Loading...

WIWIT (TRADISI MENJELANG PANEN PADI)

WIWIT (TRADISI MENJELANG PANEN PADI)
WIWIT (TRADISI MENJELANG PANEN PADI) Oleh : Siti Fatimah, A.Md BPP Kecamatan Jatirejo Istilah wiwit artinya memulai, tradisi wiwit adalah kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam mayarakat terutama keluarga petani, yang dilaksanakan menjelang panen atau di awal musim panen padi. Sejatinya wiwit bermakna ungkapan doa dan syukur atas limpahan hasil panen yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dari kaca mata yang berbeda, dari sisi sosiologis dalam prosesi wiwit terdapat interaksi sosial. Wiwit merupakan simbol hubungan yang harmonis sebagai wujud interaksi sosial antara para petani, serta hubungan keselarasan antara petani pemilik lahan dengan alam yang telah menyediakan dan mencukupi kebutuhan petani padi. Hal yang sama juga bisa dilihat dalam konteks orang Jawa memaknai tradisi wiwit sebagai wujud terimakasih dan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dipercaya memberikan kenikmatan berupa tanaman padi / beras, sehingga niat untuk memanjatkan wujud syukur atas limpahan nikmat panen padi yang sudah di depan mata tetap lurus, hanya untuk Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi wiwit saat ini di isi dengan kegiatan istighozah bersama dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dan penyuluhan ataupun pengumuman dari penyuluh, perangkat desa atau tokoh masyarakat dan juga sebagai tempat diskusi dalam berbudidaya tanaman padi. Kegiatan wiwit sendiri sudah banyak perubahan dalam ubarampe/ sesaji karena pengaruh zaman yang sudah berubah. Meskipun demikian intinya masih tetap sama yaitu adat wiwit dilaksakan sebagai rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Nilai nilai yang terkandung dalam tradisi wiwit Di sinilah muncul nilai nilai kesederhanaan dan kekeluargaan. Tidak ada pembedaan wadah dalam menyantap hidangan, tidak ada sekat mana itu pemilik sawah atau buruh tani, semua membaur. Menikmati rezeki pemberian Tuhan Yang Maha Esa dengan perantara pemilik sawah atau petani. Proses interaksi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa terjalin dan saling berkaitan satu sama lain. Pada sisi inilah terkandung local wisdom atau kearifan local dari Upacara Wiwit, yang pada intinya mengajarkan bahwa hasil panen tidak pantas dinikmati seorang diri. Bahwa kelimpahan sebaiknya juga dapat dinikmati oleh orang lain (tetangga). Kelimpahan (seperti panen padi) yang dinikmati sendirian bagi masyarakat Jawa masa lalu dianggap saru, tidak pantas. Tradisi wiwit ini sungguh menggambarkan wujud terima kasih dan wujud syukur petani terhadap segala nikmat, salah satunya padi yang menguning dan siap panen. Wujud syukur tersebut disampaikan melalui sedekah terhadap alam dan manusia. Proses berdoa sebelum memulai acara, berdoa sebelum makan, dan pembagian nasi kepada yang lain dimaknai bahwa segala sesuatunya, harus diiringi dengan usaha. Setelah berusaha, maka kita berdoa dan serahkan kepada Sang Pencipta. Tak lupa dengan manusia yang lain bahwa sejatinya apa yang Tuhan telah berikan kepada kita, ada milik/rezeki atau bagian orang lain yang membutuhkan. Wujud amalan berbagi rezeki melalui sedekah, tentu merupakan amalan yang lebih dari sekedar wujud pelestarian budaya saja. Di sinilah dari kaca mata budaya, melestarikan tradisi wiwit yang berkembang di Suku Jawa khususnya para petani penuh makna dan ternyata sejalan dengan nilai nilai religius. Tentunya jika diniatkan dan berdoa hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa Sumber Artikel : https://docplayer.info/30473512-wiwit-sebuah-tradisi-menjelang-panen-padi.html Sumber Gambar : Dokumentasi Kegiatan BPP Kecamatan Jatirejo