana dengan sarana produksi minimal, tanaman tetap mampu memberikan hasil yang tinggi. Oleh karena itu, ubi kayu sering berperan sebagai tanaman alternatif dalam sistem usaha tani. Salah satu kendala dalam pengembangan ubi kayu adalah tidak tersedianya bibit yang bermutu tinggi pada saat tanam. Bibit ubi kayu bersifat bulky atau memerlukan ruangan yang luas, sehingga biaya penyimpanan dan pengangkutan lebih mahal dibanding benih berupa biji-bijian. Oleh karena sebagian besar petani bermodal lemah, maka untuk mendatangkan bibit unggul dari tempat lain jarang dilakukan. Bibit ubi kayu tidak mempunyai masa dormansi (istirahat) sehingga petani biasanya menggunakan setek dari bibit tanpa melalui penyimpanan atau langsung ditanam kembali setelah panen. Hal seperti ini biasanya dilakukan di daerah beriklim basah. Di daerah beriklim kering, ubi kayu umumnya dipanen pada musim kemarau dan bibitnya ditanam kembali pada musim hujan. Dengan demikian, bibit perlu disimpan terlebih dulu 3-4 bulan sampai musim hujan tiba.Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas bibit ubi kayu antara lain adalah penyimpanan yang kurang baik, kemarau yang terlalu lama sehingga bibit menjadi kering, sumber bibit, hama dan penyakit, umur tanaman, dan panjang setek. Pada kondisi persediaan bibit bermutu terbatas, perlu dilakukan penghematan bibit. Penggunaan setek 1, 2, dan 3mata tunas memberikan hasil dan pertumbuhan yang relatif tidak berbeda dibandingkan dengan penggunaan setek secara konvensional yang panjangnya 15-20 cm. VARIETAS UNGGUL • UJ-3, Tegak, tidak bercabang; produktivitas rata-rata 35-40 t/ha; warna kulit krem keputihan, warna kulit umbi dalam putih kemerahan, rasa pahit (kadar HCN > 100 ppm). Kadar pati 25-30 %. Umur panen 8-10 bulan. • UJ-5, Tidak bercabang; produktivitas rata-rata 38 t/ha; warna kulit dalam agak ungu, daging umbi putih, rasa pahit (kadar KCN > 100 ppm). Kadar pati 19-30 %. Agak tahan terhadap bakteri hawar (Cassava bacterial blight). Umur panen 9-10 bulan. • MALANG-4, Tidak bercabang.; produktivitas rata-rata 39,7 t/ha. Warna kulit luar umbi coklat, warna kulit dalam putih, daging umbi putih, rasa pahit (kadar HCN > 100 ppm) Kadar pati 25-32 %. Agak tahan terhadap hama tungau merah (Tetranichus sp.). Umur panen 9 bulan. • MALANG-6, Bercabang tinggi; produktivitas rata-rata 36,5 t/ha. Warna kulit umbi putih, warna kulit dalam agak kuning, daging umbi putih, rasa pahit (kadar HCN > 100 ppm). Kadar pati 25-32 %. Agak tahan hama tungau merah (Tetranichus sp.). Umur panen 9 bulan. • DARUL HIDAYAH, bercabang sangat ekstensif hingga cabang keempat; potensi hasil 10,2-10 t/ha, warna kulit umbi luar putih kecoklatan, warna kulit umbi dalam merah jambu, warna daging umbi putih, rasa kenyal seperti ketan (baik untuk pembuatan kripik), kadar HCN rendah (< 40 mg/kg metode asam pikrat), kadar pati 25-31,5 %. Umur panen 8-12 bulan. TEKNIK PERBANYAKAN BIBIT Bibit ubi kayu dipotong-potong menggunakan gergaji besi dengan ukuran 1, 2, dan 3 setek mata tunas. Pemotongan dilakukan dengan hati-hati agar titik tumbuh tidak terluka (Gambar 1). Selanjutnya disiapkan nampan yang sudah dialasi dengan kertas merang basah sebanyak 3-5 lapis. Bibit ubi kayu yang telah dipotong diletakkan atau disemai di atas nampan dengan jarak 4-5 cm. Posisi titik tumbuh berada di atas. Persemaian diusahakan tetap dalam keadaan basah. Bibit dipindahkan ke kebun setelah berumur 2-3 minggu, biasanya sesudah keluar tunas dan akar. Penanaman di kebun dilakukan dengan Jarak tanam yang digunakan sesuai rekomendasi yaitu 100 cm x 75 cm. Bibit ditanam pada lahan yang sudah diolah dan siap ditanami dengan posisi setek terkubur 50% ke dalam tanah untuk setek 1, 2, dan 3 mata tunas. Batang ubi kayu sebagai bibit mengandung bahan makanan cadangan berupa karbohidrat, air, dan lain-lain untuk keperluan metabolisme tumbuh. Bahan makanan tersebut akan menurun sejalan dengan waktu karena digunakan untuk pertumbuhan, baik pada saat di persemaian maupun setelah dipindah ke lapangan. Penurunan kadar bahan makanan setek selama di persemaian akan berpengaruh terhadap persentase kemampuan tumbuh. Setek yang pendek (1 atau 2 mata tunas) mempunyai persentase kemampuan tumbuh yang lebih kecil dibanding setek yang panjang (3 mata tunas dan setek 20 cm), karena semakin pendek setek, semakin sedikit kandungan cadangan makanan. Setek satu mata tunas lebih cepat mati dibanding setek 2 mata tunas, dan begitu seterusnya. Oleh karena itu, setek perlu segera dipindah ke lapangan. Terbatasnya cadangan bahan makanan akibat ukuran setek yang pendek atau jumlah mata tunas juga berpengaruh terhadap bobot bahan makanan berupa karbohidrat, air, dan lemak.Setek berukuran pendek dengan 1-2 mata tunas kurang mampu bertahan di lapangan setelah dipindah dari persemaian. Dengan demikian, ukuran setek berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan kemampuan untuk bertahan hidup. Namun, penggunaan setek pendek dengan 3 mata tunas lebih mudah dan lebih murah 33% dibanding setek konvensional. Selain itu, penggunaan setek pendek berpeluang juga untuk dikembangkan dalam program perbanyakan bibit ubi kayu karena mampu menghasilkan bibit lebih cepat dan lebih efisien 3,3-10 kali lipat dibandingkan dengan setek biasa atau konvensional. Penggunaan bibit dengan setek tiga mata tunas dapat menghemat bibit 75-80% dengan tingkat hasil ubi tidak berbeda nyata dibandingkan dengan cara biasa atau konvensional. 2 minggu untuk setek 1 mata tunas dan 2-4 minggu untuk setek 2-3 mata tunas. Persemaian yang melebihi waktu tersebut menyebabkan bibit banyak yang mati karena kehabisan bahan makanan. Penggunaan setek pendek (2-3 mata tunas) berpeluang untuk dikembangkan pada daerah sentra produksi yang persediaan bibit unggulnya sangat kurang, terutama di daerah dengan musim kering panjang. Dengan kondisi saat ini yang serba mahal dan kepemilikan lahan sempit, lahan tidur berpeluang untuk ditanami ubi kayu unggul dengan setek 2-3 mata tunas. Sundari, SST, Email:sunburase@yahoo.com Penulis Koordinator Subsektor Sumber : http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/bt072028.pdf http://agricenter.jogjaprov.go.id/index.php?action=generic_content.main&id_gc=31